Embraces of The Devil [2.3]

Masih belum mendapatkan pencerahan. Padahal buku bipolar disorder setebal 500 halaman berspesialiasi mixed state sudah diselesaikannya pagi ini. Tidak tidur semalaman, dengan bekal kopi ia memutuskan untuk menghabiskan malamnya di rumah sakit lagi. Tidak banyak yang bisa disimpulkannya. Tak ada perbedaan dalam tingkatan jenis delusi dan halusinasi antara pelaku skizofrenia, ataupun psychotic mixed mania (mixed state). Pasien mixed state memiliki skor yang lebih tinggi dalam hal depresi dan rangsangan stimulasi dibandingkan para skizofrenia. Justru, beberapa kasus membuktikan terdapat kesalahan diagnosa, penukaran jenis mental disorder hingga pengidap skizofrenia dinyatakan sebagai pasien mixed state.

            Mirisnya, ia justru mengorbankan hari liburnya hari ini khusus untuk mendalami salah satu bagian dari mental disorder itu, dengan hasil yang minim. Belum lagi dengan kasus puluhan pasien lainnya yang menuntutnya secara tidak langsung untuk memutar otaknya lebih keras, maka ia memutuskan untuk berkeliling ruangan. Sekedar menyapa pasien-pasiennya untuk menanyakan kabarnya hari ini. Han Jae Hee. Ia terlihat asyik membaca Pregnancy Order, yang membuat Jinki meneguk ludah pahitnya. Efek dari Olanzapine menenangkannya dari pemberontakan yang mungkin saja terjadi.

            Jinki beralih ke ruangan lain. Beberapa di antaranya masih tidur, hingga ia memutuskan kembali ke perpustakaan, mengembalikan buku yang dipinjamnya tadi. di sana ia bertemu lagi dengan beberapa pasiennya yang menenggelamkan diri dalam buku-buku relijius. Kelompok pejuang kebenaran Injil, itu julukan mereka.

            “Pagi Dokter Lee.”

            Jinki membalas sapaan itu dengan senyuman. Jane sudah lebih dulu mengunjungi perpustakaan. Yang ditahunya, psikolog itu sering menghabiskan waktu disini untuk berkonsultasi dengan kliennya. Keberuntungan bagi Jinki, ia bisa menanyakan lagi hal-hal lainnya yang sempat terhambat kemarin.

            “Aku bisa menebak dengan mudah. Hanya satu hal yang membuat Lee Jinki sepanik itu, tidak karena pemberontakan pasiennya yang hampir membunuhnya. Tapi, Lee Eunmi. Diagnosaku benar kan?”

            “Ya, kau tahu. Anak kecil memang sulit ditebak.”

            “Dia bukan anak kecil lagi, dia adalah kaum young adult yang memerlukan bimbingan. Tidak berniat membuatnya konsultasi denganku?”

            “ Tidak sama sekali. Dia cukup membencimu.”

            Jane tertawa. Ia memang sering mendapatkan lirikan sinis dari gadis muda itu jika mereka berpapasan.

            “Minho, dia cukup berbeda dari klien bipolar disorder yang lain. Ia lebih terkontrol.”

            “Percobaan bunuh diri selama lima kali dalam sepuluh tahun berturut-turut. Agitation(1), panik berlebihan, kemarahan yang tidak wajar, tertekan tanpa alasan yang pasti. Itu yang kau sebut terkontrol?”

            “Hm, kau benar-benar membaca semua riwayatnya?”

            Jinki mencebik.

            “Baiklah. Aku masih kabur soal hypomania(2) nya.”

            “Itu adalah puncak kejayaan bagi para mental disorder. Maksudku, efek positif yang ditimbulkannya cukup menarik. Ia terjun langsung ke perusahaan ibunya menjadi supervisor lapangan, dalam waktu sebulan dewan komite mengangkatnya menjadi CEO karena kerja kerasnya. Tidak lama, ia mundur dari jabatannya. Ia kembali ke rumah sakit dengan depresi berlebihan, insomnia adalah alasannya. Dalam sehari, ia hanya tidur selama dua jam selama enam bulan.”

            “Hebat. Aku tidak menyangka jika efek hypomania bisa sedrastis itu. Aku masih heran. Tidak ada penjelasan mendetail mengenai sebabnya.”

            “Ya, itu juga sempat kutanyakan pada Dr Brown. Tapi, dia hanya bilang penderita mental disorder bisa saja menderita satu fase itu.”

            “Satu hal lagi. Aku tidak menemukan catatan apapun mengenai penyebab ia menjadi pengidap bipolar disorder.”

            “Aku rasa tidak juga. Sepuluh tahun yang lalu, waktu aku masih menjadi pegawai baru sejak transfer dari Michigan, Minho sudah menjadi klien pertamaku. Ia datang bersama ibunya, dan wanita itulah yang memberitahuku jika anaknya  mengidap mental disorder. Sedikit melanggar sih, tapi di setiap konsultasi ibunya selalu mendampinginya. Ia menolak untuk meninggalkan ruanganku, dan Minho juga menolak konsultasi tanpa ibunya.”

****

            Masih terjebak dalam kamarnya selama 3 jam, Minho memilih membunuh waktu dengan buku-buku finansial yang sebenarnya sudah diseleseikannya sejak beberapa tahun yang lalu. Merasa jenuh, ia melempar buku itu ke sembarang arah. Menyalakan TV yang menayangkan berita-berita, mengganti channelnya berkali-kali dan belum mendapat kesenangan dari sana.

            Akhirnya, ia memilih berbaring di kamarnya. Mencoba memainkan kembali skenario usang yang sudah tersimpan rapat di memorinya. Ia berusaha mengumpulkannya satu-satu, mencoba mengingat sesuatu yang disebutnya kebahagiaan. Mencari tahu alasan logis mengapa ia harus bertahan hidup hingga selama ini, tersiksa dalam kungkungan proteksi sang ibu. Bersikap pasrah ketika ia harus mendapatkan suntikan senyawa kimia, meskipun sarafnya memerintahkan tidak. Karena setelah itu, ia akan berjibaku dengan halusinasi yang mengontrol sarafnya untuk tidak melakukan hal yang diinginkannya.

            Tangannya bergerak cepat mengelus keningnya. Berpikir keras tidak dibolehkan oleh sarafnya, kembali ia mengingat tablet antipsychotic yang diminumnya. Ia tahu, sang ibu mengurangi dosisnya pagi ini, menjadi satu tablet saja. Setidaknya, ia masih bisa berpikir jernih.

            Merasa jenuh, Minho akhirnya keluar dari kamar ketika tiba-tiba pening melanda kepalanya. Oh, bagaimana bisa sang ibu lupa menutup tirai gorden hingga berkas sinar mentari itu lolos masuk melalui kaca bening jendelanya.

            “Tidak, tidak. Lepaskan aku.”

            Ia meracau. Memukul tubuhnya sendiri, kemudian berlari masuk ke kamarnya secepat mungkin. Lelaki itu menggedor pintu kamarnya. Punggung Minho harus bertabrakan dengan pintu yang terus dipaksa untuk dibuka dari luar. Saklar yang berada di kawasan tangannya segera ditindis. Hingga tak ada lagi cahaya yang tersisa di kamar itu. Tubuhnya beringsut ke bawah, tak ada lagi gedoran di pintunya.  Untuk beberapa saat ia merasa aman, beberapa detik kemudian pintu itu kembali digedor.

            Gemetar menjalari seluruh tubuhnya. Ia mencari alternatif untuk segera kabur dari lelaki itu, ia harus kabur. Itu perintah neuronnya, dan kehilangan kesadaran.

****

            Sirine ambulans melengking memecah barisan mobil yang berjejer rapi di jalan. Beberapa perawat menjemputnya segera ketika van putih itu terparkir, mendorong bangsal secepat mungkin begitu melihat kuantitas darah yang tak juga berhenti mengalir dari tubuh yang tergolek lemah itu. Sang ibu ikut mendorong bangsal, tangisnya pecah sedari tadi. Ia jatuh bersimpuh ketika bangsal itu berhasil masuk ke dalam ruang operasi. Tidak berselang lama, lelaki lain berjas putih dan seorang wanita berlari tergesa menghampiri wanita yang hampir kehilangan kesadarannya.

            “Nyonya Choi, tenangkan dirimu. Oke? Lihat aku.”

            Wanita itu, Jane, mengibaskan tangannya di depan mata Nyonya Choi. Lelaki lainnya menggeleng lemas melihat si wanita tua sudah menutup rapat mata yang masih berbekas air mata itu. Beberapa perawat dengan cekatan membantu Jinki mengangkat tubuh nyonya Choi ke atas bangsal.

            “Aku akan menemaninya sampai siuman, kau akan menunggu di sini kan?”

            Jinki mengangguk. Ia mengantar kepergian Jane dengan masih berusaha mengatur napasnya. Kehilangan kewarasannya mungkin, ia menempuh setengah mil jauh rumah sakit tempatnya bekerja dengan rumah sakit umum ini dengan bermodalkan laju kakinya. Ia tidak tahu apa yang ada di pikirannya lima belas menit yang lalu ketika asisten Jane tiba-tiba menggebrak pintu ruang kerjanya, merusak tidur yang seharusnya digunakan untuk membayar insomnia semalamnya, mengabarkan jika Choi Minho melompat dari kamar apartemennya yang terletak di lantai 3.

            Ia menghempaskan dirinya di kursi besi yang tersedia, menunggu selama sejam hingga sang dokter keluar sambil membuka maskernya.

            “Ia baik-baik saja. Kurasa ia akan segera sadar.”

            Jinki menghembuskan napas lega. Ia menunduk berkali-kali pada perawat yang keluar satu persatu dari ruangan. Setelah memakai baju khusus sesuai persyaratan umum ketika memasuki ruang UGD, ia melangkah pelan menghampiri bangsal Minho. Lelaki itu terbaring pucat dengan bantuan pernapasan di mulutnya. Beberapa perban meliliti kepala kecilnya.

****

            “Kau sudah bangun?”

            Jinki mengerjapkan matanya, berusaha mengembalikan nyawanya yang tertidur di bawah alam sadarnya. Ia tidak melihat tubuh Minho lagi, kecuali ia sendiri yang terbaring di bangsal.

            “Kau anemia. Dan satu lagi, kejutan!”

            Jane mendorong lelaki yang memakai baju pasien yang sama dengannya, Choi Minho.

            “Dialah yang mengangkat tubuhmu sejak dua hari yang lalu kau pingsan di dekat tubuhnya. Pertahanan tubuhnya sangat hebat. Ia hanya membutuhkan waktu selama delapan jam untuk memulihkan shock tubuhnya.”

         Lelaki di depannya masih menunjukkan ekspresi yang sama. Datar. Dua hari? Jinki bahkan tidak mengingat apa yang terjadi terakhir kali hingga ucapan Jane menstimulasi impuls sarafnya.

            “Aku rasa aku akan meninggalkan kalian berdua. Aku perlu mengurus pasien yang lain lagi.”

            Dengan kontak mata, Jinki segera tahu jika nyonya Choi belum juga sadar.

            “Apa kabarmu hari ini?”

            “Tidak sebaik yang kau lihat.”

            Jinki tersenyum, ia hampir bangkit dari tidurnya ketika tiba-tiba Minho menahan tangannya.

            “Apa aku bisa memercayaimu seperti aku mengatakan segalanya pada Dr Brown?”

            “Tentu saja. Aku tahu ini baru pertemuan kita yang kedua kali, tapi kau bisa menganggap aku sebagai temanmu.”

            “Ucapan kalian sama semua. Seperti sebuah naskah tertulis yang terus terulang-ulang untuk dijalankan para pemerannya.”

            Menaikkan alisnya, Jinki melepas genggaman Minho. Ia menurunkan kedua kakinya hingga bergantung di atas bangsal.

            “Benarkah? Kalau begitu, kau ingin menganggapku apa?”

            “Cheonsa.”

****

            Konsultasi hari ini sepertinya akan berjalan lancar. Kedua lelaki itu menghabiskan waktu di ruang inap yang mereka putuskan untuk dipakai bersama, bersenda gurau layaknya teman yang baru saja bertemu setelah puluhan tahun berpisah. Minho mulai membuka diri, menjelaskan bagaimana ia mencintai science-fiction, dan menemukan fakta jika mereka berdua adalah penggemar dari novel The Milligan Wars.

            “Aku tidak suka pada karakter Allen.” kata Minho. “Dia selalu tampil seperti bos, menguasai panggung seolah-olah dia adalah pemeran protagonis.” lanjutnya.

            “Bukankah Sang Guru yang menetapkannya? Ia lebih cemerlang dibanding karakter-karakter lainnya, dan lebih masuk akal dalam menentukan langkah apa yang harus diambil Billie.”

            Minho menggeleng. Sinar di matanya seperti berapi-api. Jinki berhasil memancingnya untuk berdiskusi.

            “Tidak! Ia pasti sudah menekan sang guru, lalu berpura-pura  menawarkan solusi untuk membantu Billie. Aku ragu jika semua karakter sudah berfusi, aku yakin Allen berhasil membunuh Billie, Tommy, Ragen, dan yang lainnya. Lalu Danny, ia malang sekali. Ia hanya dibutuhkan untuk meredam rasa sakit.”

            Jinki tersenyum. Halusinasi. Minho membayangkan Billy Michigan sehidup mungkin dari bagaimana ia menginpretasikan sosok itu seperti ia mengenal Allen.

            “Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?”

            “Orang harus berhenti saling menyakiti. Itu adalah Allen yang berbicara. Wanita sok suci yang mengagungkan perdamaian.”

            “Tapi bukankah itu justru bagus? Billy tidak harus dihadapkan pada pengadilan, atau dilemparkan ke Lima lagi bukan?”

            “Tetap saja! Dia pembunuh! Dia membunuh Billy yang asli, Arthur, dan beberapa karakter lain. Ia mungkin saja penyelamat, tapi kenyataan jika ia mengurung dan mengubur mereka adalah fakta yang tidak bisa diterima. Bagimu mungkin ia penyelamat, tapi bagiku ia seperti malaikat maut yang memperlambat kematian seseorang dan menyiksanya pelan-pelan. ”

            Jinki mengangguk mengerti, mencoba menunjukkan ia menyetujui ucapan  Minho. Sekaligus menenangkan emosi Minho untuk tidak meledak. Ia tidak dalam kondisi terbaiknya untuk menangani Minho yang memiliki potensi besar untuk memulai gejala mixed state. Agitasi, kecemasan, kelelahan, iritabilitas, panik, tertekan dan marah.

****

            Jinki membuka tirai, setelah sebelumnya menekan saklar lampu. Ia membuka jendelanya, mencoba menghirup udara segar sebagai timpalan ia menghabiskan waktu berjam-jam di dalam ruangan pengapnya. Matanya tertuju pada kawanan lelaki berseragam militer yang berbaris teratur. Sang pemimpin memberi aba-aba untuk istirahat sejenak, ketika ia menemukan Jinki menatapnya dan menyambutnya dengan lambaian tangan. Ia mengenalnya, Han Taejin. Wanita muda yang baru saja mendapat rekomendasi pekerjaan tetapnya sebagai psikolog, setelah setahun menjadi percobaan dirumah sakit ini.

            “Pagi, Dokter tampan.”

            Ia menggoda Jinki, seperti yang biasa ia lakukan pada klien-kliennya. Termasuk lelaki-lelaki yang memasuki masa menopausenya disana. Bedanya, mereka gila dan Jinki waras.

            “Kudengar kau punya pasien baru yang tampan, mau mengenalkannya padaku? Siapa namanya?”

            “Dia pasienku, Jin-ah. Jangan mencoba merebutnya dariku.”

            “Pelit! Padahal aku ingin berbagi rahasia denganmu mengenai Minho.”

             Jinki tertawa. Kemudian menyentilkan jarinya di dahi Taejin.

            “Kau bahkan berpura-pura tidak tahu namanya tadi, babo.”

            “Ya! Aku menyerah. Bagaimana dengan makan malam nanti. Ada sesuatu yang ingin kuceritakan mengenai Minho.”

            “Oke, sepanjang kau tak menganggap ini adalah kencan. Aku sudah punya tunangan.”

            Taejin mengumpat, kembali menguar tawa Jinki hingga gadis itu kembali bergabung bersama pasukannya patriot palsunya.

****

            Berjalan semulus yang diharapkan. Sesi tanya jawab dengan beberapa pasiennya berakhir dengan mendapatkan kepercayaan mereka. Sedikit demi sedikit. Berusaha menggali kenangan yang sempat terkubur dalam hati mereka, seperti terapis yang dijalankan pasien pada umumnya. Tiga tahun ia bekerja sebagai psikiater di pusat penanganan mental disorder di soeul itu setidaknya membuahkan hasil, mendapat kepercayaan para penderita skizofrenia adalah dengan menemukan pembicaraan yang pas, mengenai halusinasi mereka yang segera menuntun Jinki pada hipotesanya. Kekerasan adalah hal paling umum yang memiliki andil besar dalam mengembangkan tahap skizofrenia mereka.

Seperti pagi ini, ia  bahkan melewatkan waktu istirahat bersama Minho. Mendiskusikan masa kecilnya, beberapa hal yg menjadi poin catatannya adalah dia pernah punya ayah. Ia sudah lupa bagaimana tampangnya, tapi ia ingat tubuh kekarnya yang selalu menggendongnya mengelilingi rumah. 6 bulan tercatat, dia mengadakan konseling bersama Jinki. Ia dengan terbuka menceritakan halusinasinya, mencatat beberapa hal yang dianggapnya penting untuk segera dimasukkan ke dalam catatan laporannya.

Pernah sekali, Jane meminta pihak rumah sakit untuk memasang kamera pengawas di ruangan Jinki. Sehari sebelumnya, Jinki hampir saja kehilangan nyawanya menghadapi pasiennya yang tiba-tiba mengacungkan pisau padanya. Tidak terduga, ibu Minho histeris meminta menghilangkan seluruh kamera itu, dan ia membawa Minho pulang. Konselingnya ditunda hingga Jinki berhasil meyakinkan rumah sakit untuk melepas seluruh kamera itu.

Kebanyakan masa konsulnya ditemani oleh sang ibu, tanpa segan justru wanita itu kerap kali menginterupsi percakapan mereka. Menghentikan kalimat Minho yang dianggapnya sudah di batas kewajaran, seperti ketika ia menceritakan bagaimana setan menyembunyikan tanduknya, menutupinya dengan sayap putih seakan-akan ialah sang malaikat.

Jinki seringkali mendengar bualan itu dari Minho. Sejenis, tema yang sama, tapi dengan cerita yang berbeda. Pretend. Semua konsultasi Minho mengingatkannya pada lirik Secondhand Serenade kesukaan Eunmi. It seems all of these words couldn’t be further from the truth. Sama pada kasus Minho, dan ribuan penderita mental disorder lainnya. Ia tidak bisa mempercayai, juga tidak bisa untuk menutup mata atas seluruh pengakuan Minho. Sudah pasti itu dari bualan halusinasinya, tapi kalian tahu? Ia sudah menjadi psikiater sejak tiga tahun yang lalu.

Pengalamannya mungkin masih minim, tapi ia terlatih untuk menghubungkan korelasi tiap konsultasi pasiennya. Seorang penderita mental disorder tidak mengarang cerita begitu saja. Ada alasan untuk itu, dan kebanyakan merupakan clue yang diberikan secara tidak langsung oleh alam bawah sadar mereka. Mengaitkan benang merahnya, lalu mendapatkan kesimpulan penting yang berpengaruh penting pada pasiennya, kemajuan atau justru kemunduran.

“Minho menjalani pendidikan sekolah menengahnya di Apguejong, bersamaku. Kami tidak begitu dekat.  Aku masih empat belas tahun saat itu. Aku tidak tahu jika ia sudah menderita gejala mixed state, dan teman-temanku juga. Ia tipe penyendiri. Ia tampan, banyak yang memberi surat cinta padanya. Tapi suatu hari ia menangis sejadi-jadinya. Semua temanku takut, hanya aku yang mendekatinya saat itu. Dan aku sempat memeluknya, karena kupikir ia akan membaik dan berhasil. Tangisnya mulai reda. Aku sempat mendengar bisikannya, dia bilang ‘aku juga ingin mencintai perempuan, tapi aku tidak bisa’.

Aku tanya lagi kenapa, dan dia bilang ‘aku sudah dikutuk oleh malaikat, aku akan terjerat rantainya dan tidak bisa melepaskan diri darinya’. Aku mengelus punggungnya, berusaha untuk menenangkannya. Aku sangat ingat, dia mengatakan ini sebelum ibunya datang ‘ingatlah, Taejin. Malaikat tak selamanya mulia, dia juga bisa  menyamarkan setan yang merupakan sosok aslinya’. Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya, kecuali waktu itu kupikir dia benar-benar gila.”

“Lalu, apa yang terjadi setelahnya? Apa kalian mulai dekat setelah itu?”

Taejin menggeleng, mengisap sari jeruk dari jusnya.

“Lebih buruk dari itu. Aku tidak melihatnya keesokan hari, besoknya, lusanya, minggu depannya lagi. Ketika kutanyakan pada wali kelas kami, ternyata dia sudah pindah sekolah. Aku pernah menceritakan ini pada Dr Brown, dan aku tidak mengerti. Besoknya, pengumuman mengundurkan dirinya tersebar.”

            “Dokter Lee…”

Jinki mengerjapkan matanya, Jane berdiri di sampingnya menatapnya cemas.

“Kau terlihat pucat, kau insomnia lagi?”

“Bisa dibilang begitu, tapi tidak sepenuhnya.”

“Pacarmu tidak pernah mengunjungimu lagi. Ada masalah?”

“Bisa dikatakan tidak, bisa juga ya.”

“Maksudmu?”

“Aku membatalkan janji makan malamku dengan keluarganya. Dan ini sudah keempat kalinya. Aku tahu, ini adalah momen yang penting. Tapi aku tidak bisa meninggalkan pasienku dalam waktu bersamaan.”

            Jinki menenggelamkan wajahnya di balik lipatan tangannya, hembusan napasnya dipantulkan meja mengenai wajahnya.

            “Mau kuberi saran? Kau memang harus merilekskan dirimu, Jinki. Kau bekerja seperti robot belakangan ini. Kulihat, kau bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit ketimbang rumahmu. Aku tahu, kau seorang workaholic, tapi juga bukan alasan untuk melupakan kontak dengan dunia luarmu kan?  Aku ragu, jika nantinya kegilaan pasien itu bisa tertular padamu.”

            “Mereka tidak gila, Jane. Mereka hanya tersesat, memerlukan pembimbing untuk mendapatkan arah jalan yang benar.”

            “Kau berusaha mendikteku?”

            “Jane, aku tidak sedang ingin berdebat.”

            “Baiklah aku mengerti itu. Pertimbangkan saja saranku, oke?”

****

            Tangannya terkepal, meremas plastik yang membungkus tangkai tanpa duri itu, sesekali ia mencium baunya sebagai terapi khusus untuk menenangkan dirinya.

            “Selamat malam.” basa-basinya tak ditanggapi Eunmi, justru pintu hampir tertutup jika kakinya tak bergerak cepat ia jepit di sela pintu.

            “Aku sendirian di rumah, ahjussi. Aku tidak mau desas-desus menyebar keluar jika aku mempersilakanmu masuk.”

            “Eunmi, dengarkan. Aku punya alasan.”

            “Pasienmu. Aku sudah mendengar itu ribuan kali, oppa. Jadi, tidak usah-usah membuang waktumu dengan percuma.”

            Eunmi kembali menutup pintunya, dengan tiba-tiba ia menarik buket bunga mawar di tangan Jinki.

            “Kau berusaha menggodaku dengan bunga? Aku alergi pada bunga. See? Untuk hal sekecil ini saja kau tidak tahu.”

            Tertutup sempurna. Sempat bunga itu terlempar ke dadanya, membuat Jinki memijit keningnya. Lagi, pening menghinggapinya. Ia menyandarkan kepalanya pada sisi pintu, mencoba mengurangi denyut di kepalanya ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi.

****

            “Sikap Minho sangat aneh hari ini, Jinki.” katanya. Jane memintanya kembali ke rumah sakit, ada beberapa keganjalan yang ingin ia diskusikan. Dan jadilah Jinki di tempat ini sekarang, ruang kerja Jane. Memandangi kecemasan wanita itu yang sangat tidak biasa.

            “Dia baik-baik saja. Dia menjalani diskusi denganku pagi ini.”

            “Tidak. Ah, maksudku setelah dia menjalani konseling denganmu. Yesus, aku sudah sering melihat mata kosong, tapi ini tidak. Minho seperti mayat hidup. Apa kau menyuntikan haloperidol(3) padanya?”

            “Tidak, kau tahu prosedurku kan? Aku tidak pernah memberi pasienku obat, kecuali…”

            Jane menunggu. Tapi Jinki belum bereaksi.

            “Kecuali apa Jinki?” pintanya memaksa, ia pun harus mengikuti arah mata Jinki. Kakinya melemas, mulutnya yang terbuka ditutupnya dengan sebelah tangannya. Jinki mengulang pembacaan tabel itu berkali-kali. Kadar haloperidol Minho dalam tubuhnya sampai 120 mg dalam sehari. Melebihi situasi maksimal yang diperbolehkan, 100 mg. Oh, bodohnya. Ia lupa mengecek catatan kesehatan Minho, dan lebih memfokuskan dirinya pada konseling.

            “Kapan ia menjalani tes ini, Jane?”

            “Itu adalah prosedur yang biasa dijalani pasien.”

            “Siapa yang meresepkan obat-obatan ini padanya?”

            “Kau satu-satunya psikiater yang menanganinya.”

            Jinki mengernyit, ada nada curiga dalam kalimat Jane.

            “Aku tidak pernah memberikan dosis lebih dari 50 mg dalam sehari, Jane. Bahkan untuk kategori paranoia skizofrenia sekalipun.”

            “Maafkan aku Jinki. Aku tidak berusaha melebihkan, kau tahu. Tapi kau bisa saja mendapatkan hukuman atas alasan rendahnya pengawasan.”

            “Rendahnya pengawasan? Kau menyalahkanku untuk itu? Gunakan akal sehatmu, Jane. Semuanya sudah salah sejak aku menangani Choi Minho. Ia seorang dysphoric mania, agitated depression. Dia mengalami halusinasi berlebihan selama bertahun-tahun, tapi pihak rumah sakit tidak melakukan upaya apapun untuk memasukkannya ke sini. Kau punya alasan lain yang lebih wajar?”

            “Aku tidak bermaksud untuk… lupakan… Ini tidak akan selesai jika kau terus meneriakiku, sekarang cobalah untuk bersikap tenang, oke?”

            “Maafkan aku.”

            Menjatuhkan diri di sofa lembut itu, Jinki kembali memijit keningnya.

            “Bukannya tidak berusaha sama sekali. Rumah sakit sudah pernah mengupayakan itu. Aku dan Dr Brown menjadi penanggung jawabnya. Kasusnya cukup rumit, bahkan Komisi Perlindungan Anak ikut andil dalam ini. Minho masih di bawah umur, menurut hukum, seorang ibu mempunyai hak untuk merawat anaknya. Tidak terkecuali untuk anak dengan kondisi mental terganggu.

Sesuai permintaan pengadilan. Minho di bawah pengawasan untuk menemukan kondisi di mana ia bisa berbahaya untuk dirinya sendiri, ataupun orang lain. Kami menyerah saat itu. Minho tiba-tiba menjadi anak baik yang penurut. Kami memutuskan untuk berhenti. Dan lagi, tenaga medis yang tersedia sangat minim. Dan masih banyak pasien yang harus kami tangani.”

            “Tidak, sekarang Minho sudah dewasa. Aku rasa kita bisa mencobanya lagi.”

            “Kendali nyonya Choi sangat kuat. IDia penggalang dana terbesar rumah sakit ini. Aku rasa, itu adalah salah satu alasannya mengapa persidangan waktu itu dihentikan tiba-tiba oleh rumah sakit. Menggunakan dana pemerintah saja tidak cukup. Kita memiliki begitu banyak pasien disini, belum lagi seperempat jumlah pasien adalah tunawisma dan tidak mempunyai keluarga, harga obat-obatan juga tidaklah murah.”

            “Sialan!”

            Jane ikut duduk di samping Jinki. Ia meremas bahu lelaki itu, seperti biasa yang ia lakukan pada klien-kliennya untuk memberi ketenangan. Ia mendesah kesal, ikut mengumpat. Kemudian berdiri membuka laci meja kerjanya.

            “Hei, Jinki.”

            Mata Jinki terbuka sedikit. Tergesa ia menangkap sesuatu yang dilemparkan Jane padanya. Besi, dari dingin yang dijalarkan pada telapaknya. Membuka kepalan tangannya, sebuah kunci dengan mata tiga.

            “Dr Brown menitipkan ini padaku. Katanya, aku harus memberikan ini padamu jika keadaannya mendesak.”

            “Kunci?”

            “Itu kunci apartemen Minho.”

****

            Bukannya bersikap skeptis, ia masih ragu memutar kunci itu ke dalam lubangnya. Tidak, keputusan harus di ambil. Hasilnya, menegangkan. Sungguh di luar kendalinya, ia masih bingung ketika kunci di tangannya benar-benar bekerja. Pelan ia membuka pintu, ketika tiba-tiba pemilik apartemen menariknya masuk segera, lalu menutup pintu setelah sebelumnya ia melirik keadaan di luar. Jinki kehilangan kesempatan untuk bertanya, keheranan mengambil alih kesadarannya lebih dulu. Kondisi apartemen itu benar-benar kacau.

            Sofa tidak berada tepat di tempatnya. Kakinya hilang sebelah, dengan hamburan botol-botol kecil di sekeliling lantai. Penyedot debu masih tertempel di sofa, memberi sinyal jika seseorang telah meninggalkan tempat itu dalam keadaan terburu-buru.

            “Bagaimana bisa kau memiliki kunci ini, Dokter Lee?”

            Napasnya tersengal, seperti yang dikatakan Jane saat mereka bertemu di rumah sakit tadi. Mata Minho memerah, bibirnya pucat, pipinya seperti lebam terkena pukulan. Pemukul kriket yang ditendangnya tak sengaja membuat Jinki kembali menarik hipotesanya.

            “Ya Tuhan. Siapa yang melakukan ini padamu, Minho?”

            “Kau belum menjawabku, siapa yang memberimu kunci ini?”

            Tidak berniat menjawab, Jinki meraih dagu Minho, memiringkannya untuk memperjelas seberapa buruk bekas kebiruan itu. Oh, bahkan masih ada bekas darah dari lubang telinganya.

            “Ya Tuhan, kau harus ke rumah sakit, Minho. Aku akan mengantarmu.”

            “Tidak, tidak sekarang. Ibuku akan segera datang, kau pulang saja dokter.”

            Jinki menggeleng. Beberapa pertanyaan masih berkecimpung di kepalanya, matanya justru tak sengaja menemukan sepasang kaki yang muncul dari balik pintu. Minho lebih gesit, ia mendorong Jinki keluar dan menggunakan tubuhnya sebagai tameng untuk menahan Jinki tidak masuk.

            “Apa yang terjadi, Minho? Katakan padaku!”

            “Jangan mencampuri urusanku, dan segera pulang!”

            “Aku doktermu, aku punya hak untuk tahu. Sekarang biarkan aku masuk dan melihat keadaan, oke?”

            “Aku mohon, dokter Lee. Aku mohon, pulanglah. Aku mohon dengarkan permintaanku kali ini saja. Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti. Jangan ceritakan apapun yang kau lihat malam ini. Aku bersumpah, aku akan membayarmu untuk itu.”

            “Tidak, Minho. Dengarkan aku. Aku akan menyelamatkanmu.”

            “Malaikat itu sudah merantaiku, aku tidak akan pernah bisa lepas darinya. Aku membutuhkannya, dan dia membutuhkanku.”

            Kembali meracau. Kemudian menangis tersedu, Jinki memeluk tubuh yang lebih tinggi darinya. Ia merasakan kehangatan tubuh Minho yang membalas pelukannya, hingga ia merasakan sebuah hantaman keras di kepalanya. Oleng, ingatan terakhirnya adalah seorang wanita dengan tampak kabur,di tangannya terdapat sebuah stick golf. Darah pekat menetes dari ujungnya.

            “Mianhe, Dokter Lee…”

            Itu yang bisa ditangkap oleh telinganya, kemudian semua gelap.

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s