Bloody Wish : The Scythe Choker [2.2]

 

Title : Bloody Wish : The Scythe Choker [2.2]

Author : Boram.Onyu

Main Cast : Kim Kibum aka Key, Lee Jinki aka Onew

Support Cast : Other SHINee’s member, Kim Heera ( OC )

Genre : Fantasy, Friendship

Type/Length : Twoshot

Rating : General

Summary :

“There’s no bold, there’s no dark, altogether in same side. Only if some of that side, do not get shares by light till it closed overfully then it raise a bobber balance” – Tak ada terang, tak ada gelap, semuanya dalam sisi yang sama. Hanya sebagian dari sisi itu, tak memperoleh cahaya bagiannya hingga ia tertutupi sepenuhnya menimbulkan kekacauan keseimbangan.

 

read this before: Bloody Wish : The Scythe Choker [1.2]

 

23 September 2011

Beribu pasang mata mengiringi proses penguburan Onew. Jeritan histeris tak hentinya membahana di pemakaman yang terletak di Gangnam itu. Nyonya Lee, sudah pingsan berkali-kali sejak tadi. Tuan Lee sendiri mengurus istrinya tentunya.

Taemin masih dalam pelukan Minho. Mereka menangis dalam diam. Setidaknya untuk kali ini, mereka sudah tidak bisa mempertahankan predikat bocah tanpa emosinya. Jonghyun tak beringsut dari sisi Tuan dan Nyonya Lee. Ia juga ikut membantu Tuan Lee bila Nyonya Lee pingsan lagi.

Key tetap berdiri di depan nisan Onew, meski hujan deras mulai turun membuat semua orang yang berada di sana mulai mencari tempat berlindung. Tak dipedulikannya kepalanya yang berdenyut keras. Digenggamnya erat kalung liontin sabitnya. Lantas ia menendang udara kosong di depannya. Kakinya tergelincir tanah yang licin.

Akhirnya pertahanannya runtuh. Tangis yang sedari tadi ditahannya akhirnya menyeruak keluar dari pelupuk matanya. Ia ikut menjerit histeris, seperti ribuan fans yang memenuhi pemakaman tadi. Hujan makin deras, melenyapkan jeritan kesedihan dari Key.

#boram#

Dormitory Shinee dipenuhi kiriman bunga dari para Shawol. Beberapa kado di hari ulang tahunnya pun tak dihiraukan Key. Ia hanya duduk manis di ruang makan. Menatap kursi yang biasanya digunakan Onew, membayangkan tiap kali Onew memimpin doa saat mereka akan makan.

Di ruang lain, Minho menatap nanar stick PSPnya. Di saat senggang seperti ini, Onew akan selalu menerima tantangannya bermain game. Di sampingnya, Taemin menyandarkan punggungnya yang terasa penat. Ia memejamkan matanya. Membayangkan saat-saat Onew akan mengerjakan tugas sekolahnya.

Suara shower menutupi jeritan tangis Jonghyun. Seperti biasa, ia melampiaskan kesedihannya di kamar mandi. Tangisnya belum kunjung reda sedari pemakaman.

Suasana berkabung memang bukan hanya dimiliki oleh SHINee, Shawol juga ikut merasakannya. Kepergian Onew merupakan hantaman besar bagi mereka. Bagaimana tidak, Onew sudah dianggap sebagai leader, dan mereka benar-benar tak tahu harus bagaimana menjalankan sebuah boyband lagi tanpa seorang leader yang sangat bijaksana sepertinya.

SMent masih belum memberikan klarifikasi. Jadwal show mereka diundur. Untungnya para EO alias event organizer tidak terlalu memusingkan ini, tentu saja, mereka juga ikut berduka.

Apa yang harus dilakukannya kini? Key memijit keningnya yang panas. Dari pantulan kaca lemari, ia melihat rantai keemasan yang terapit di lehernya. Matanya pun dialihkan pada kalung di lehernya. Ia menariknya keluar dari selip bajunya. Sabitnya memang persis dengan miliknya dulu, tetapi liontin hitam ini menarik perhatiannya.

Mendadak kepalanya terasa berputar, ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh dari kursi membuat Taemin dan Minho serentak menghampirinya. Keduanya mengguncang tubuh Key, tapi tak ada reaksi sama sekali.

“ Minho hyung, badan Key hyung panas. “

Minho mengikuti Taemin yang meletakkan tangannya di dahinya. Cepat ia memberi isyarat pada Taemin untuk membawa Key segera ke kamarnya. Taemin tergesa ke arah dapur, menyiapkan sebaskom kecil air yang telah diberinya es lengkap dengan handuk kecil untuk mengompresnya. Sedang Minho mencari kotak obat dan kembali ke kamar Key. Bibir Key mulai memucat, disertai tubuhnya yang menggigil hebat.

Termometer di tangan Minho diselipkan di sela bibir Key, lalu dengan sigapnya ia menarik baskom di tangan Taemin dan mulai mengompres Key. Setelah dirasa cukup, Minho mengeringkan kening Key lalu menempelkan plester penurun panas. Taemin terlonjak, sekian detik setelah ia mencabut termometer itu.

“ Hyung, suhunya 41°. “

Badan Taemin melemas. Tidak percaya, Minho menarik termometer dari tangan Taemin. Matanya yang bulat ikut membesar. Suhu itu terlalu tinggi. Ia berlari cepat ke kamar mandi, mengetuk pintu dengan kasar. Jonghyun pun segera keluar, matanya sembap luar biasa.

“ Hyung, kita harus membawa Key hyung ke rumah sakit. Kurasa demamnya tidak wajar. “

Mendengar penjelasan dari Minho, Jonghyun  berlari ke arah Key. Ia pun meminta pada Minho segera membopongnya menuju  garasi. Dibantu oleh Taemin, ia pun segera melakukan permintaan Jonghyun. Sementara Jonghyun sibuk mencari kunci mobil sambil menelepon manajernya.

#boram#

^Key side^

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Seingatku aku masih di dorm, lalu sekarang aku berada di suatu lorong. Aku jalan mengikuti arah lorong itu, menuju sumber cahaya terang yang sepertinya berada di ujung lorong ini. Kakiku sudah pegal, tapi aku masih belum mencapai ujungnya.

Merasa lelah, aku menyandarkan tubuhku di dinding. Tapi tubuhku malah terjatuh ke belakang. Akhirnya aku terbaring. Sekarang malah Onew hyung kembali terbayang di benakku.

Sebuah tangan terjulur ke arahku.

“ Kibum… “                                                                            

Aku menoleh ke arahnya. Onew hyung. Aku mengucek mataku, memastikan kalau yang kulihat sekarang adalah dia. Ternyata memang benar. Senyumnya memudar lalu ia duduk bersila ke arahku.

“ Seharusnya kau meraih tanganku! Biar efek dramatisnya lebih terasa! “

Ia tersenyum, kemudian ia menarik lenganku hingga aku ikut duduk di sampingnya.

“ Bagaimana appa eumma ku? Taemin, Jonghyun, Minho, apa kabar mereka? “

“ Cih, kau bahkan tak menanyakan kabarku. “

Ia meraih kalung sabit pemberiannya.

“ Saat melakukan pertukaran waktu itu, aku memasukkan sebagian arwahku. “

“ …. “

“ Saat aku memiliki kalung ini, arwah sebelumnya selalu menuntunku. Ia bilang si jubah hitam itu dapat dikalahkan. “

“ Bagaimana caranya? “

“ Jika aku tahu aku tak akan mati. “

“ …. “

“ Waktu ku tak begitu lama. Hanya itu yang bisa kukatakan sekarang. “

“ Jadi kau akan pergi sekarang? “

Ia tak menjawabku. Perlahan tubuhnya mulai memudar, menyisakan seberkas cahaya kecil yang menyilaukan mataku.

#boram#

 “ Hyung…? “

Taemin, kekhawatiran terpancar jelas dari wajahnya. Aku melihat ke sekeliling, ternyata aku berada di rumah sakit sekarang. Di sofa, kulihat Minho dan Jonghyun hyung tertidur.

“ Apa yang terjadi? “

“ Kau demam dan pingsan selama dua hari. “

Dua hari? Ternyata lama juga aku tertidur. Tapi bersyukur juga, si jubah hitam itu tak menemuiku.

Kalimat-kalimat dari Onew hyung terus terngiang di otakku. Sebuah piring kecil berisikan kupasan apel disodorkan ke arahku. Taemin mengisyaratkanku untuk memakannya, sementara ia mengupas apel untuknya sendiri. Aku memperhatikan cara mengupasnya yang lucu. *nonton hello baby, liat cara Taemin ngupas apel* .

Kalung berbandul matahari yang dipakai Taemin menarik perhatianku. Lama aku memperhatikannya, hingga tiba-tiba tubuhku seperti terjepit. Sulit untuk bernapas. Masih kulihat Taemin mengguncang tubuhku. Suaraku pun seperti tertahan. Momen seperti ini, gelap mulai mengelilingiku, namun dengan jelas bisa kulihat jubah hitam itu lagi melayang ke arahku. Aku tak mengerti. Kupikir ia akan menemuiku, tapi tidak. Ia terbanting ke sana kemari. Jeritannya terdengar mengerikan.

Saat jarakku dan jaraknya tak lebih dari semeter, aku meraih kalungku. Kugenggam erat, dan entah mengapa sekarang aku kembali berada di rumah sakit. Beberapa perawat terlihat mulai memasang alat bantu pernapasan, kucegah cepat.

“ Gwencana. “

Kataku kemudian. Aku mengubah posisiku menjadi terduduk. Para perawat itu pun segera pergi setelah aku mengatakan aku baik-baik saja. Bersamaan ketika dokter dan perawat itu keluar, Taemin, Jonghyun dan Minho masuk ke ruanganku. Mereka terlihat khawatir.

“ Apa kau benar baik-baik saja? “

Aku mengangguk. Mereka membuang napas lega secara bersamaan.

“ Hyung, Lee ahjussi bilang abu Onew hyung akan dibawa ke Gwangmyung. Mereka akan berangkat sebentar. “

“ Jeongmal? Kalau begitu kita ikut. “

“ Tidak hyung! Kau masih sakit. “ Minho menahan tubuhku, ia menatap tajam ke arah Taemin.

“ Anio! Aku harus pergi! “ Kali ini Jonghyun yang menatapku tajam. Tapi aku tak mempedulikannya.

“ Lepaskan aku Kim Jonghyun! “

“ Andweyo! Kau akan tetap disini, kita bisa ke sana setelah kau sembuh! “

“ Hyung! “

Tanganku ditahan kuat, aku bisa melihat Jonghyun hyung mencengkeram lenganku. Dan juga, meski penglihatanku mulai samar, aku bisa melihat seorang suster yang menyuntikkan sesuatu di tangan kiriku. Setelah itu, semuanya gelap.

#boram#

^Author Side^

Key membuka matanya yang masih terasa berat. Pertama kali dilihatnya adalah Jonghyun yang tertidur dalam posisi duduk di sampingnya. Key mendesah. Ia ingat kembali pertengkarannya dengan Jonghyun semalam.

Ia mengelus keningnya, ternyata demamnya sudah turun. Menyesal juga Key berhujanan selama itu. Ia merubah posisinya hingga terduduk. Setelah semua tenaganya kembali terkumpul, ia mencabut selang infus di tangannya. Ia kemudian turun dari ranjang lalu memindahkan tubuh Jonghyun ke sofa dengan susah payah.

Lalu ia segera pergi, sebelum Jonghyun akan bangun dan kembali berdebat dengannya. Dengan meminjam jaket dan beberapa lembar won milik Jonghyun, ia bergegas keluar dari rumah sakit menuju daerah Gwangmyung.

#boram#

Key berlari secepat yang ia bisa. Ia menuju ke pemakaman daerah Gwangmyung, dan dengan mudahnya ia menemukan Tuan dan Nyonya Lee yang berjalan gontai ke sebuah rumah kecil.

“ Kibum ah? “

Nyonya Lee menatap heran pada Key. Ia kerap memanggilnya dengan nama asli key karena sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.

Key menghirup oksigen sebanyak mungkin. Ia berlari sekuatnya padahal ia masih belum sembuh total. Tubuh Key mulai limbung, tapi Tuan Lee menahannya cepat. Pasangan suami istri itu pun menuntun Key menuju rumah kecil yang sudah menjadi tujuan mereka. Rumah yang menyimpan abu Onew.

Setelah mendudukkan Key di sebuah kursi yang kebetulan ada di ruangan itu, Tuan Lee meraih guci tempat penyimpanan abu anaknya. Abu Onew akan disemayamkan hari ini, dan Key tidak mau melewatkan kesempatan itu.

“ Ahjussi, bisakah aku ikut menabur abu Jinki hyung? “

Tuan Lee menatap ragu ke arah istrinya, disambut anggukan mantap oleh Nyonya Lee. Mereka pun menuju ke sungai yang berada masih di daerah Gwangmyung. Dengan dipapah Tuan Lee, Key ikut berdiri di tepi sungai. Pertama, guci dipegang oleh Nyonya Lee yang wajahnya sudah dibanjiri air mata, kemudian digilir ke Tuan Lee. Terakhir, Key memegang guci itu dengan tangan yang gemetar.

Abu di dalam guci itu, Key menumpahkannya dengan sempat menyetuh abu itu lalu memegang kalungnya. Pemandangan di depannya berubah seketika, berganti menjadi sebuah tempat yang sempit.

 

Lorong sempit tiada ujung. Tempat yang sama ketika ia bertemu dengan Onew beberapa saat yang lalu. Key meremas kalungnya. Suaranya memanggil Onew terdengar memantul. Tiba-tiba, sebuah jitakan diperoleh di kepalanya. Key meringis, berbalik ke arah yang menjitaknya. Onew berkacak pinggang dengan mimik wajah yang sangat marah.

“ YA! Kenapa kau memanggilku! Kau tau waktu yang tersisa untuk bertemu denganmu sangat sedikit! “

“ Aaa! Hyung! Dengarkan dulu! “

“ Wae! Jika yang kau katakan tidak penting, aku tidak akan segan menyuruh jubah hitam itu menarik nyawamu! “

“ Hyung! That’s too much! “

Bayangan Onew mulai menghilang perlahan, tapi Key segera berteriak dengan lantang.

“ Chankamannyo! Ini sangat penting! “                  

Tubuh Onew kembali sempurna. Key dongkol, sudah jadi hantu bukannya makin bijak, malah tambah temperamen.

“ Kalung Taemin, aku tidak tahu apa yang terjadi. Kalung itu sangat menarik perhatianku, sampai membuatku tak bisa berpaling. Dan kau tau apa yang terjadi selanjutnya? Aku kehilangan napasku! “

“ Kalungnya, apa dengan bandul seperti matahari ? “

“ Darimana kau tahu? “

“ Kurasa aku menemukan petunjuk selanjutnya! “

Onew tak menjawab pertanyaan Key, kini bayangannya hampir hilang sepenuhnya. Namun Key masih menangkap ucapan terakhir dari Onew.

“ Aku akan meninggalkan petunjuknya di kamar seminggu lagi. “

 

Key kembali ke alam sadarnya. Tangannya masih memegang guci abu Onew.  Mendadak tubuhnya kembali gemetar. Ia mundur beberapa langkah. Guci di tangannya jatuh, seiring tubuhnya yang juga jatuh ke tanah.

#boram#

 “ Kau ini sangat keras kepala! Memaksakan diri ke Gwangmyung sendirian, kau malah merepotkan ahjussi dan ahjumma kan?! “

Jonghyun menoyor kening Key begitu Key sadar. Ia kesal melihat kelakuan Key yang sangat keras kepala. Minho hanya geleng-geleng melihat Jonghyun yang mulai berapi-api. Ia berniat membantu Jonghyun membereskan barang Key, tapi ia takut melihat amarah Jonghyun yang meluap-luap.

Key turun dari ranjangnya, kemudian ia memeluk tubuh Jonghyun. Sadar dipeluk, Jonghyun menundukkan kepalanya. Air mata yang tertahan di pelupuk matanya jatuh tanpa pertahanan lagi. Ia memukul dada Key sepelan yang ia bisa.

“ Mianhe, hyung… “

“ Babo! Babo! Meninggalkanku tanpa pesan! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku?! Jeongmal babo! Apa kau ingin meninggalkanku juga?! “

Jonghyun menumpahkan semua kesedihannya dalam pelukan Key. Key mengerti kekhawatiran yang melanda Jonghyun. Kehilangan Onew memberi efek yang luar biasa baginya, Taemin dan Minho, terutama Jonghyun. Dan wajar saja, jika Jonghyun takut jika merasakan kehilangan yang sangat berat sekali lagi.

#boram#

^Author Side^

Sudah seminggu lebih sejak kepergian Onew, tapi suasana berkabung masih terasa jelas di dorm SHINee. Ucapan berduka juga tak berhenti mengalir dari seluruh penjuru dunia, bahkan bukan hanya dari Shawol saja. Semuanya berpura-pura tegar di hadapan masing-masing. Tapi ketegaran itu kembali runtuh  ketika mereka sendirian.

Mengingat sudah seminggu sejak ia bertemu Onew, Key membaringkan tubuhnya di atas ranjang Onew menghirup aroma jasmine kesukaan Onew yang masih melekat di seperainya.

Setumpuk kertas di lemari depan ranjang Onew menarik perhatian Onew. Diambilnya kertas-kertas itu lalu duduk bersila di atas ranjang Onew. Tumpukan nada dalam kotak bergaris memenuhi kertas itu. Key sangat tahu nada-nada ini adalah hasil ciptaan Onew, dan dialah yang menggambar nada itu sendiri. Air mata Key jatuh, membasahi lembar pertama dari kertas-kertas itu. Diletakkannya kembali kertas itu, hingga selembar terakhir terjatuh.

Kertas ini sangat aneh, berbeda dengan kertas sebelumnya. Ilusi gambar jubah hitam dengan coret-coretan yang sulit dimengerti. Apakah ini petunjuk yang dimaksud Onew? Key membolak balik kertas itu, berharap akan menemukan sesuatu yang lebih bisa dimengertinya.

Tak kunjung menemukan petunjuk, Key berpindah ke ruang makan. Ia membuka lemari pendingin mencari sesuatu yang bisa menyegarkan kerongkongannya. Dengan masih memegang kertas itu, Key mengambil jus apel tapi sikunya menyenggol lemon dan mengenai kertas itu.

Key mendecak kesal atas kecerobohannya. Dikibaskannya sisi kertas yang terkena lemon untuk mengeringkannya. Ia hendak membuang lemon itu, namun keterkejutannya menahannya melihat tulisan yang timbul di bagian terkena lemon. Pikirannya diputar, adegan National Treasure berkelebat di bayangannya, tepat saat aktor utama Nicholas Cage mencipratkan sari lemon di piagam kemerdekaan. Ia pun melakukan hal yang sama. Lemon di keluarkan seluruhnya. Dipijitnya lemon-lemon itu hingga membasahi penuh kertas. Benar juga, tulisannya muncul perlahan.

“There’s no bold, there’s no dark, altogether in same side. Only if some of that side, do not get shares by light till it closed overfully then it raise a bobber balance”

 

Key meninju meja makan. Ia tak mengerti maksud dari tulisan itu.

#boram#

            Semua personel SHINee kembali ke dorm setelah pulang ke rumah orang tua mereka masing-masing. Jadwal mereka sudah dijadwalkan ulang, karena tuntutan kontrak yang tak mungkin dibatalkan. Posisi leader tetap dikosongkan. Jonghyun yang diserahi posisi leader ini menolaknya, dan untungnya member lain setuju. Mereka juga meminta pada manajemen agar posisi Onew tak diganti.

Kini Taemin dan Key duduk bersantai di sofa. Jonghyun dan Minho sedang di kantor manajemen mengatur jadwal mereka.

“ Sejak kapan kau memiliki kalung itu? “

Key memulai pembicaraan. Mendengar pertanyaan Key, Taemin ikut melihat kalung berbandul matahari yang dipakainya.

“ Seseorang memberiku. “

“ Apa dia mengatakan sesuatu? “

“ Dia membicarakan sesuatu, tapi aku sudah lupa. ‘Ia menyerahkan segalanya padaku. Pasangan kalung ini, jangan sampai mereka bersatu kembali’ . Yah, hanya itu yang kuingat. Kenapa? “

Key menggeleng ketika mata curiga Taemin bertemu dengan matanya. Ia melirik kalung itu lagi. Taemin memutar-mutar bandul kalungnya, cahaya lampu yang mengenainya memantulkan kilatan di mata Key. Pasangan kalung, apakah itu berarti kalung milik Taemin memiliki pasangan sama halnya kalung couple yang memiliki magnet, hingga bila keduanya didekatkan akan bersatu, batin Key.

“ Hyung, aku tidur duluan ya. “

“ Boleh kupinjam kalungmu? “

Taemin terlihat berpikir, lalu dengan ragu ia menyerahkan kalungnya. Ia pun segera pergi ke kamar tidur. Key tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia meneliti tiap inchi dari bandulnya.  Ia meraih kalungnya, juga ikut melihat bandulnya. Didekatkan bandul miliknya dan milik Taemin, terjadi reaksi penolakan terhadap keduanya.

“ Berikan kalungku hyung! “

Suara berat dan terdengar dingin membuyarkan lamunan Key. Taemin berdiri di sampingnya dengan tatapan yang sangat aneh. Key memasukkan cepat kalungnya. Taemin merebut kalungnya dari tangan Key. Setelah memakainya, ia kembali ke kamar tidur.

Aneh. Tiba-tiba dada Key memanas. Saat ia merabanya, ternyata bandul sabitnya sangat panas. Cahaya merah layaknya besi yang dibakar dalam api terpancar dari bandul sabit itu. Key berusaha melepas kalungnya, tapi tak bisa. Justru yang ia lihat sekarang adalah Onew dengan sabit di tangan kanannya.Onew juga terlihat bingung dengan dirinya.

             “ Apa yang kau lakukan? “

            Onew merasakan getaran hebat di sekujur tubuhnya. Key terlalu terkejut hingga mengabaikan pertanyaan Onew.

            “ Apa yang kau lakukan Key? “

            Tanya Onew sekali lagi.

            “ Hyung, kalung Taemin sangat aneh. Petunjuk terakhirmu itu, apa maksudnya? “

“  Tak ada terang, tak ada gelap, semuanya dalam sisi yang sama. Hanya sebagian dari sisi itu, tak memperoleh cahaya bagiannya hingga ia tertutupi sepenuhnya menimbulkan kekacauan keseimbangan.

Perlahan setengah tubuh Onew terlilit oleh kain hitam. Seketika pula panas di dada Key menghilang, malah tubuhnya terhempas ke belakang.  Suara remukan punggungnya ketika menghantam dinding terdengar. Key memegang kalungnya. Panasnya menghilang total. Onew juga ikut menghilang dari pandangannya.

#boram#

Jonghyun dan Minho duduk bermalas-malasan di depan TV. Sebuah berita mengenai gerhana bulan yang ramai dibicarakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Merasa sendirian, Key ikut bergabung di ruang nonton. Gerhana bulan ya, batin Key.

*flashback

“ Gerhana bulan terjadi karena posisi bulan, matahari dan bumi sejajar. “

“ Babo! Itu salah! Pantas saja kau tak lulus ujian masuk perguruan tinggi! “

Key meninju kesal bahu Onew. Key tahu Onew adalah pribadi yang sangat jujur. Dan ia sangat suka pada sifatnya itu, tapi terkadang kejujurannya malah bikin sakit hati.

            “ Terus, jawabannya apa hyung? “

            “ Tentu saja, karena bulan, bumi dan matahari dalam posis yang lurus. Bumi menghalangi sinar dari matahari untuk diserap oleh bulan sebagai cahayanya. “

            *flashback off

#boram#

^Key Side^

Aku tersentak. Gerhana bulan. Kenapa tidak terpikir olehku dari dulu!

 

Tak ada terang, tak ada gelap, semuanya dalam sisi yang sama. Hanya sebagian dari sisi itu, tak memperoleh cahaya bagiannya hingga ia tertutupi sepenuhnya menimbulkan kekacauan keseimbangan.

 

Sabit melambangkan bulan, lalu bandul Taemin adalah matahari. Kalung ku dan Taemin seharusnya berpasangan dengan kalungku. Jika berpisah, akan mengacaukan keseimbangan keduanya.

Tiba-tiba suasana di sekitarku menjadi aneh. Layar TV terhenti, seperti menampilkan rekaman video yang sedang dipause. Jonghyun dan Minho mematung. Ada apa lagi ini?

Crassh! Tubuh Jonghyun hyung meleleh saat aku menyentuhnya. Andwe! Andwe! Tubuhku jatuh terduduk. Tanpa kuduga, lantai yang tersentuh oleh tanganku ikut meleleh membuatku jatuh ke suatu tempat. Kusipitkan mataku, membiasakannya untuk dapat melihat dalam keremangan tempat ini.

Derap langkah terdengar mendekatiku. Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin memenuhi tubuhku. Kubenamkan kepalaku di lututku.  Kedua tanganku kurapatkan di atas kepala. Hingga kurasakan kepalaku dibelai oleh seseorang.

Aku tak mengerti. Suara tawa seorang wanita yang sangat kukenal terdengar. Aku mendongak, seorang wanita berjongkok di depanku. Ia masih tertawa geli, dan di sampingnya seorang pria tersenyum padaku.

Onew hyung dan Heera noona?

#boram#

^Author Side^

            “ Aigo, kau masih sama penakutnya seperti dulu. “

            Key mencibir mendengar olokan Heera. Tapi ia bingung, mengapa kakaknya yang sudah mati 3 tahun yang lalu kini berjongkok di depannya.

            “ Temanmu, menjemputku. Katanya kau butuh bantuan. “

            “ Kurasa ia kembali, Kibum. “

            Key berbalik mendengar ucapan Heera. Jubah hitam. Key berdiri. Saat itu pula, ia merasa tubuhnya bergerak mundur dengan sangat cepat. Masih sempat ia lihat Heera yang memegang sabit di tangannya. Tubuhnya terlilit kain hitam dengan cepat.

            “ Percayalah padanya. “

            Key menatap Onew yang merangkulnya. Gerakan mereka sangat cepat.

            “ Kau sudah mengetahui cara mengalahkannya bukan? Aku bisa merasakan aura yang sangat kuat darimu, dan juga dari kalung itu. Dan si jubah hitam itu tahu. “

            “ Aku sudah mengerti maksud petunjuk yang kau berikan waktu itu. Kalung Taemin seharusnya terikat dengan kalung ini hyung. Tapi aku tak mengerti, karena justru bandul keduanya saling menolak jika kudekatkan. “

            Onew ikut berpikir dengan keras. Dirasakannya jubah hitam itu kembali mengejar mereka. Akhirnya mereka kembali ke ruangan nonton.

            “ Temukan Taemin, lalu ambil kalungnya. “

            “ Tapi, semua yang kusentuh akan meleleh. “

            Melihat ketidakpercayaan di raut wajah Onew, key menyentuh TV. Sesuai dugaannya, TV itu meleleh. Jubah hitam berhasil menemukan mereka. Key makin bingung, ia harus bagaimana. Sedikit saja ia menyentuh kalung Taemin, maka semuanya akan sia-sia saja. 

            Di tengah kekalutannya, jubah hitam itu maju ke arahnya dengan menghunuskan sabitnya. Onew pun menahan jubah hitam itu dengan melayangkan sabit miliknya. Key makin kalut. Taemin kini di sampingnya, dan bahkan berusaha mencekiknya.

            “ Hancurkan kalung itu, Kibum. “

            Key terdiam mematung. Tubuhnya tak bisa menerima perintah dari urat sarafnya. Ia seperti dikendalikan oleh suatu kekuatan yang besar. Ia mulai melepaskan kalung itu, dan hampir menyerahkan kalungnya pada Taemin.

            “ Sialan! Sadar Kibum! “

            Pertahanan Onew hampir roboh, ketika ia berusaha menyadarkan Kibum. Dan usahanya berhasil,­ ­Key telah kembali ke alam sadarnya. Sementara Taemin mulai mengejarnya, ia pun berlari secepatnya. Pikirannya bekerja tak kalah cepat dari laju kakinya. Napasnya hampir habis, dan Taemin pun berhasil menangkapnya. Alhasil, mereka jatuh berguling-guling.

            Taemin menarik kerah baju Key, menyesakkan dada Key. Taemin makin mengeratkan cekikannya di leher Key. Ia pun melepaskan cekikannya saat sadar Key sudah kehilangan nyawanya.

            Semuanya menjadi gelap. Onew berhasil mengalahkan si jubah hitam, tapi hampir dari seluruh tubuhnya sudah rusak. Dengan bersusah payah, Onew merangkak ke arah Key. Ia meraih tangan Key.

            “ Kita sudah berjuang, Kibum. Terima kasih atas pengorbananmu. “

            Taemin terkekeh melihat drama melankolis di depannya. Ia menendang tubuh Onew, membuat Onew semakin kesakitan. Seluruh tubuhnya melumpuh. Selaras dengan Taemin yang terus menyiksa Onew tanpa ampun, badan Key tiba-tiba mengeluarkan cahaya. Liontin hitam dari kalungnya bersinar dengan sangat terang. Tubuhnya terangkat, dan akhirnya Key memperoleh nyawanya lagi.

            Taemin mendengus, bagaimana bisa Key bisa sadar kembali. kemudian ia menghantam tubuh Key dengan sabit dari tangan Onew yang kini meregang nyawa. Dengan gerakan secepat kilat, Key dapat menghindar dari serangan Taemin. Malah, ia dapat menahan tangan Taemin.

            Dalam sekali gerakan, Key membanting tubuh Taemin. dengan cepat ia menindih tubuh Taemin sebelum Taemin akan melarikan diri. Secara tak sengaja, kalungnya dan kalung Taemin bersentuhan menimbulkan gejolak yang sangat kuat. Dalam sekejap, kedua bandul tersebut hancur bersamaan terlemparnya tubuh Key dan Taemin ke arah berlawanan.

#boram#

^Key Side^

“ Sampai kapan kau mau jadi trainee disana?! Yang kutahu kau sama sekali tidak ada kemajuan! “

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Mataku melihat ke sekeliling. Di depanku, appa berkacak pinggang dengan ekspresi yang sangat marah. Tubuhku mundur.

“ Nampyun ah, ini hari ulang tahunnya Kibum. Jangan berkata sekasar itu pada anakmu. “

Appa hanya mendecak, kemudian ia melemparkan sepatu bolanya ke atas sofa sembarangan. Kurasakan tangan yang hangat dan kecil mengusap bahuku, lalu berpindah ke pipiku. Eumma? Aku seperti pernah merasakan momen seperti ini, tapi kapan?

Aku naik ke atas kamarku, dan kulihat Heera membawakan kue ulangtahun mini sambil bernyanyi ria. Aku tak menghiraukannya dan entah mengapa, aku langsung berlari keluar dari rumah dengan kecepatan yang tidak menentu. Beberapa orang yang kutabrak sempat mengomel, tapi kuacuhkan. Tak sadar, aku kembali ke gedung SM.

Aku berjalan dengan sisa tenagaku mengelilingi gedung, sampai aku terhenti di sebuah ruang musik. Alunan piano yang terdengar merdu terdengar. Kubuka pintunya sedikit, seorang pria terlihat sangat serius memainkan piano.

Ia menghentikan permainannya, kemudian ia menoleh padaku. Senyumnya mengembang. Aneh, aku tak mengenalnya, dia malah tersenyum semanis itu padaku.

“ Apa kau punya impian? “

Tanyanya sambil memutar tubuhnya menghadapku.

“ Mau kuberi jimat? “

Aku mengernyitkan dahiku. Aku ingat sekarang, aku memang pernah berada dalam kondisi yang sama seperti ini. Tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali? Aku menggeleng cepat.

“Memiliki impian bukanlah sebuah kesalahan. Bukanlah sebuah dosa jika kau berusaha untuk menggapainya dengan berjuang keras, meski seluruh orang mencacimu. Bahkan, demi impian ini, ada beberapa di antaranya yang sampai harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga agar bisa meraih mimpinya. “

Tanpa sadar aku menoleh. Pria bermata sipit itu kembali tersenyum padaku.

“ Dan sayangnya, aku tak akan pernah mau lagi menjadi salah satu dari itu. “

Aku tak mengerti, tiba-tiba saja mulutku berkata seperti itu. Dan kalimat-kalimat itu, kenapa aku seperti mendengarnya dari seseorang. Pria itu bangkit dari kursinya. Kemudian ia mengulurkan tangannya padaku.

“ Lee Jinki imnida. “

Lee Jinki? Dia masih mengulum senyumnya yang lebar. Adegan demi adegan berkelebat di pikiranku. Yah, aku ingat sekarang. Kurasakan air mataku meleleh, kemudian ia nyengir lebar.

“ Jangan bilang kau tak mengingatku, Kim Kibum. “

Aku ikut tertawa bersamanya. Ah, tak kusangka aku bertemu kembali pada pria ini. Kuusap air mataku.

“ Kau tidak sopan! Aku mengenalkan diriku, tapi kau tak membalas jabatanku. “

Aku meraih tangannya cepat, sebelum ia akan marah. Ditariknya aku dalam pelukannya, kemudian ia menepuk punggungku berkali-kali.

“ Kita mulai dari awal lagi, hyung. “

Kau tahu? Aku mendapat satu pelajaran lagi.  Memiliki impian bukanlah sebuah kesalahan. Bukanlah sebuah dosa jika kau berusaha untuk menggapainya dengan berjuang keras, meski seluruh orang mencacimu. Dan aku akan meraihnya, apapun yang terjadi.

Dengan usaha yang giat dan tekun, aku yakin semuanya akan mendapat balasan yang setimpal. Meski tak ada orang yang mendukungku, meski bahkan orang tuaku sendiri mengabaikanku, tapi masih ada sesuatu yang akan terus menemaniku memperjuangkan  mimpiku. Hati. Itu yang kupercayai sekarang.

*END*

Pribadi sendiri ngerasa endingnya maksa banget, soalnya benar-benar kehabisan ide, ngejar waktu sebelum akhirnya udah masuk kuliah lagi, dan bisa dibilang genre fantasy ini sangat sulit!

Gak tau ada yang sadar ato gak, tapi closing nya  terinspirasi dari acara Hitam Putih, quotenya Deddy Corbuzier “dukungan sebenarnya berasal dari hati”. Quote yang singkat, tapi pas banget kena di hati loh.

4 thoughts on “Bloody Wish : The Scythe Choker [2.2]

  1. aaaaa thor!! aku nyasar ke wp nya author….. abis udh baca di shiningstory tapi gereget pengen baca yang keduanya…..
    gilaaaaaaaa rame bangettt daebaakkk!!!
    tapi thor, kenapa uri taemin jadi jahat gitu? dan akhirnya happy end!!! udah deg degan pas baca yang adegan berantem ituu!

  2. Wuaaaa yaampuun karena penasaran banget nunggu kelanjutannya di shiningstory, akhirnya aku nemu juga lanjutannya disini hueheheheh :B

    Aduh aku sampe bingung mau komen apa-_- soalnya ceritanya perfect banget (y) yaayy kekeke
    Tapi seneng endingnya gituu. Terus onew disini karakternya baik bangeet! Kesannya hangat(??) Pas onew tiba-tiba muncul bantuin Key. Masih bisa becanda2 lagi-_-
    Terus pas key, ajumma ajusshi lee nabur abu nya onew itu sediiih banget. Onewnya kaya udah bener-bener gone gituT_T

    Pokoknya keren deh ff nya!!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s