Save Me

Lelaki itu menengokkan kepalanya ke kiri, tak berselang beberapa detik berpaling ke kanan hingga berputar seratus derajat ke belakang. Beberapa buku di tangannya dipeluknya erat, sekedar memberinya kekuatan semu di sela ketakutannya yang makin menjadi-jadi tatkala suara langkah kaki semakin mendekat ke arahnya. Pelipisnya mulai dibasahi oleh keringat dingin.

“ Siapa? Siapa itu? “

Pelan, ia berbalik. Namun tak ada siapa-siapa di belakangnya. Jarak langkahnya makin diperbesar. Bahkan untuk menelan air liurnya pun, terasa seperti sekam yang siap menggores tenggorokannya.

Remang lampu yang berkedip, sebentar menyala sebentar mati, seakan membangun atmosfer horor yang dialaminya sekarang. Pintu utama dengan berdaun dua yang dilewatinya membuatnya bernapas lega. Tak jauh dari tempatnya berdiri, gerbang utama yang setiap harinya dilalui ratusan siswa-siswi, menjadi titik fokusnya. Jalan setapak yang diisi dengan paving block dilaluinya segera, namun entah mengapa ia tak bisa mencapai gerbang itu. Semakin lama, justru pagar mewah setinggi lima meter itu semakin mengecil, menghilang menjadi sebuah titik.

Tidak, kumohon jangan sekarang.

Si lelaki menutup matanya. Puluhan kalimat doanya dipanjatkan dalam hati. Tetapi, yang ada tengkuknya justru menjadi dingin. Bulu kuduknya berdiri tegak, ditambah sekujur tubuhnya hampir basah oleh keringatnya sendiri.

Lee Jinki. Lee Jinki.

Suara itu, yang lebih mirip rintihan pilu, membuat lelaki itu menggigit bibirnya. Apa salahnya hingga ia harus mengalami kejadian seperti ini tiap harinya. Seingatnya, ia tak pernah memiliki riwayat dengan kemampuan psikis untuk dapat merasakan keberadaan arwah halus yang seharusnya sudah tenang di alam sana.

Perlahan, Jinki berbalik. Di pintu utama yang baru saja dilaluinya, seorang yeoja dengan rambut sebahu berdiri dengan seragam kusutnya. Untung saja, Jinki memiliki mata yang minus, hingga ia harus bersyukur tidak bisa melihat dengan jelas wajah si yeoja.

Lima menit ia berada di sana, hingga si yeoja berbalik arah, kembali memasuki gedung sekolah itu dan menghilang perlahan dari pandangan Jinki.

Suara klakson mobil mengagetkan Jinki dari lamunannya.

“ Jinki. Apa yang kau lakukan di sana? Apa kau menunggu seseorang? “

Jinki menggeleng. Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam mobil silver milik ayahnya. Baru setelah ia duduk di samping sang ayah, detak jantungnya kembali normal.

“ Apa terjadi sesuatu? Maaf, tadi appa harus lembur. “

Anio, appa.

Setelah memastikan Jinki memakai seatbeltnya, ayahnya kembali berfokus pada stir kemudinya, melajukan mobil menelusuri jalan Gangnam yang sudah lengang akan kendaraan lainnya.


Jinki mengetuk-ngetukkan pensilnya di atas meja kaca, sedang matanya menelusuri tiap kalimat yang tercatat dalam buku tebal di depannya. Rumusan formula-formula dengan acakan huruf-angka memenuhi lembaran buku itu. Ia mendorong buku itu ke pojok meja, membebaskannya menatap layar komputer. Tangannya yang bebas menyelip masuk ke dalam laci, meraih mouse warna hitam lalu mengetikkan angka-angka yang dilihatnya dalam buku tadi dengan keyboard.

“ Ayolah, Jinki. Kau perlu bersantai sesekali. “

Jinki mengangkat kepalanya, mempertemukan matanya dengan mata bulat lain yang sedang duduk di depannya. Demi menghargai sahabatnya, ia melepaskan mouse dan menutup bukunya.

Yeoja mana lagi sekarang? “

Minho menyeringai. Dagunya mengarah ke  sudut belakang ruangan. Jinki tersenyum kecil. Bersama Minho selama dua tahun di SMA ini, membuat ia sangat hafal kebiasaan Minho yang bisa dibilang ‘player’. Wajahnya yang tampan, tubuh atletis, modal yang cukup untuk menghipnotis para yeoja manapun yang melihatnya. Tinggal Minho saja yang memilih, siapa di antara mereka yang ingin dimilikinya.

“ Bukannya kau baru saja jadian dengan Soojung minggu kemarin? “

“ Tentu saja bukan aku Jinki! Soojung adalah belahan jiwaku, dia adalah yeoja paling sempurna dibanding dengan yeojayeojasebelumnya. “

Jinki menggeleng-geleng dramatis. Kalimat itu sudah puluhan kali diucapkan Minho, namun Jinki bisa menebak, seminggu atau paling tidak sebulan kemudian, hubungan itu akan kandas lagi.

“ Kalau begitu, kenapa kau mengincarnya? “

“ Aigo, Jinki! Aku sudah bilang, aku tidak bisa hidup tanpa Soojung. “

“ Kau terlalu drama. “

Minho memandang Jinki sarkatis, yang dibalas dengan tawa kecil oleh Jinki.

“ Kudengar, dia menyukaimu. Ayolah, sampai kapan kau mau sendirian? Perhatikan saja baik-baik. Dia cukup cantik, dia bahkan berada di peringkat kedua di bawahmu. Apa lagi yang kurang darinya? “

Jinki tersenyum. Tanpa ditanya pun, Jinki sudah tahu, jika yeoja yang dikenalnya bernama Boram itu menyimpan rasa padanya. Ia seringkali mendapati yeoja itu menatapnya diam-diam, dan ketika mata mereka bertemu, yeoja itu akan menunduk. Berpura-pura mengerjakan sesuatu menyembunyikan rasa nerveousnya.

“ Sepertinya, dia menatapmu sekarang. “

Jinki berbalik,tak pernah terbersit sedikit pun di benaknya ketika saat itu ia tak bisa bergerak seakan terbelit rantai besi di sekujur tubuhnya. Yeoja di sudut itu bukan Boram, tapi yeoja lain yang selalu mengganggunya setiap ia pulang sekolah saat larut selama sebulan belakangan ini. Dari jarak sedekat ini, ia akhirnya melihat dengan jelas wajah yeoja itu.

Poninya tergunting asal, dengan potongan tak lebih dari satu senti dari atas ujung dahinya. Goresan luka sepanjang dahi hingga tengah pipinya menampakkan dagingn merah mudanya, dengan darah yang terus berceceran dari luka itu. Bibirnya kering, berwarna kehitaman, dipenuhi dengan darah mengering.

Kenapa kau terus menggangguku? Apa salahku?

Jinki menutup matanya kuat-kuat. Suara itu menggema di telinganya.

“ Jinki! Jinki! Apa kau baik-baik saja? “

Guncangan di bahunya oleh Minho menyadarkan Jinki. Ketika ia membuka matanya, yeoja yang dilihatnya sudah menjadi Boram kembali. Yeoja itu menatapnya bingung, kemudian seperti biasanya, ia menunduk dan menyibukkan diri dengan bukunya.

Jinki mengambil napas  sepanjang mungkin mencoba meredakan gemuruh detakan jantungnya. Buku-buku di atas mejanya dirapikan, kemudian dimasukkannya ke dalam tas. Ia bergegas menuju toilet pria yang kebetulan berada di samping kelas.

Keran air diputarnya, mengalirkan air ke sela-sela jarinya yang menadah, kemudian membasuh wajahnya dengan air itu. Ia menatap pantulan wajahnya yang basah di cermin. Tubuhnya refleks berbalik ke belakang, ketika ia menyadari di cermin itu tak hanya dirinya saja di sana. Bayangan yeoja dengan wajah rusaknya menatapnya tajam, di saat bersamaan teriakannya memenuhi ruangan kecil itu.

Tolong aku.

Lagi, tak ada siapa-siapa di sana kecuali dirinya.

“ Apa yang kau inginkan?! Berhenti menggangguku! “

Jinki berteriak sekuat tenaga, tapi tak ada jawaban sama sekali. ia masih sempat menangkap sosok yang mengintip dari balik pintu, yang menghilang segera ketika mata mereka bertemu. Jinki berusaha mengenali wajah yang terlihat familiar itu, tapi sayang pandangannya terasa kabur. ia hampir kehilangan kesadaran, hingga tangan kekar itu menopang tubuhnya.

“ Ya! Apa kau baik-baik saja? “


Jinki membuka matanya pelan. Matanya menatap langit-langit ruangan yang putih bersih, masih enggan bangun karena kepalanya yang masih juga berdenyut keras. Sepertinya ia berada di ruang kesehatan sekarang.

“ Kau sudah bangun? “

Jinki menoleh ke samping, Minho duduk berkacak pinggang tanpa melepas pandangan darinya.

“ Kau berteriak seperti orang gila di toilet, dan juga mimisan. Apa sesuatu terjadi? “

Jinki menggeleng.

“ Apa kau masih tidak mau menceritakannya padaku? Ayolah Jinki, sebulan lebih kau bersikap aneh seperti itu. “

Jinki merubah posisinya menjadi duduk. Kedua tangannya yang tertumpu di lututnya menutupi sepenuh wajahnya. Apa ia harus menceritakan segala hal yang terjadi padanya? Bagaimana ia harus menjelaskan jika baru-baru ini ia memperoleh kemampuan psikis yang membuatnya harus dihantui bayangan yeoja dengan wajah rusak itu pada Minho?

“ Baiklah jika itu maumu. Tapi kau harus tahu, aku akan selalu berada di sisimu jika kau membutuhkanku. “

Jinki melepaskan kedua tangannya, menolehkan kepalanya untuk melihat ekspresi serius dari Minho. Guratan kekecewaan juga terpancar dari wajah tampan itu.

“ Minho ya, bisakah kau menemaniku hingga ayahku menjemputku malam ini? “


Minho menatap punggung Jinki yang tengah serius dengan komputernya. Ia bisa menebak jika Jinki sedang menciptakan rumusan baru. Mereka sudah di perpustakaan sekarang, meski jarum jam yang melengket di dinding menunjuk ke angka 00.15 dini hari. Ayah Jinki yang merupakan seorang pengalir dana terbesar tiap tahunnya membuat Jinki memiliki akses bebas menggunakan segala fasilitas sekolah kapan pun.

Minho mengerti, komputer merupakan pelampiasan Jinki karena kesibukan ayahnya di perusahaan IT miliknya. Sedang ibunya sendiri sudah tiada sejak ia dilahirkan ke dunia ini Dari Jinki lah ia memperoleh pengetahuan mengenai hacking-cracking, yang biasa mereka kerjakan di waktu luang mereka. Membobol data-data beberapa perusahaan lalu mengacaknya. Saking hebatnya Jinki, identitas mereka tak pernah ketahuan.

“ Jinki ya, apa kau lebih suka pada komputer itu daripada aku? “

Jinki menoleh sebentar, kemudian dengan cepat ia menghentikan aktivitasnya sebelum Minho akan merajuk. Dengan senyum lebarnya, ia menghampiri Minho yang menumpu dagunya di atas meja.

“ Sesuatu terjadi denganmu? “

Minho tak menjawab.

” Let me guess, ini mengenai Soojung?

Minho menggumam. Ia memang tak bisa menyembunyikan masalah apapun dari Jinki.

“ Saat pulang tadi, ia memutuskanku. Ia bilang ia tidak mau menjalin hubungan lagi dengan player sepertiku. “

“ Kalau begitu, seharusnya kau menghentikan kebiasaanmu menggoda wanita. “

Minho melirik Jinki tajam.

“ Aku hanya ingin menemukan wanita yang benar-benar tepat untukku. Aku tidak pernah berniat mempermainkan mereka. “

Jinki tersenyum. Ingin sekali ia membantu Minho, memberikannya kata-kata bijak untuk menenangkan sahabat satu-satunya itu. Tapi, ia sendiri tak tahu persoalan cinta, mengingat ia belum pernah merasakannya sama sekali. Toh, seperti biasanya, Minho akan menemukan wanita lain lagi dalam waktu yang dekat.

“ Jadi, ayahmu akan menjemputmu jam berapa? “

“ Appa bilang ia tidak bisa menjemputku. Jadi, sepertinya aku harus numpang denganmu. “

“ Mwo? Kenapa kau tak bilang padaku dari tadi?! Apa kau tidak tahu betapa menyeramkannya suasana perpustakaan ini? “

Minho bergegas meraih tasnya, diikuti Jinki di belakangnya yang mulai merapatkan tubuhnya dengan Minho.

“ Kenapa kau nempel-nempel denganku? Sana minggir. “

Minho menyenggol tubuh Jinki, membuat pria bermata sipit itu terdorong ke samping. Tiba-tiba, suara keras yang lebih mirip seperti benda yang dibanting ke lantai terdengar. Jinki terdiam, sedang matanya mengawasi ke sekeliling.

“ Ya! Kau kenapa? “

Jinki meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkan Minho untuk diam. Setelahnya, jeritan seorang yeoja melengking membuat Jinki bergegas berlari menuju sumber suara itu, yang mau tak mau Minho ikut mengekorinya. Mereka berhenti di depan pintu kelas yang sudah lama tak terpakai. Setelah memastikan suara itu berasal dari dalam kelas yang tergembok itu, tiba-tiba saja suaranya menghilang. Jinki menjinjit diikuti Minho, menerawangi sekeliling ruangan yang gelap. Degup jantungnya saling beradu kecepatan. Sedang ia menahan engahan napasnya agar tak menimbulkan suara.

Setelah lama membiasakan matanya dengan kegelapan, ditambah sinar remang-remang bulan yang menyusup masuk melalui kaca jendela membebaskan mereka untuk meneliti tiap sisi ruangan itu. Mereka berdua sama-sama tercengang, tak ada satupun di sana kecuali sebuah sepasang meja dan kursi usang yang  sepertinya sangat berdebu.

“ Sebenarnya ada apa Jinki? “

Jinki menggeleng lemas. Tapi ia segera berbalik ke samping, merasa ada seseorang yang mengawasi mereka. Benar, di sana seorang yeojayang mengintip di balik dinding. Sayang, ia tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Sadar jika kehadirannya diketahui Jinki, yeoja itu segera berlari. Jinki dan Minho segera mengejarnya, tapi sayangnya mereka telah kehilangan jejak si yeoja di tikungan sekolah megah itu.

“ Apa sekarang kau masih tidak ingin mengatakannya padaku? “

“ Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Minho. Aku tidak tahu bisa memperoleh dari mana kemampuan ini, tapi akhir-akhir ini aku selalu dibuntuti bayangan seorang yeoja. Wajahnya penuh luka. Dan ia selalu berteriak padaku. “

“ Maksudmu kau punya indera keenam? Kau bisa melihat… hantu? “

Jinki mengangguk. Pada akhirnya, ia harus menceritakan semuanya pada Minho. Pria jangkung itu menghela napas.

“ Aku pernah mendengar sebuah kisah dari Taemin, si bocah anggota klub majalah sekolah itu. Mengingatnya saja, aku sampai merinding. Katanya, ada legenda suara perempuan yang selalu menangis dan berteriak. Sepuluh tahun yang lalu seorang siswi sekolah ini dinyatakan menghilang tanpa jejak. Namun, seminggu sejak ia menghilang, tiga orang siswi di sekolah ini dinyatakan tewas bunuh diri di rumah mereka masing-masing. Setiap tanggal 13 Januari, seseorang akan ditemukan di dalam kelas tak berpenghuni tadi dalam keadaan tak bernyawa. Dan ironisnya, mereka semua adalah pemegang peringkat satu umum di sekolah ini. Taemin bilang, pihak sekolah menutup kasus ini. Karena tidak mau predikat sekolah ini menurun. “

Minho menelan air ludahnya, tapi justru ia semakin merinding dengan kalimat-kalimatnya tadi.

“ Minho ya, kau tahu besok adalah 13 Januari? “

“ Kau percaya dengan cerita itu? “

“ Ya. Dan sepertinya, aku adalah target selanjutnya. “


Jinki tetap berdiri di depan pintu ruangan kelas yang sudah tak terurus sejak sepuluh tahun yang lalu itu. Ia sudah lima belas menit di sana, tapi belum juga ia bisa menghentikan gemuruh di dadanya. Dentingan jam yang berkali-kali menunjukkan pergantian hari menuju tanggal 13 Januari terdengar seakan mendorong Jinki untuk segera berlalu dari tempat itu. Tapi Jinki tak bergeming, meski tengkuknya mulai merasakan hawa dingin yang aneh.

Setelah mengumpulkan keberaniannya, ia meraih gagang pintu. Sebelah tangannya memutar kunci di lubangnya. Posisi ayahnya yang kuat sebagai penyumbang terbesar di sekolah itu, membuatnya bisa menemukan dengan mudah kunci ruangan itu. Meski berkali-kali si penjaga mewejanginya dengan cerita-cerita mengerikan yang cukup membuatnya bergidik ngeri, tapi itu tak menjadi penghalangnya. Ia harus berbuat sesuatu. pasti ada hal yang ingin di sampaikan yeoja itu padanya.

Klek…

Gesekan ujung bawah pintu saat beradu dengan lantai, suara engsel berkarat, seakan makin mendukung terciptanya suasana mengerikan bagi Jinki yang melap keningnya yang berkeringat. Bau pengap, debu yang menyeruak masuk ke dalam ke hidungnya, spontan menggerakkan tangan Jinki untuk menutup hidung dan mulutnya.

Tolong aku.

Jinki menelan air liurnya. Baru selangkah ia memasuki ruangan itu, pintu terbanting keras. Jinki terjungkal ke belakang, kepalanya bergerak memutar. Kalau-kalau suatu pemandangan mengerikan akan tertangkap oleh matanya. Sedetik setelahnya ia bergegas ke arah pintu. Gagang pintu itu ditariknya kuat-kuat, tapi sekeras apapun usahanya, pintu itu tetap terkunci. Oh tidak, sepertinya ia sudah mengambil keputusan yang salah.

Tolong aku.

Suara itu lagi. Jinki memberanikan dirinya menghampiri meja usang yang berada di sudut ruangan. Ia mengusap tangannya di atas meja, membiarkan tapak tangannya yang bersih harus terkotori oleh debu yang menempel di meja itu.

Siapapun, kumohon, tolong aku.

Jinki memegangi lehernya, seakan ada orang yang mencekiknya, tapi sekeras apapun ia berusaha, tak ada sesuatu di lehernya itu kecuali tangannya sendiri. Ia jatuh berlutut, sementara tangannya terus menggapai lehernya, mencoba melepaskan apapun di sana agar ia bisa kembali bernapas normal.

Inikah akhir dari Jinki? Akankah ajal menjemputnya, sama seperti yang terjadi pada siswa-siswa yang ditemukan meregang nyawa tepat di ruangan yang ia tempati kini?

Jinki menyerah. Tubuhnya merosot jatuh ke samping, membiarkan kepalanya terantuk ke lantai. Dari kaburnya pandangan matanya, ia bisa melihat sepasang sepatu balet di depannya. Matanya mengerjap, kemudian setelah memperoleh kekuatan yang cukup, ia mengangkat kepalanya, meski pada akhirnya ia harus terjatuh lagi.

Bola matanya bergerak ke sudut matanya, memandangi tiap inci dari tubuh pemilik sepatu itu dari atas ke bawah. Hingga matanya bertemu dengan sorotan mata tajam itu. Jinki tersenyum tipis, tangannya bergerak sangat pelan menyentuh ujung sepatu.

“ Kau ingin mengambilku juga? “

Cekikan di leher Jinki melemah.

“ Apa kau kesepian? Karena itu kau selalu memperlihatkan keberadaanmu padaku, agar aku bisa.. uhuk.. uhuk… “

Sekarang, Jinki meremas dadanya. Ada rasa sakit di tempat itu, yang Jinki tidak tahu apa lagi penyebabnya. Tapi, kini ia berada dalam posisi yang lain. Ruangan yang tadinya kosong tak berpenghuni itu, saat ini dipenuhi oleh beberapa siswa yang sedang merapikan buku-buku mereka.

Jinki berdiri di tepi ruangan. Mengamati satu persatu di antara mereka yang sudah melewati pintu dengan tentengan tas di punggungnya, kecuali satu orang. Yeoja yang berponi rata. Yeoja itu tak bergerak dari kursinya. Ia akan menghampirinya, tapi tiba-tiba saja segerombolan yeoja yang mengerumuninya, menghentikan langkahnya.

Dari jarak antara para yeoja itu, Jinki bisa melihat bagaimana si yeojaberponi tengah menunduk dalam, ekspresi wajahnya menunjukkan ketakutan, terlihat dari bibirnya yang bergetar. Jinki menutup mulutnya. Ia berusaha menghentikan kelakuan beringas dariyeojayeoja brutal itu, tapi tangannya bahkan menembus tubuh parayeoja yang mulai menjambaki si yeoja poni.

“ Kumohon, hentikan! “

Si yeoja poni mulai berteriak memohon, sedang tangannya berusaha melepaskan tangan-tangan yang menjambaki rambutnya.

“ Sebaiknya kita potong saja rambutnya! “

Salah satu dari mereka berteriak, memberi aba-aba pada yang lainnya untuk memberikannya gunting. Ketika tangannya telah menerima gunting dari kawannya, ia mulai memotong rambut panjang si yeoja poni dengan asal.

“ Aku mohon. Hentikan. Apa salahku? “

“ Kau bertanya apa salahmu? “

Gantian kerah si yeoja poni yang ditarik, membuat napasnya yang tersengal-sengal beradu dengan wajah si pemegang gunting.

“ Karena kau menggoda Jungshin oppa! Harusnya kau ngaca! Wajahmu itu tak cantik sama sekali! “

“ Aku… aku… tidak pernah menggodanya, sunbae. “

“ Aku tak peduli apa katamu! “

Setengah jam berlalu hingga akhirnya gerombolan yeoja brutal itu segera pergi. Meninggalkan yeoja itu dalam tangisannya. Jinki melangkahkan kakinya mendekati si yeoja. Rambut panjangnya kini tinggal sebahu, sedang poninya acak-acakan, sangat pendek hingga dipastikan Jinki panjangnya hanya  satu senti lebih.

Jinki duduk di kursi depan yeoja itu. Hatinya mencelos ketika dipandangi wajah cantik itu kini terlarut dalam tangisannya. Bahkan, di sudut bibir imutnya itu, terdapat secuil darah. Tangannya bergerak ingin menghapus darah itu, tapi tiba-tiba si yeoja mengangkat wajahnya yang semula tertunduk.

“ Apa kau puas, Jinki? “

Tangan Jinki terhenti di udara. Ia bisa merasakan tatapan si yeojayang menghujat ke matanya. Apa si yeoja bisa melihat kehadirannya? Tapi suara derap langkah membuatnya menoleh. Ia tercengang melihat sosok lainnya, yang lebih mirip seperti imitasi darinya.

“ Kau tau kan mereka menyiksaku? Kenapa kau tak pernah menolongku? “

“ Aku tak punya alasan khusus untuk melakukannya. Aku tak ingin mencemari namaku, jika aku ikut berurusan dengan masalahmu. “

Sebuah sapu tangan melayang ke arah si yeoja, jatuh tepat di atas mejanya.

“ Seka darahmu. “

Si pria itu berbalik arah, tapi sapu tangan yang baru saja diniatkannya untuk si yeoja malah terlempar kembali ke arahnya. Bukannya berbalik mengambil sapu tangannya, si pria hanya melanjutkan langkahnya, tak peduli jika tatapan tajam si yeoja diarahkan padanya.


Jinki mengelus ubun-ubunnya yang baru saja terbentur di lantai. Sekarang ia berada di tempat lain lagi. Sebuah ruangan yang tak kalah pengapnya dari kelas tadi, dengan berbagai barang rongsokan yang tertumpuk di sisi berseberangan darinya.

“ Masuk! Cepat! “

Jinki menoleh ke pintu, dimana tiga orang yeoja tengah membekukyeoja lainnya yang terus meronta ketakutan. Jinki memicingkan matanya, yang dipegangi ternyata adalah si yeoja poni.

“ Lepaskan. Tidak, kumohon jangan sekarang, sunbae. “

Mereka, para yeoja itu melempar si yeoja poni ke sudut ruangan. Punggungnya menghantam dinding, menimbulkan bunyi ’buk’ untuk sesaat. Tak ada di antara mereka yang bisa memprediksi apa yang terjadi selanjutnya. Tawa mereka yang menguasai ruangan terhenti, tatkala sebuah tombak dari lemari penyimpan yang menempel dinding atas si yeoja yang sedang mengusap kepalanya, terjatuh menggores wajahnya. Mulai dari dahinya berakhir di tengah pipinya, hingga tombak itu terhenti menusuk di dadanya, tepat di jantungnya.

Si yeoja poni terbatuk, setelahnya darah mengalir keluar dari mulutnya, membasahi kemejanya yang sudah sangat basah oleh aliran darah dari dadanya. Tangannya bergerak lemah, mencoba melepaskan tombak itu dengan sisa tenaganya.

“ Tolong aku. Siapapun, kumohon, tolong aku. “

Ketiga yeoja itu plus Jinki melemas. Tak ada yang bisa memalingkan wajahnya dari pemandangan mengerikan di depannya.

“ Apa.. apa yang harus kita lakukan sekarang? “

Salah satu yeoja itu mengepalkan tangannya, kemudian tanpa memikirkan konsekuensi dari akibatnya, ia segera mendorong beberapa kardus yang menumpuk di sebelah si yeoja poni. Membuangnya satu persatu hingga setengah tubuh yang telah meregang nyawa itu tertutupi.

“ Apa yang kalian lakukan? Cepat bantu aku! “

Jinki berlari menghampiri mereka yang sibuk mendorong kardus kosong itu. Ia berusaha sangat keras menghentikan perbuatan mereka, hingga tiba-tiba sepasang sepatu itu terlihat lagi di matanya.

“ Aku benci pada kalian. Orang-orang yang selalu berada di peringkat satu, orang yang tak pernah mau merusak imagenya hanya untuk mempertahankan peringkatnya. “

Kaki Jinki tertekuk, sebisanya ia berusaha bangkit. Tapi si pemilik sepatu justru menendangnya hingga posisinya kini telentang. Akhirnya, Jinki bisa melihat wajah penuh luka itu sekali lagi. Senyum kepuasan terpancar di wajahnya, ketika kakinya menginjak dada Jinki yang tentunya langsung mengerang kesakitan. Dari sudut matanya, di balik kaca yang menempel di daun pintu itu, Jinki bisa melihat sosok Minho yang terus menggedor pintu.

“ Lee Jinki. Harusnya kau mati dari dulu! “

“ Tapi aku bukan Lee Jinki yang kau kenal! “

Yeoja itu melepaskan injakannya, langkahnya terhuyung ke belakang. Jinki memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiri tegak, meskipun akhirnya kakinya tertekuk, sebelah tangannya bahkan harus menahan lututnya agar tak terjatuh lagi.

“ Kau adalah Lee Jinki! Kau yang selalu berpura-pura tidak tahu saat mereka menyiksaku! “

“ Bukan! “

“ Tapi wajahmu mirip… “

“ Sudah kubilang bukan! “

Jinki mendorong tubuh yeoja itu dengan sisa kekuatannya ke dinding.

“ Kalau kau terus seperti ini, kau tidak akan mendapatkan apapun. Kau hanya akan terus terkurung dalam bayang-bayangan dendammu. Kau mungkin akan merasa puas jika aku mati, tapi justru itu hanya membuatmu sama seperti mereka. “

Nada suara Jinki merendah, ditatapnya sepasang mata yeoja yang sudah berlinangan air mata itu, bercampur dengan darahnya yang tak berhenti mengucur dari bekas lukanya itu. Ia menarik yeoja itu dalam pelukannya, mengusap punggungnya dengan lembut.

“Karena itu, kau harus menghentikan semuanya. “

“ Kenapa orang sepertimu tidak pernah hadir di sekelilingku? Kenapa kau tidak pernah ada untuk menyelamatkanku? “

Jinki meraih tubuh lemah itu. menariknya ke dalam pelukannya. Membiarkan tangis si yeoja pecah di dadanya. Jinki melepas pelukannya. Perlahan, luka di wajah si yeoja tertutupi sepenuhnya. Seberkas kabut, awan atau apalah itu namanya, mengerubungi tubuh si yeoja. Jinki mundur ke belakang, mengamati bagaimana yeoja itu menghilang bersama asap putih itu.

“ Jinki ya! “

Jinki hampir terjatuh, jika Minho tak segera menahan tubuhnya. Dalam kaburnya pandangan Jinki, ia menangkap tubuh lainnya yang ikut berjongkok di sampingnya. Yeoja itu adalah Boram?


Suara sirine polisi melengking memecah keheningan pagi itu di Han Kuk High School, sebuah sekolah berintegrasi IT, yang sangat terkenal di kawasan Gangnam. Untung saja, hari ini adalah hari libur. Jadi staf sekolah tak perlu memusingkan cara untuk meredakan tuntutan pertanyaan dari para siswanya.

Di suatu ruangan pengap itu, dengan dipapah Minho dan Boram, Jinki membuka pintu gudang bekas yang sudah lama tak terpakai. Bau debu yang kental menyusup masuk ke hidungnya, menggoda paru-parunya hingga mereka bertiga harus terbatuk-batuk karenanya.

Susunan kardus yang menumpuk tak beraturan menjadi pusat perhatian Jinki. Ia melepaskan papahan Minho dan Boram. Dengan langkah terseok-seok, ia menghampiri tumpukan kardus itu. Melempar satu persatu kotak karton itu ke arah sembarangan.

“ Jinki! Apa yang kau lakukan? “

Minho masih larut dalam kebingungannya, ditambah lagi Boram ikut membantu Jinki melemparkan kardus-kardus itu. Mau tak mau, Minho mengikuti tingkah mereka, hingga tiga kardus terakhir tersisa. Kerangka manusia yang masih utuh jatuh satu persatu, ikut menjatuhkan seragam putih, dengan blazer coklat sebagai penutupnya. Sebuah tombak terjatuh ke samping bersamaan.

Kaki Minho melangkah mundur, tangannya menutup setengah wajahnya tak percaya. Sedang Jinki berlutut, mengambil sisa-sisa kardus yang menutupi kerangka tulang yang terbalut seragam putri itu. Jinki meraih seragam itu, mengeja nametag di sebelah kanan baju itu.

“ Yun Hana. Jadi itu namamu. “

Tiga orang polisi menyerbu masuk ke dalam gudang itu.

“ Siapa yang menghubungi kantor polisi? “

Minho mengangkat tangannya pelan, masih juga tak berpaling dari Jinki yang menepuk seragam itu, melepaskan debu dari serat kainnya. Ketiga polisi itu bergegas menghampiri Jinki, dan mereka bertiga sama kagetnya melihat tulang-tulang yang berserakan di depan Jinki.

Salah satu polisi itu, yang lebih dulu memperoleh kesadarannya, meraih handy-talky nya. Minho segera ditarik oleh polisi-polisi itu untuk menerima kesaksiannya, setelah sebuah tandu datang bersama beberapa arkeolog khusus. Sedang Jinki dipapah oleh Boram, mengikuti mereka dari belakang.

“ Biar kutebak, yeoja yang saat itu mengintip, itu adalah kau bukan? Yang memanggil Minho saat aku mimisan di toilet waktu itu, juga kau bukan? “

“ Menurutmu? “

“ Tapi, itu berarti, kau menguntitku karena kau juga merasakan arwahyeoja itu? “

“ Ya, aku juga punya indera keenam. Tapi hey, apa jangan-jangan kau salah paham dengan niatku? “

“ Salah paham? Itu… Itu maksudmu apa? “

Jinki memalingkan wajahnya. Tak ingin jika Boram akan melihat wajahnya yang sudah memerah. Boram sendiri hanya tersenyum mendapat reaksi begitu dari Jinki, ia malah mengeratkan apitan tangannya di lengan Jinki.

“ Hey, apa kau mendengar suara itu? “

Boram tersenyum.

“ Ya, ia berterima kasih padamu Jinki. “

Apa kau sudah merasa tenang di sana? Bisik Jinki lebih terhadap dirinya sendiri. Kepalanya terangkat ke atas, memandangi luasnya langit biru yang dilapisi awan-awan putih. Satu hal lainnya yang membuat senyuman di wajah Jinki yang tak kunjung memudar. Yun Hana. Dalam  bayangannya yang berangsur menghilang waktu itu, di antara linangan air matanya, senyumannya terlihat tulus.

FIN

SHINee Fan Fiction From SHAWOLINDO

Title: Save Me

Author: Boram.Onyu

Main Cast : Lee Jinki

Support Cast : Choi Minho, Boram (author eksis juga!) *imagine all cast have same age*

Length: Stand Alone

Genre: Supernatural, Horror, Crime

Rate : PG 13+

Disclaimer : Jinki milik saya, TITIK!

Summary :       Inikah akhir dari Jinki? Akankah ajal menjemputnya, sama seperti yang terjadi pada siswa-siswa yang ditemukan meregang nyawa tepat di ruangan yang ia tempati kini?

 

View original post 4,195 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s