Believe

U’d better read this before : Saranghae Nae Dongsaeng [1.2] Î Saranghae Nae Dongsaeng [2.2] Î Hurt

Kedua mata itu masih tertutup sempurna. Bibir mungilnya terbuka sedikit. Minho masih juga tak mengalihkan pandangannya dari gadis kecil yang menjadi malaikatnya, yang menyempurnakan ikatannya dengan Eunmi. Wanita yang telah berstatus sebagai istrinya sejak enam tahun yang lalu. Wanita itu juga berada di depannya, di antarai si gadis kecil, yang juga masih terlelap dalam tidurnya.

Reka adegan bertahun yang lalu berkelebat di benaknya. Bagaimana pernikahannya dengan Eunmi kala itu. Bagaimana ia melewati semalam yang membuahkan benih di rahim Eunmi, melahirkan seorang Choi Jira yang memiliki seratus persen kemiripan dengan Eunmi. Ia bahkan selalu ingat, bagaimana senggukan Eunmi yang tak kunjung reda di pagi itu,  bagaimana tangisan Eunmi saat pertama kali ia menyentuhnya, merenggut apa yang selalu dijaganya sebagai seorang wanita. Ia tak pernah lupa, saat dimana ia mabuk berat saat itu. Hingga ia kehilangan kesadarannya, membuat Eunmi yang dikenalnya ceria menghilang. Digantikan sosok Eunmi lain yang baru, yang lebih banyak menghabiskan waktunya dalam diam.

Jika saja ada satu kata yang tepat menggambarkan betapa menyesalnya saat itu, membuat Eunmi merasakan arti kata sakit dalam waktu yang tak diketahuinya berapa lama, sementara pengaruh alkohol menguasai dirinya, ia akan mengukirnya di seluruh tubuhnya. Paling tidak, agar sang istri yang tak pernah sekalipun hilang dari pikirannya kembali menatapnya lagi dengan mata itu. Bukan lagi mata kosong, ditambah senyum hambar yang makin menorehkan luka penyesalan di hatinya. Tak ada lagi tembok kukuh yang memisahkan mereka, mencairkan kebekuan yang tak kunjung meleleh bahkan dalam kurun waktu enam tahun belakangan ini.

“ Sampai kapan mau menatapku begitu? “

Minho tersentak dari lamunannya. Ia membuang pandangannya ke arah Jira, yang sedikit menggerakkan tubuhnya. Eunmi bangun, merubah posisinya menjadi duduk. Ia mencondongkan tubuhnya pelan, memastikan jika Jira tak terganggu dengan suaranya tadi. Minho mengikuti gerak gerik Eunmi, yang turun dari ranjang, memutarinya hingga kini ia berada tepat di samping Minho.

Dahi Minho mengernyit ketika tangannya ditarik, membuat ia ikut bangun dan mengikuti langkah Eunmi menuju kamar pribadi mereka. Minho memiringkan kepalanya, menatap Eunmi penuh tanya yang duduk bersila di atas tempat tidurnya. Ia bisa melihat Eunmi menepukkan tangannya di atas bed cover itu, mengisyaratkannya untuk ikut duduk di sampingnya.

“ Kemarilah. Apa kau masih takut? “

Eunmi membuka percakapan, melihat Minho yang juga tak bergeser dari tempatnya berdiri. Minho mengangkat kepalanya. Ia menatap pada kedua bola mata Eunmi, yang hampir tak terlihat oleh kelopak matanya yang menutupi hampir seluruh biji matanya. Ia kembali menunduk. Di mata itu, bahkan wajah itu, selalu mengingatkannya pada Lee Jinki. Selalu mengingatkannya betapa ia tak punya kesempatan sekalipun bahkan untuk merasakan sentuhan hangat dari seorang Eunmi.

“ Sepertinya, kau memang menyesal menikahiku. “

Minho akan membuka mulutnya, memberikan penjelasan yang tentunya mengelak tiap kata yang diucapkan Eunmi. Ia menyesal? Atas dasar apa ia harus melakukan perbuatan bodoh yang bahkan tak pernah sekalipun terlintas di benaknya.

“ Tidurlah. Aku akan menemani Jira di sebelah. “

Eunmi akan meninggalkan ruangan itu, ruangan yang menjadi saksi bisu cinta sebelah pihak yang dirasakan hanya oleh Minho. Di belakangnya, Minho tetap membisu. Ia berdiri di tempatnya, menatap punggung Eunmi yang berbelok ke  kiri, tentunya ke kamar Jira.

****

Tak ada suara lain pagi ini, kecuali dentingan sendok dan sumpit yang beradu dengan mangkuk porselen. Jira bisa merasakan aura dingin di antara pria-wanita yang duduk di depannya. Ia bisa melihat dinding es tak kasat mata yang menghalangi mereka, tapi ia hanya menghela napasnya. Pemandangan seperti ini bukanlah hal yang tidak biasa baginya. Maka ia memutuskan untuk diam saja, tak berniat menyentuh permasalahan orang dewasa yang tentu saja tak akan bisa dimengertinya.

“ Apa kau sudah selesai? “

Jira mengangguk mendengar pertanyaan appanya. Dengan dibantu Eunmi, ia turun dari kursinya lalu mengambil tasnya. Setelah mengecup ringan pipi eummanya, ia berlari masuk kedalam mobil. Eunmi tersenyum kecil memandangi anaknya yang bahkan sudah berumur lima tahun itu. Matanya tak sengaja bertemu dengan Minho, yang ternyata memandanginya dari tadi. Ia membuang pandangannya ke arah jendela, sementara Eunmi mulai memasangkan dasinya. Ia bisa melihat senyum Eunmi, saat istrinya mendapati Minho melirik ke arahnya. Dan ketika Eunmi berjinjit, mendekatkan wajahnya dengan Minho, pria itu kembali membuang pandangannya. Eunmi tersenyum tipis, ia kemudian mundur sedikit demi sedikit.

“ Hati-hati di jalan. “

Minho mengangguk pelan. Ia mengambil tas kerjanya dan bergegas menuju mobilnya.

****

Gadis kecil itu tak beranjak dari tempatnya. Kotak bekalnya masih dipangkunya, sementara matanya terus mengedar ke segala sisi, berharap yang ditunggunya akan segera datang. Duduk di sampingnya, mendengar lelucon dari orang itu yang seringkali tak lucu baginya, dan mendengar suara berat yang terdengar manis di telinganya.

“ Ini sudah dua minggu. Kau kemana? “

Jira membuka tutup kotaknya, hingga tiba-tiba kotak bekalnya direbut oleh seseorang. Orang itu bisa melihat perubahan ekspresi di wajah si gadis kecil, yang berubah menjadi senyuman manis saat ia ikut duduk di sampingnya.

“ Jonghyun oppa? “

Jonghyun tersenyum.

“ Aku ini lebih tua dua puluh tahun darimu, Jira. “

“ Tapi, kau sendiri yang menyuruhku memanggilmu oppa. “

“ Aigo, aku kan hanya bercanda waktu itu. “

Jira membuka mulutnya saat sumpitnya disodorkan padanya. Kimbap buatan eumma dikunyahnya.

“ Kapan Jinki Samchoon pulang? “

Jonghyun tersedak. Kepalanya bahkan terasa berat untuk dipalingkan menghadap Jira.

“ Dia, oppanya eumma kan? “

Jonghyun masih diam. Tak berani untuk menjawab.

“ Apa dia alasannya kenapa eumma appaku selalu bersikap dingin satu sama lain? “

“ Jira ah. “

“ Apa eumma ku mencintai Samchoon? “

Jonghyun meletakkan sumpitnya. Akhirnya ia memiringkan kepalanya, menatap wajah sendu Jira yang memandang lurus ke depan.

“ Meskipun aku masih lima tahun, tapi aku tak bodoh.  Aku tak begitu mengerti dengan masalah pernikahan, tapi… “

Sebulir air mata menetes di pipi Jira. Tak lama, senggukannya mulai terdengar. Jonghyun meletakkan kotak bekalnya di sampingnya, meraih gadis kecil di sampingnya.

“ Aku ingin eumma appa seperti orang tua normal lainnya, oppa. Tapi aku juga merindukan Jinki samchoon. “

Jonghyun mengelus punggung Jira. Menjadi pria berkarakter sensitif, membuat ia ikut menangis. Sungguh, gadis sekecil Jira, yang seharusnya melalui masa kanak-kanaknya dengan cinta kasih dari kedua orang tuanya harus menanggung kesedihan sebesar ini.

****

Eunmi menggigit kukunya mengatasi perasaan cemasnya. Ia tidak peduli jika kuku yang selalu dirawatnya itu menjadi tak berbentuk di ujungnya. Minho yang baru saja pulang dari kantornya ikut cemas melihat kondisi Eunmi yang sangat berantakan. Rambutnya tak disisir rapi, sedang seluruh tubuhnya bergetar hebat.

“ Ada apa? “

“ Jira hilang. Aku tak menemukannya dimana pun. Ini salahku Minho. Harusnya aku menjemputnya segera, Jira… Jira… “

Tangis Eunmi meledak di dada bidang Minho, membuat Minho menggigit keras bibir bawahnya. Ingin sekali ia marah, tapi di saat-saat seperti ini, hal itu justru akan memperkeruh suasana. Ditepuknya punggung Eunmi, mencoba meredakan tangisan Eunmi yang makin menjadi-jadi.

“ Tenanglah, kita akan menelepon polisi. “

“ Tidak. Tidak. Ini salahku. Aku eumma yang buruk. “

“ Eunmi ya… “

Suara bel mengalihkan perhatian mereka. Minho mengintip sebentar ke arah intercom. Layar kecil itu menunjukkan wajah seorang pria. Ia melepas pelukannya, mengetikkan sandi agar pintu terbuka. Ia terburu-buru menghampiri si pria, meraih gadis kecil yang tertidur di gendongannya.

“ Hyung, apa kau tidak tahu betapa khawatirnya Eunmi saat ini? “

Jonghyun mengangkat bahunya. Tanpa permisi ia segera menghampiri Eunmi, memberikan ketenangan padanya dengan pelukan hangat. Tak peduli jika Minho yang berada di sampingnya menatapnya tajam.

“ Jira bersamaku tadi. Tenanglah, dia sudah pulang. “

Eunmi mengangkat wajahnya yang semula terbenam di bahu Jonghyun. Cepat ia menghampiri Jira yang masih dalam gendongan Minho, mengambilnya ke dalam gendongannya dan memeluknya erat.

“ Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Minho. “

****

“ Apa mereka sudah tidur? “

Minho mengangguk. Setelah memastikan Eunmi dan Jira tertidur, ia segera mengikuti langkah Jonghyun yang menuntunnya ke arah ruang tamu.

“ Apa sesuatu terjadi di antara kalian? “

“ Tidak ada. “

Jonghyun meneguk kopi yang dihidangkan oleh Minho. Foto berukuran besar itu di tatapnya, yang menggambarkan foto pernikahan Minho dan Eunmi.

“ Kau tau arti dari pernikahan? “

Minho mengangkat alisnya. Ia merilekskan dirinya dengan menyandarkan punggungnya ke sofa, meskipun empuknya bantalan sofa itu tak memberikan efek nyaman sama sekali pada dirinya.

“ Pernikahan adalah simbol dari kebersamaan, persekutuan dua hati yang melebur menjadi satu. Menutupi kekurangan yang ada dengan kelebihan masing-masing.  Saling menyukai, saling mencintai, salah satu alasan yang tepat mengapa sebuah pernikahan bisa terjalin. “

” Jadi menurutmu kami menikah karena Eunmi mencintaiku? Ayolah hyung, kita berdua tahu jika pernikahan kami didasarkan oleh permintaan Jinki hyung. “

” Lalu kau pikir hanya karena Jinki meminta Eunmi  ia mau saja menikah denganmu? Harusnya kau tahu Minho. Bahkan seorang wanita dengan tingkat depresi tertinggipun  akan mempercayai intuisinya. Mereka tidak akan menyerahkan diri mereka begitu saja pada seorang pria yang bahkan sudah dikenalnya bertahun-tahun.  “

Minho mengerutkan keningnya. Intuisi, apa lagi makna kata itu? Berdebat dengan seorang sastrawan merangkap komposer dan penulis lagu sekelas Jonghyun memang harus menguras otaknya.

” Beberapa pernikahan tak berjalan dengan utuh, walau pengikat hubungan di antara kedua manusia sudah lahir.  Pernikahan bukanlah permainan, tidak akan bertahan tanpa ada pilar yang menyatukan di antara mereka. Dan kau memiliki pilar itu. “

“ Pilar? “

Minho merubah posisi duduknya. Tidak bisakah Jonghyun menggunakan kalimat yang lebih sederhana agar ia bisa menangkap arah dari maksud ucapannya. Sedang Jonghyun menghela napasnya, ia tahu Minho masih belum mengerti pesan tersirat dari nasihatnya.

“ Bukan karena adanya Jira. Pernikahan kalian tak akan bertahan selama ini, karena kau percaya pada Eunmi. Dan sebaliknya. Tidak ada seorang pun yang lebih dipercayai Eunmi selain kau. Katakan jika aku salah, Minho. “

Minho menunduk. Seperti mendapat pencerahan, ia mulai mengaitkan seluruh rinci kejadian yang pernah ia lalui bersama Eunmi. Kepercayaankah? Apa benar itu yang menjadi pilar kekuatan dari pernikahan mereka?

“ Aku tahu kau sudah bertemu dengan Jinki. Aku tidak tahu, apa dia penyebab keyakinan yang kau bangun selama ini menjadi goyah. Tapi kau harus ingat, kau harus menghargai usaha Jinki selama ini. Jinki mungkin sudah mengatakan ini padamu. Tapi aku akan mengulanginya. Jaga Eunmi baik-baik. Jangan pernah melepaskan tangannya, saat ini kebahagiaan itu sangat rentan. “

Jonghyun menghabiskan kopinya.

“ Dan satu hal lagi. Jira. Sepertinya keadaan yang terjadi di antara kalian, membuatnya dewasa sebelum waktunya. “

****

Minho membelai rambut Jira penuh kasih sayang. Perkataan Jonghyun terus berputar di kepalanya. Ia tersenyum miris. Jonghyun tak salah. Kepercayaan. Satu kata itu yang menjadi penopangnya selama ini, yang selalu membantunya berdiri ketika ia terjatuh, ketika ia hampir merasa menyerah dengan keyakinannya.

Entah mengapa, Minho selalu percaya, suatu hari nanti Eunmi akan membuka hatinya untuknya. Tapi di satu sisi, ia merasa tak mampu. Bahkan akhir-akhir ini, ia selalu menolak tidur di ranjang yang sama dengan Eunmi, kecuali jika menemani Jira. Ia selalu menghindar ketika Eunmi akan menciumnya, karena ia tidak mau, dengan ciuman singkat dari bibir Eunmi, ia akan menaruh harapan lebih. Ia selalu merasa bodoh, jika ia mulai membual dengan keyakinannya yang menganggap Eunmi akan menatapnya sebagai seorang Choi Minho suatu hari nanti.

Minho membaringkan tubuhnya yang terasa penat di atas ranjangnya. Senyum miris menghiasi wajahnya.

“ Apa kau benar-benar menyesal? “

Mata Minho terbuka setengah, melirik Eunmi yang berdiri di ambang pintu.

“ Apa kau sudah lelah denganku? “

Eunmi semakin mendekat, membiarkan Minho bisa melihat dengan jelas mata Eunmi yang sembap. Minho menarik tangan Eunmi, dan tak cukup sedetik Eunmi sudah berada di bawahnya. Dari jarak sedekat ini, mata sembap Eunmi terlihat berair. Ia tetap menatap sepasang mata itu, mencari sesuatu yang selalu menjadi impiannya. Sayangnya, ia tak menemukannya. Ia menghempaskan tubuhnya di samping Eunmi, menutup wajahnya dengan tangannya.

“ Kau bisa menyerah sekarang Minho. Ini belum terlambat. “

Kembali Minho menindih tubuh Eunmi, menatap wajah istrinya dengan kemarahan yang sudah begitu lama terpendamnya.

“ Mengapa kau selalu mengatakan itu? Bahkan untuk celah sekecil apapun itu,  apa kau memang tak bisa membiarkanku memasukinya? Apa tidak bisa sekali saja, kau memandangku sebagai Choi Minho, sebagai suamimu? “

Bibir Eunmi bergetar. Tak lama air matanya mengalir. Ini adalah pertama kali Minho membentaknya. Takut? Bukan itu yang dirasakannya. Dadanya sesak akan penyesalan, membiarkan Minho memendam segalanya bertahun-tahun. Tetap pada keegoisan hatinya menjadikan Jinki yang seharusnya hanyalah sebuah kenangan masa lalu tetap terkurung dalam hatinya, tak membuka celah sekecil untuk Minho seperti yang tadi dikatakannya.

“ Karena kau tidak pernah menghargai usahaku Minho. Kau bahkan selalu menghindariku, di saat aku ingin menunjukkan padamu betapa aku sangat ingin menyentuhmu. Karena itu, kupikir, kupikir kau sudah lelah padaku. “

Minho menatap Eunmi tak percaya. Wanitanya itu sudah menangis lagi karenanya. terlebih mendengar pengakuan sang istri. Ia tidak tahu jika selama ini ia sudah membuat Eunmi tersiksa dengan kelakuan dinginnya.

“ Uljima. “

Suara Minho yang parau menhentikan tangis Eunmi.

“ Kau benar Eunmi. Aku takut. Aku takut jika aku sudah lelah padamu. Aku takut jika aku tak bisa bertahan lagi untukmu. Tapi justru, aku lebih takut lagi jika aku tak bisa menunggumu lebih lama lagi. “

Ucapan Minho terhenti dengan terkatupnya bibirnya oleh bibir lain. Matanya membulat sempurna, sedang kulit wajahnya bisa merasakan air yang terus menetes di pipinya.

“ Apa sekarang kau masih takut? “

Minho masih menatap Eunmi tak percaya. Ia telah menemukan jawaban yang dicarinya selama ini dengan sentuhan lembut di bibirnya seperti tadi. Ia bangkit dengan cepat, merubah posisinya yang sebelumnya di bawah Eunmi kini menjadi di atasnya.

“ Kalau begitu, tunjukkan padaku bagaimana usahamu mengembalikan keyakinanku padamu malam ini. “

“ Mwo? “

“ Paling tidak, aku ingin anak perempuan. Setidaknya wajahnya harus memiliki kesamaan denganku. Mirip denganmu juga tidak apa-apa. Kau tahu? Anak lelaki itu menyusahkan. “

Eunmi akan protes, tapi mulutnya segera dibungkam dengan ciuman hangat dari seorang Minho. Sementara itu, di sela pintu yang terbuka, sepasang mata itu membesar, yang kemudian tertutupi oleh tangan lainnya yang menyeretnya menuju kamarnya kembali.

“ Jonghyun oppa? “

“ Lupakan saja yang tadi, dan sekarang kau tidur. “

Jira mengangguk mendengar perintah dari Jonghyun. Ia menutup matanya mendengar senandu lembut yang keluar dari sela bibir Jonghyun. Pria itu tersenyum hangat. Setidaknya ia sudah berbuat baik hari ini. Menyelamatkan sebuah pernikahan yang hampir di ambang keretakannya. Ia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Jira, terus membelai rambut gadis kecil yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.

Sementara itu, di ruangan lainnya, kedua pasangan itu menatapi bulan yang terlihat lebih besar dari biasanya, yang turut menyempurnakan malam mereka. Minho menatap wajah Eunmi, yang ikut menatapnya dengan tatapan berbeda dari sebelumnya. Tatapan menyiratkan cinta yang terlahir dari kepercayaan yang tak pernah berkurang sedikitpun di antara mereka.

Sekarang mereka tahu. Rasa khawatir berlebihan, tidak ingin terbuka satu sama lain, telah membuat jurang pemisah di antara mereka. Dan ada satu pengetahuan baru yang mereka dapatkan, bahwa pernikahan tak akan kokoh jika kepercayaan tak dilandasi dengan kejujuran.

FIN

Author Note :

Horeee! Selese juga fanfic galau maksa ini. Hehe. Fanfic ini baru selese setelah baca buku psychology milik teman, yang as you know, bacaan berat gilaa men!

Soal kepercayaan itu, saya terinspirasi dari salah satu buku teman, yang sudah lupa judulnya apa. Dan juga dari filmnya Marry Me Marry. Dan juga dari dosen wawasan sosialku #tengkyuh bapaaak. 

Saya yakin, fanfic kali ini feelnya belum kerasa gituh, maklumin yaaah. Saya belum punya pengalaman sedikit pun soal nikah. Dan soal Jinki Side, aigooo, yang itu benar-benar susah selesainya. Saya belum dapat mood yang pas untuk bikin fanfic super mellow itu. Jadi, tetap nunggu yah!

Sebenarnya, masih banyak yang mau saya katakan. Tapi, segini aja deh. Reader juga bete pastinya baca note gapenting ini. Seperti biasa, RCL! Love ya, Boram 🙂

10 thoughts on “Believe

  1. yah… Jinki gak nongol lg, disini…
    tp emg mesti fokus ke Minho-Eunmi…
    bagus, saengi… bgs bgt…
    semuanya pas… gk keasinan, kemanisan, atau keaseman… O.O
    cm kesian ma Jira aja, dia udah mmg bener2 gede blm saatnya…
    apalagi setelah mergokin, tu, minho-eunmi…
    (jitak minho-eunmi… bisa2nya gak kunci pintu dulu…)

    tuh, komen yg di atas, ngomongin fanfic ygmn yah…
    kok nyebut2 nama ‘onpa’…????
    oh, I’m curious, yeah… oh, I’m curious, yeah…..
    (digeret Lee Soman… ngerusak imej lagu…, katanya… )

  2. eon mah emg suka ninggalin jejak gaje…(klo gak mau diomongin gak nyambung…)
    di tiap ff yg eon baca,,,
    oyah, eonminta pw She’s Not good part 1 dong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s