Bloody Wish : The Scythe Choker [1.2]

Title : Bloody Wish : The Scythe Choker [1.2]

Author : Boram.Onyu

Main Cast : Kim Kibum aka Key, Lee Jinki aka Onew

Support Cast : Other SHINee’s member

Genre : Fantasy, Friendship

Type/Length : Twoshot

Rating : General

Summary :

Memiliki impian bukanlah sebuah kesalahan. Bukanlah sebuah dosa jika kau berusaha untuk menggapainya dengan berjuang keras, meski seluruh orang mencacimu. Bahkan, demi impian ini, ada beberapa di antaranya yang sampai harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga agar bisa meraih mimpinya. Dan sayangnya, aku adalah salah satunya. Terjebak dalam keobsesianku, hingga melupakan semua logikaku hanya agar memuaskan batinku yang dipenuhi keegoisanku.

18 September 2011

^Key Side^

Harusnya minggu depan adalah hari ulang tahunku yang bahagia. Merayakan hari kelahiranku yang ke 21 (pake usia korea) bersama mereka, member Shinee yang sudah kuanggap keluargaku sendiri, keluarga besarku di SMent dan tentunya kedua orang tuaku.

Harusnya aku akan meniup lilin, memotong kue, dan membuka satu persatu hadiah yang kudapatkan dari fansku. Tapi semuanya hanyalah khayalanku. Aku akan menemui hari kematianku pada hari itu. Bila kujelaskan alasannya mengapa aku bisa tahu hari kematianku, yah aku tidak mengada-ada sama sekali. Bila kujelaskan pun, kalian mungkin tak akan percaya sama sekali. Semuanya dimulai hari itu, di hari ulang tahunku yang ke 16.

“ Sampai kapan kau mau jadi trainee disana?! Yang kutahu kau sama sekali tidak ada kemajuan! “

Aku hanya menunduk. Kue tart di depanku terlihat kabur. Bisa kurasakan mataku memanas, tapi bisa kutahan airnya agar tak membasahi pipiku. Aku adalah namja, dan menangis bukanlah gayaku.

“ Nampyun ah, ini hari ulang tahunnya Kibum. Jangan berkata sekasar itu pada anakmu. “

Appa hanya mendecak, kemudian ia melemparkan sepatu bolanya ke atas sofa sembarangan. Kurasakan tangan yang hangat dan kecil mengusap bahuku, lalu berpindah ke pipiku.

“ Saengilcukkae, Kibum ah. “

Senyumnya terlalu lembut, dengan matanya yang kecil persis dengan mataku.

“ Sebaiknya kau dengarkan ayahmu, lebih baik kau tinggalkan… “

Kugeser tangan eumma dari bahuku. Seketika emosiku membuncah. Kupikir eumma berbeda, tapi nyatanya sama saja dengan appa. Aku segera masuk ke kamarku, dan akhirnya jatuh terduduk bersandar di pintu.

“ Saengilcukkae hamnida, Saengilcukkae hamnida,saranghaneun nae saeng, Saengilcukkae hamnida. “

Dari remang-remang lampu terlihat Heera, kakak perempuanku memegang kue tart berukuran kecil. 2 lilin kecil tertancap manis di atas krim coklatnya.

Kini ia sudah berjongkok di depanku. Senyumnya membuat matanya membentuk bulan sabit.

“ Yaa! Tiup lilinnya, Key ah. “

Kutiup lilin sesuai dengan perintahnya. Kemudian ia menyimpan kue itu di meja. Dengan setengah berlari ia memeluk tubuhku.

“ Aaah, adikku sudah 17 tahun sekarang. Sudah dewasa, dan pastinya pikiranmu juga makin dewasa kan? “

Heera memberikan swink menggodanya padaku. Kemudian ia menciumi seluruh pipiku dengan liar.

“ Kalau ciuman begini saja, kau tidak menggunakan pikiran dewasamu itu kan? “

Heera memicingkan matanya padaku. Kedua tangannya masih memeluk leherku. Ck, ia benar-benar menggodaku sekarang. Maka kutindih tubuhnya di atas tempat tidurku, kulihat ia mengerdipkan matanya berkali-kali. Debaran jantungnya yang tak karuan membuatku setengah mati menahan tawaku. Kubisikkan di telinganya nada mesra.

“ Ya, aku memang sudah dewasa. Tapi, kalau kau yang datar begini, fantasiku tidak berkembang sama sekali. “

Ia mencubit perutku. Sakit memang, tapi aku sudah tak tahan dengan melihat wajahnya yang putih memerah.

“ KAU! “

Aku berlari sekuat yang kubisa, sebelum Heera akan kembali menyerbu dengan cubitannya. Jadilah kami berlarian di kamarku, dan pada akhirnya capek sendiri hingga menghempaskan tubuh masing-masing ke tempat tidurku.

“ Meski appa dan eumma menentangmu, aku akan selalu di sisimu, saeng. Hwaiting! Ah, kau mau kuberi jimat? “

Dahiku mengernyit. Ia tersenyum lembut lalu membuka kalung liontin bulan sabit dengan rantai warna coklat keemasan dari lehernya, lalu memasangkannya ke leherku.

“ Key! Key! “

Sebuah tangan terlihat melambai di depan mataku. Cepat aku sadar dari lamunanku, masa lalu yang selalu ingin kulupakan. Kupaksakan tersenyum.

“ Ulang tahunmu minggu depan, kira-kira kau mau kejutan yang bagaimana? Aow, appo! “

Onew hyung mengelus kepalanya yang habis dijitak Jonghyun. “ Kau mau cari mati hah?! Memukul hyung mu sendiri, tunggu sampai azabmu tiba! “

“ Habis hyung sendiri yang babo. Kalau ditanya duluan sama Key, mana ada namanya kejutan. “

Onew hyung sedikit membulatkan mulutnya, kemudian ia cengengesan hingga matanya membentuk setengah lingkaran.

“ Mian, tapi aku harus pergi dulu. “

#boram#

Nisan di depanku terlihat buram. Tentu, mataku sudah basah dengan air mata sedari tadi.

Kim Heera

September, 23th, 2007

Yah, noona ku meninggal sehari setelah ulang tahunku. Ia meninggal dalam pelukanku. Tubuhnya yang dingin terus membayangi benakku. Kugigit bibirku untuk menekan rasa sakit di dadaku. Tiba-tiba angin berhembus pelan, membuat tengkukku dingin.

Seketika tubuhku seperti dialiri listrik dengan kedua tangan dan kaki yang terasa terikat pada suatu rantai besi. Mataku mengerjap berkali-kali, hingga sebuah penampakan serba hitam muncul perlahan. Jubah hitam dengan tangan kirinya memegang sabit panjang di kedua sisinya berputar mengelilingiku. Kepalaku makin pening.

Kukerjapkan mataku lagi. Jubah hitam itu tak ada isinya sedikitpun. Ia lebih terlihat seperti sekantong udara kosong dalam kain hitam yang besar. Pemandangan mengerikan ini, sudah kali ketiga aku melihatnya. Kucoba hilangkan rasa takutku, yang ada malah ketakutan itu makin memeluk jiwaku, hingga yang kuinginkan hanyalah agar rohku segera dicabut dalam jasadku.

Kudengar para jubah hitam itu terkekeh. Salah satu di antaranya mencondongkan badannya ke arahku dengan sabitnya yang dihunuskan tepat menyentuh leherku. Sedikit digeser pun akan menyobek kulit leherku hingga ke tulangnya, melihat kilauan ujung sabitnya yang mengilat.

“ Feel scare Kim Kibum? “

Kutelan air liurku dengan paksa, setelah mendengar suaranya yang lebih mirip gesekan pintu yang engselnya sudah berkarat. Naluri kemanusiaan dari diriku membuatku mengangguk, jauh di bawah alam sadarku. Maka cepat, ia menghunuskan sabitnya hingga bisa kulihat tetesan darah yang menetes dari leherku. Mataku sampai berkunang dibuatnya. Bahkan air mataku mengalir sendiri tanpa perintah dari otakku. Baru kali ini aku merasakan rasa sakit sebesar ini.

“ Tak kusangka kau lebih lemah dari Kim Heera, heh? “

Jubah hitam itu kembali terkekeh. Kuludahi jubah hitam di depanku, meski kutahu takkan memberikan efek apapun padanya. Tapi mungkin akan membuatnya makin kesal. Bisa kurasakan dari sabitannya yang diperdalam.

“ Nama kakakku tak pantas disebut oleh makhluk menjijikkan sepertimu. “

Sabit itu terlepas dari leherku. Napasku tersengal. Aku tahu, sabitannya tadi sedikit menggores tenggorokanku.

“ Lalu apa motifmu, bekerja sama denganku untuk menjadi penyanyi seperti yang kau inginkan? “

Aku tercekat. Aku juga tak bisa menyangkal, kalau dulu aku sempat membuat perjanjian konyol dengannya. Tepat di hari ulang tahunku yang k-16 saat itu.

“ Kau tidak ingat kalau harapan bodohmu itu sudah mengorbankan kakakmu? “

*flashback on

Gelap dan sesak. Aku serasa berada di ruang yang sangat sempit dan tanpa cahaya. Kuraba di sekitarku, Heera tertidur pulas. Kudekatkan tubuhku mengarahnya, dan tiba-tiba secercah cahaya kecil menerangi ruang ini. Tapi tidak seperti yang kubayangkan. Seharusnya aku berada di kamarku. Tapi saat ini yang kulihat aku sedang berada di sebuah kursi dengan tangan yang terikat pada sandaran tangan kursi itu, dan kakiku yang terikat erat pada kaki kursi.

Tak berselang beberapa detik tadi aku masih memeluk noona ku, kini Heera sudah menghilang dari pandanganku. Sebuah jubah hitam melayang di depanku. Totally scaring! Hal seperti ini biasanya hanya terlihat di film horor.

“ Apa kau punya impian? “

Dahiku mengernyit. Dalam hatiku merutuki si bodoh di depanku yang terlihat menyeramkan. Tentu saja ada, semua orang di dunia ini pasti punya impian.

“ I can read your mind, Kibum. “

Jantungku berdebar. Auranya kini makin mencekam.

“ Aku bisa mengabulkan keiginanmu, Kibum. Kau hanya perlu menjawabku ‘ya’ atau ‘tidak’. Apa kau ingin menjadi penyanyi terkenal? “

Deg! Bayangan appa yang memarahiku tadi, umma yang menurunkan semangatku, dan Heera yang selalu tersenyum ceria padaku bergantian muncul di pikiranku.

“ Apa kau menginginkannya? “

Kemarahan appa, kesinisannya saat aku pulang dari training SM, membuatku mengangguk tanpa ragu. Seketika tanganku terangkat ke atas. Sebuah sabit besar dan panjang menggores telapak tanganku, membuat darah merembes ke sabit itu.

*flashback off

“ Kau sudah mengingatnya bukan? “

Aku hanya diam, tapi segera tubuhku seperti tersedot ke sebuah alam lain. Alam yang sangat kukenal, yang telah kupijak dan akan menghabiskan hampir 21 tahun hidupku di dunia ini jika saja umurku bisa berlanjut lebih panjang.

#boram#

^Author side^

Key membuka matanya pelan. Ruangan ini, ia mengenalnya. Ruangan tidur bersama di dorm SHINee. Tepukan di pipinya membuatnya terbangun dari mimpi buruknya. Senyum Jonghyun segera mengembang setelah melihat Key sudah bangun, setelah seharian terjaga di samping pria yang sudah dianggapnya seorang adik. Onew yang sedari tadi mondar-mandir menghampirinya.

“ Gwenchanayo? “

Key mengangguk sekilas, mendengar pertanyan dari Onew barusan.

“ Apa yang terjadi padamu? Kau terbaring di depan nisan seseorang, dengan wajah yang sangat pucat. “

Key membuang mukanya ke arah jendela. Ia kembali mengingat pertemuannya dengan jubah hitam tadi. Belaian di kepalanya membuat ia kembali menatap Jonghyun yang tersenyum hangat.

“ Kau tau Key? Kita sudah menjalani tiga tahun yang berat bersama. Kau bisa sharing masalahmu ke kami. Menyimpannya sendiri tak akan baik bagimu. Tapi, kalau memang kau belum bisa… “

“ Nisan itu milik noonaku. Kim Heera. “

Jonghyun dan Onew segera membatu. 3 tahun mereka bersama, baru kali ini mereka tahu kalau Key memiliki seorang noona.

“ Ia meninggal tepat saat ulang tahunku 17 tahun saat itu. “

Key tak melanjutkan kalimatnya. Air matanya juga sudah kering. Jonghyun dan Onew saling bertatapan. Mereka pun terdiam dalam waktu yang cukup lama.

“ Hyung, apa memiliki impian itu salah? “

“ Tentu saja tidak, Key. Semua orang punya hak untuk itu. “

“ Meski harus mengorbankan orang yang sangat kau sayangi? “

Sebelah alis Jonghyun terangkat. Otaknya bekerja keras mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Key tadi.

“ Memiliki impian bukanlah sebuah kesalahan. Bukanlah sebuah dosa jika kau berusaha untuk menggapainya dengan berjuang keras, meski seluruh orang mencacimu. Bahkan, demi impian ini, ada beberapa di antaranya yang sampai harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga agar bisa meraih mimpinya. “

“ Dan sayangnya, aku adalah salah satunya. Terjebak dalam keobsesianku, hingga melupakan semua logikaku hanya agar memuaskan batinku yang dipenuhi keegoisanku. “

Key memotong nasihat Onew tadi. Tapi Onew segera beringsut ke sisi Key. Senyumnya tetap hangat seperti biasanya.

“ Sama seperti yang kukatakan tadi. Obsesi juga bukanlah kesalahan. Dan untuk memuaskan obsesi terkadang memang membutuhkan sebuah pengorbanan. “

Key menatap Onew. Bukan lagi senyum hangat yang dilihatnya, hanyalah tatapan hampa dari seorang leader humoris yang dikenalnya selama ini.

#boram#

Lagi-lagi Key tak bisa tidur. Diliriknya Jonghyun yang sudah tertidur pulas. Jam berbentuk kunci dari fansnya menunjukkan pukul 2 dini hari. Diputuskannya untuk meminum segelas air.

Saat ia membuka lemari pendingin, ia mendengar erangan yang terdengar mengerikan dari kamar mandi. Pelan ia membuka pintu, tak terkunci. Kini ia melihat Onew yang menusuk-nusuk tangannya dengan sebuah pisau buah. Cepat Key menarik pisau itu dari tangan Onew.

“ Hyung, apa yang kau lakukan?! “

Onew masih terengah, sedangkan Key berlarian ke arah dapur mencari kotak P3K. Key membersihkan darah yang mengalir deras dari tangan Onew, tapi Onew menahan tangan Key. Tubuh Key membeku saat ia melihat mata Onew yang kini menjadi merah.

“ Waktuku tak lama Key. Jubah hitam itu akan menagih janjiku. “

Sesaat setelah mengatakan itu, Onew segera pingsan. Key tetap tak bereaksi. Otaknya terus berusaha menerjemahkan perkataan Onew barusan.

“ Omo! Apa yang kau lakukan Key?! “

Jonghyun segera mengangkat tubuh Onew ke atas tempat tidurnya. Cepat ia menelepon ambulans, sementara Key tetap terduduk di tempatnya.

#boram#

20 September 2011

Tetesan darah jatuh beraturan, masuk ke dalam tubuh Onew melalui selang di tangan kirinya dari botol infus yang tergantung di tiang besi di sampingnya. Ia sudah koma dua hari ini. Beberapa jadwalnya ditangguhkan. Member Shinee yang lain tetap menetap di rumah sakit menjaganya.

Key tak pernah tertidur. Sesuap pun makanan tak masuk ke perutnya. Berkali-kali ia dipaksa Jonghyun, Minho ataupun Taemin. Ia tetap diam, tak sedikitpun bersuara. Matanya tak pernah beralih dari Onew yang masih belum sadarkan diri.

Tangan Onew yang digenggam Key mulai bergerak lemah.

“ Bisakah aku minta tolong, Key? “

Key tak mengangguk ataupun menggeleng. Ia hanya terdiam tanpa ekspresi. Sejak dua hari kemarin otaknya dipaksa memikirkan maksud ucapan Onew. Lama menunggu jawaban, Onew segera mengangkat tubuhnya. Lalu ia mengelus kepala Key dengan lembut. Pelan ia menyelipkan tangannya ke dalam baju Key. Kalung dengan liontin sabit ditatapnya. Kemudian tangan kirinya menarik kalung sabit yang persis sama dari dalam bajunya. Hanya saja di kalungnya terdapat liontin lain. Sebuah batu hitam kecil yang dililit dengan kawat berwarna keemasan. Mata sipit Key sedikit membesar.

“ Berada dalam situasi yang sama, heh? Kapan waktumu Kibum? “

Key membulatkan mulutnya, tapi cepat mengerti arah pertanyaan Onew.

“ Hari ulang tahunku hyung. Kenapa kau bisa memiliki kalung itu? “

Onew membebaskan tangannya dari kalungnya dan juga kalung Key. Ia malah melepaskan selang infus dari tangan kirinya.

“ Aku sudah lupa bagaimana bisa memiliki kalung ini. Yang jelas, aku telah memilikinya beberapa saat sebelum kita debut. “

“ Kapan waktumu hyung? “

Onew mendengus, kemudian ia menatap ke langit-langit kamar.

“ Hari ulang tahunku tahun lalu. “

“ Mwo? Apa yang kau lakukan sampai kau bisa bertahan? “

Onew tersenyum, kemudian melirik ke sekeliling. Minho, Key dan Taemin tertidur pulas di sofa. Onew menatap tajam ke arah Key, kemudian kembali tersenyum penuh arti.

“ Tidak, aku tidak mengorbankan orang lain lagi. Hanya saja, aku tidak pernah tertidur lebih dari dua jam sehari delapan bulan terakhir ini. “

Mulut Key kembali membulat, dengan mata yang tidak berkedip.

“Malam itu, aku berusaha mengiris nadiku dengan sengaja, saat si jubah hitam mulai menggerogoti jiwaku. Aku tidak ingin menyerahkan nyawaku begitu saja pada makhluk brengsek itu. Aku lebih memilih mati kehabisan darah, daripada mengabdikan jiwaku untuknya. “

Seketika emosi Key membuncah. Ia bangkit dari kursinya.

“ Kau pengecut hyung! A REAL LOSER! “

Key berteriak keras, hingga Jonghyun, Minho dan Taemin yang tertidur di sofa terbangun. Mereka menatap heran pada Onew yang terkekeh dan Key yang mengepalkan tangannya.

“ Setidaknya aku bisa melakukan sesuatu. Lalu kau, apa yang bisa kau lakukan? “

Pertanyaan Onew tadi terasa menghantam dada Key. Ya, ia memang tak tahu harus melakukan apa. Kepalannya mulai mengendur.

#boram#

“ Jangan sampai tertidur Key. “

Onew mengguncang bahu Key yang hampir saja tertidur. Ia lalu memberikan obat anti ngantuk pada Key.

“ Ia akan menguasaimu, lalu merenggutnya perlahan saat kita tidur. Bukannya aku sudah mengatakannya tadi? “

Key menelan pil berwarna merah jambu itu. Matanya refleks terbuka lebar.

“ Kenapa kau tahu hyung? “

“ Pikirkan saat-saat ia mendatangimu. Pikirkan timing, dan settingnya. Ia akan menemuimu saat kau makin terpuruk. Tekanan batinmu yang bergejolak adalah kekuatannya. “

Key mengangguk-angguk mendengar penjelasan Onew. Akhir-akhir ini ia memang selalu bertemu dengan jubah hitam itu sesaat setelah tertidur.

“ Jadi, kita harus tetap terjaga agar ia tak datang? “

“ Aku sempat berpikir begitu. Aku pernah mencobanya. Hanya bertahan beberapa hari. Tubuh manusia juga punya batasnya untuk bertahan. “

Klek! Pintu kamar terbuka, tampak seorang dokter diapit dua orang perawat di sisi kanan kirinya. Di belakangnya menyusul Jonghyun. Taemin dan Minho sedang membeli makanan untuk sarapan mereka.

Dokter berkacamata itu mendecak kesal, melihat selang infus yang sudah terlepas dari tangan Onew. Baru saja ia ingin menyuntikkan obat penenang pada Onew, Key menahan suntik itu cepat.

“ Tidak perlu, dokter. Seperti yang kau lihat, Onew hyung sudah baik-baik saja sekarang. “

Si dokter kembali mendecak, lalu segera memeriksa kondisi tubuh Onew yang memang sudah benar-benar baik sekarang. Setelah memberikan resep obat, dokter itupun keluar bersama dua orang perawat tadi.

Jonghyun segera mengambil posisi duduk di sisi ranjang Onew. Raut wajahnya menampakkan ia terlihat sangat khawatir.

“ Aku memang memiliki masalah, Jjong. Dan sikapku yang kemarin, aku sama sekali tak bermaksud ingin bunuh diri. “

“ Lalu apa maksudmu menusuk tanganmu seperti itu? “

Jonghyun menunjukkan lengan Onew yang sudah terperban.

“ Hanya ingin mempertahankan hidupku. “

Jonghyun mengernyitkan alisnya. Yang ia tahu, menusuk tangan seperti yang dilakukan Onew kemarin hanya akan menghilangkan nyawa.

“ Ah, mana couple 2min? Apa mereka pergi kencan? “

“ Onew hyuuuung! Aku tidak ada minat sama Minho hyung sedikit pun! Jangan mengira aku penyuka sesama jenis! “

Taemin memanyunkan bibirnya, dan membuat kaget Key, Onew dan Jonghyun karena tiba-tiba berteriak frustasi seperti itu. Mendengar teriakan Taemin, Minho hanya menatap Taemin dengan dingin, kemudian menyimpan kantong plastik berwarna putih besar sembarangan. Setelah mengambil jatah makanannya, ia kembali keluar.

“ Omo!”

Taemin menutup mulutnya, kemudian berlari keluar mengikuti Minho. Ketiganya pun hanya tertawa melihat kelakuan 2min.

“ Hyung, bisa kau jelaskan arti mempertahankan hidupmu? “

“ Lupakan Jjong. Aku hanya bercanda. “

Onew tersenyum cengengesan, meski Jonghyun tetap merasa aneh dengan kelakuan Onew akhir-akhir ini.

#boram#

21 September 2011

Onew dan Key memaksa dirinya tetap terjaga. Akan tetapi, Key yang tak terbiasa akhirnya terlelap.

“ Bertemu lagi, Kim Kibum? “

Key mengedarkan pandangannya. Lagi-lagi ia melihat jubah hitam itu dengan sebuah sabit di tangan kanannya.

“ Ting tong ting tong. Waktumu tinggal 2 hari, sebaiknya kau pikirkan hal-hal yang bisa kau lakukan dua hari terakhir ini. “

Key terbangun dalam posisi duduk. Onew di sampingnya memainkan rubix 4X4.

“ Apa yang dia katakan padamu? “

“ Onew hyung, waktuku tinggal dua hari. Apa yang harus kulakukan? “

Onew meletakkan rubix nya di atas meja, lalu ia merenggangkan kedua tangannya sekedar membuat tubuhnya lebih santai. Kalung sabit miliknya dikeluarkan.

“ Kau tau arti sabit dari kalung ini? “ Key menggeleng.

“ Aku pun juga tidak tahu. “ Key mendengus, bisa-bisanya orang sesangtae Onew mengeluarkan lelucon jayusnya di saat genting seperti ini.

“ Yang jelas aku sudah lelah. Hidup dengan selalu menghindar seperti ini, benar-benar sangat melelahkan. Kadang aku berpikir lebih baik mengakhiri hidupku, di saat yang sama aku hanya akan membuat diriku lebih pengecut lagi seperti katamu. Terkadang pula aku selalu merutuki kebodohanku, kelemahanku, dan ketakutanku yang hanya bisa mengikuti alur jubah itu. Sesaat kupikir, aku bisa mengalahkannya, tapi ternyata tidak bisa. Setelah kupikir, usahaku selama ini sia-sia. Pada akhirnya ia akan merenggut nyawa kita, Kibum. “

Lagi-lagi Key mendengus. Onew memanggil nama aslinya, menunjukkan ia sangat serius pada tiap kata yang ditekankannya.

“ Lalu apa kita menyerah saja hyung? “

“ Tidak tahu. Ah, kenapa kau ingin menjadi penyanyi? “

“ Aku? Tidak tahu. Kurasa dari panggilan nuraniku saja. “

“ Jawabanmu menggelikan Key. “

“ Kenapa? Hyung sendiri? Apa permintaanmu pada si jubah norak itu? “

Onew tertawa, menunjukkan smile angelnya seperti biasa.

“ Aku memintanya agar aku mendapatkan pekerjaan yang memungkinkanku makan ayam sepuasnya. “

Key mangap, lagi-lagi ia tertipu dengan wajah serius Onew yang ternyata telah mengeluarkan sangtae nya. Mata Onew terpejam.

“ Hyung, jangan tidur. “

“ Tidak, tidak apa-apa Key. Aku hanya merindukan saat-saat seperti ini. Tidur nyenyak seakan semuanya baik-baik saja. “

Key menunduk.

“ Bisakah kau memegang tanganku, Kibum? “

Key mengangkat kepalanya. Onew memanggilnya dengan nama aslinya lagi.

“ Jangan memikirkan hal yang bukan-bukan, Key. Genggam saja tanganku. Dari dulu aku selalu kesepian. Terlahir sebagai anak tunggal dengan orang tua yang selalu sibuk mengurusi toko. Berusaha menjadi yang terbaik di sekolah dulu, hingga mendapat peringkat dua, kupikir akan menyenangkan. Tapi rasanya tetap sepi. Hingga aku dinyatakan lulus training. Bertemu dengan kalian adalah hal yang paling kusyukuri. Aku selalu menyayangimu. Tentunya sebagai adikku. “

Onew menghela napas. Napasnya sudah berhembus teratur.

“ Aku yakin kau pasti bisa mengakhiri semuanya, Kibum. “

Key mencoba meresapi kalimat yang terakhir diucapkan Onew hingga pria yang kerap dipanggil dubu itu benar-benar tertidur. Dirasakannya genggaman tangan Onew melemah, diiringi suhu tangannya yang kian menurun. Keras dan dingin, itu yang dirasakannya sekarang dalam genggamannya.

Kini Key merinding. Merasakan sekelilingnya terasa sangat dingin, dan tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap. Dieratkannya genggaman tangannya, juga ia beringsut ke sisi Onew. Tapi, entah mengapa ia melihat Onew yang lain di sudut ruangan. Dibaliknya cepat ke arah ranjang, Onew masih tertidur.

Jubah hitam itu muncul kembali. Kali ini bukan lagi dengan membawa sabitnya. Hey, bukankah ini terasa sangat janggal. Kekehan panjang dari jubah hitam itu membuat kepalanya terasa pening.

“ Kau ingin melakukan pertukaran? “

“ Ya. Lakukan sekarang. “

“ Wow! Ini belum jam 12 Jinki. “

“ Jangan memanggil namaku! “

Onew memijit kalungnya. Tapi entah mengapa jubah hitam itu terperosok ke bawah. Erangannya yang terdengar mengerikan membuat Key berjengit. Ia sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraan Onew dan jubah hitam itu.

“ Ara. Tapi kalung itu harus kau berikan padaku? “

“ Andwe! “

Onew menghindar cepat saat si jubah hitam itu melayangkan sabit ke arahnya. Malah ia membuka kalungnya lalu memasangkannya di leher Key. Sebagai gantinya, ia menarik kalung Key dan memasangkan di lehernya.

Semuanya terlalu cepat bagi Key untuk mencerna yang sedang terjadi di depannya. Tangannya bergerak cepat menutup mulutnya kala ia terkena cipratan darah. Masih sempat ia melihat Onew yang menarik sabit milik si jubah hitam menusuk dadanya, tepat di jantungnya.

Mulut Onew yang penuh darah melengkung sempurna, memperlihatkan senyumnya. Key menggigil, tapi diberanikan dirinya menghampiri Onew yang terkapar bersimbah darah. Digenggamnya tangan Onew. Sedang matanya sendiri sudah dipenuhi air mata yang sedari tadi ditahannya.

“ Ka.. Kau pas.. ti ..bi.. sa.. me.. lenyap… kan.. nya. “

Key mengenggam tangam Onew yang menyentuh pipinya. Dan akhirnya, mata Onew terpejam rapat dengan senyum masih menghiasi wajahnya.

Tiiiiiit….

Layar monitor menunjukkan garis lurus yang panjang. Key masih di tempatnya. Tangannya masih menggenggam tangan Onew yang terbaring kaku di ranjang. Settingnya tidak lagi gelap seperti tadi.

“ Saengilchukkae hamnida. “

Tepukan serta nyanyian dari Minho, dan Jonghyun menguasai ruangan kamar sakit. Taemin sendiri membawa kue tart dengan krim pink dan juga sepasang lilin berangka 21.

“ Onew hyung sudah pergi. “

Continued…

One thought on “Bloody Wish : The Scythe Choker [1.2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s