Embraces of The Devil [3.3]

Pening yang dirasanya menyerang seluruh sistem rangka Jinki, tak sadar ia melenguh. Matanya sulit membuka. Ada cairan pekat yang merekatkan bulu matanya. Darah. Bau bacin tercium hidungnya, membuatnya mereka kejadian terakhir yang ia alami. Belum mendapat jawaban, Jinki berusaha mengangkat kepalanya. Di saat itu pula, perihnya semakin terasa. Ia mengeluh lagi.

            Berusaha keras memerintahkan sarafnya untuk bekerja sama,  agar penglihatannya tak kabur lagi, ia mendapati lelaki yang terbujur kaku berseberangan darinya. Kelopak matanya mengerjap. Ubun-ubun mengilat tanpa rambut, tubuh proporsional, ia tahu siapa orang itu. Dr Brown.

            “emph…”

            Tidak punya kuasa untuk berbicara. Jinki baru sadar, rasa kering di bibirnya disebabkan lakban hitam yang merekat di sana. Mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, saraf perasanya mengirimkan impuls ke otaknya, ada tali yang mengikat kedua rangka gerak utama di tubuhnya.

            Sialan! umpatnya dalam hati. Ia melirik jas putih yang masih menutupi kemejanya, oh, betapa ingatannya baru kembali. Dan sekarang, kemana lelaki itu? Ia memutar kepala sejauh yang ia bisa, masih interior yang sama. Ia hampir terjengkang ke belakang, jika saja tubuhnya tak terikat pada kursi besi itu ketika matanya bertatapan langsung dengan mata bulat lainnya.

Minho. Tidak ada ekspresi di wajah itu. Masih di bawah pengaruh haloperidol, angkatan pertama dari antipsychotic yang masih juga menunjukkan kejayaannya dalam pengobatan psikiatrik dalam kondisi yang serius.

             “mmph…”

            Berjuang mengeluarkan suara untuk mendapatkan perhatian Minho. Tetapi lelaki itu tetap duduk tenang di tempatnya. Ia menonton sedari tadi, mengganti channel setiap lima menit sekali.

            Pening menyerbu  kepalanya. Tak berusaha melawan, ia mengikuti perintah otaknya. Tertidur.

****

            “Aku tidak akan membiarkan anakku melakukan konseling denganmu!”

            “Kenapa tidak, nyonya?”

            Jinki membujuk wanita itu untuk segera kembali ke ruangannya,menatap Minho sesekali yang memberi ekspresi, seperti penyesalan.

            “Kau memasukkan kamera itu ke ruanganmu! Kau pikir aku tidak tahu? Kau memata-matai kami? Oh tidak dokter, kau bisa menipu pasien lainnya. Tapi tidak, tidak sama sekali untuk anakku.”

            “Kami tidak berusaha memata-matai kalian. Itu hanya prosedur.”

            “Prosedur katamu? Omong kosong itu sudah kudengar berkali-kali. Kau berusaha merebut anakku dariku kan?”

            “Tidak sama sekali, nyonya Choi. Di sini aman. Aku bisa menjamin itu. Percayalah, kondisinya akan semakin membaik jika ia dirawat di sini.”

            “Kau berusaha mengatakan padaku jika anakku gila? Dia tidak gila! Dia sangat waras! Aku tidak akan menarik ucapanku, dia tidak akan melakukan konseling jika kamera pengawas itu masih ada di sini!”

****

            Kembali terbangun dari alam bawah sadarnya. Jinki mencoba mengumpulkan kekuatannya bahkan untuk sekedar mengangkat kepalanya. Energinya terkuras. Darah di kepalanya sudah mengering, menutupi koyakan luka yang disebabkan oleh hantaman sesuatu yang keras.

            Kembali mengingat. Stick golf, wanita dengan wajah yang kabur. Ia mencoba berkompromi dengan sarafnya, untuk meredakan rasa sakit di kepalanya agar ia bisa berpikir jernih. Getaran di sakunya membuyarkan konsentrasinya. Jinki menengok sesaat ke sekeliling, Minho masih berfokus pada televisinya.

            Akankah Tuhan telah menjulurkan tangan untuknya? Memberinya kesempatan untuk meminta bantuan agar ia bisa terlepas dari jeratan seorang psikopat? Oh, ternyata tidak. Ia ingat tangannya terikat, kakinya pun tak bisa membantu. Lantas, apa yang bisa dilakukannya agar ia bisa menekan tombol-tombol ponselnya? Sama saja dengan nol.

             “Dokter Lee…”

            Jinki membuka matanya, menatap tajam pada lelaki yang masih juga belum menunjukkan ekspresinya.

            “Aku sudah memperingatkanmu. Ini salahmu.”

            “mmmph…”

            “Aku akan melepas lakbanmu, apa kau haus?”

            Diam.

            “Baiklah, kuanggap jawabanmu tidak.”

            “mmmph…”

            Jinki bernapas lega, mengalirkan udara dari mulutnya ketika lakban terlepas dari mulutnya. Tanpa aba-aba, sebuah gelas ditekankan pada celah bibirnya. Air mengalir melewati kerongkongan keringnya. Mulutnya hampir tersegel lakban lagi.

            “Tidak, tunggu sebentar Minho. Biarkan aku bicara.”

            “Sang malaikat akan segera datang, aku tak punya waktu yang banyak untuk mendengarmu.”

            “Cukup, Minho! Sampai kapan kau akan diperbudak ibumu?”

            “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, dokter.”

            “Jangan berpura-pura tidak tahu. Malaikat itu, malaikat berkedok setan itu, dia adalah ibumu kan?”

            Minho menggigit bibirnya, kemudian menjulurkan lidahnya untuk membasahi bibir bawahnya.

            “Aku memang malaikat, tapi aku bukan setan, dokter Lee.”

            Sekali lagi, hantaman kriket mengenai pelipisnya. Kehilangan kesadaran, dan segalanya menjadi hitam sebelum melihat sang ibu tersenyum licik padanya.

****

“Apa kau suka membaca Alkitab?” Jinki menggeleng.

            “Kau seorang atheis?”

            “Tidak juga. Aku seorang Protestan yang tidak taat. Mengunjungi gereja hanya pada perayaan besar. Ada apa?”

            “Tidak merasa berdosa?”

            Kerutan di dahinya mulai timbul, Jinki memperbaiki letak kacamatanya.

            “Aku tidak punya waktu untuk melakukannya. Alkitab adalah laporan kesehatan pasienku, gerejaku adalah rumah sakit ini, dan aku berkhotbah untuk pasienku sesekali, menjadi penawar racun untuk luka-luka mereka.”

            “Kau akan dikutuk, dokter.”

            “Kenapa begitu?”

            “Tuhan tidak suka hamba yang melupakan-Nya. Dengan malaikat-Nya, ia bisa mengirimkan bala kutukan untukmu.”

            “Lalu bagaimana dengan malaikatmu? Apa ia termasuk kiriman Tuhan untukmu?”

            Meremas jarinya tak sabaran, membasahi bibir bawah dengan lidahnya, Minho berusaha meredakan gemuruh kegugupannya.

            “Hanya kau yang kuberitahu ini dokter.”

            Menangkap isyarat Minho dari bisikannya, Jinki memajukan badannya. Nampaknya lelaki itu akan membuka rahasia besarnya, begitu dipikir Jinki. Meski ia bisa menebak akan ada bumbu halusinasi lagi dalam pengakuannya nanti.

            “Aku ini pendosa. Aku melakukan dosa yang besar, dan kurasa malaikat itu akan menyakitiku lagi.”

            “Berdosa? Apa yang kau lakukan?”

            Jakunnya bergerak naik turun. Minho menarik napas dalam-dalam.

            “Aku membunuh, dan memilih jalan pemberontakan bersama malaikat itu. Aku sudah mengatakannya bukan? Malaikat itu, hanya wujudnya saja yang bersayap. Hatinya gelap, tak ada warna lain kecuali hitam di dalamnya.”

            “Kau membunuh?”

            “Aku mohon, dokter. Jangan katakan ini pada siapapun, aku tidak mengatakan ini pada siapapun. Tidak pada ibuku, Dr Brown ataupun Jane.”

             Mengangguk. Jinki mengedipkan matanya tak percaya. Ia melihat gemetar di bibir Minho, matanya yang memerah, dan tubuhnya yang bergerak maju mundur.

****

            “Eomma bawa jajangmyun, makanan kesukaanmu Minho sayang.”

            Tidak bereaksi. Minho memilih menjemput kantongan yang sempat terabaikan oleh Nyonya Choi di atas lantai. Ada ceceran darah mengering di atas marmernya. Memasukkan bahan makanan satu persatu dalam kulkas, kemudian menyiapkan meja makan dengan hidangan jajangmyun dalam kotak plastik.

            “Terima kasih telah menjaganya untukku, sayang.”

            Belaian lembut di wajah Minho didapatkannya sebagai hadiah. Ia menutup matanya, menikmati pancaran keibuan dari Nyonya Choi yang menatapnya hangat.

            “Aku rasa, kita harus membebaskan mereka.” pinta Minho di suapan terakhirnya. Tak ada kehangatan, tersisa sorotan tajam yang cukup membekukan Minho di tempatnya.

            “Maksudku adalah, ini bisa menarik kecurigaan orang-orang terdekat mereka.”

            “Dan ketika kita membebaskan mereka, kau akan mendekam di rumah jagal itu.”

            “Rumah sakit, eomma. Bukan- “

            “Kau tahu, Minho? Aku tahu ini akan terjadi. Keyakinanmu akan goyah. Dan itu membuatku, merasa… kau tahu…”

            Meninggalkan sisa makanannya, nyonya Choi menghampiri tubuh terikat yang kehilangan kesadarannya itu. Dalam sekali gerakan, ia menarik rambut yang dipenuhi darah mengering.

            “Sudah bangun, Dokter Lee?”

            Kerjapan mata yang lemah, tapi bisa ditangkapnya sang ibu tersenyum. Wanita itu membuka plester hitam di mulutnya ketika didengarnya gumaman lemah.

            “Neo micheoso…”

            Senyum memudar. Tangan kurusnya menarik rambut itu, menyisakan beberapa helai rambut Jinki dengan darah keringnya. Lelaki itu mengaduh, tidak cukup keras, ia tidak punya tenaga untuk itu. Sebuah sapu tangan melengket di hidung nyonya Choi. Tidak punya waktu untuk menebak siapa yang telah membiusnya, ia segera pingsan.

            Minho mengangkat tubuh sang ibu masuk ke dalam kamarnya, memakaikannya selimut, kemudian menyalakan medical brewer.

            “Sang budak membangkang pada tuannya, ya?” sindir Jinki. Minho sudah duduk di depannya.

“Bisa menjelaskan padaku kenapa wajahmu bengkak begitu?”

Jemarinya saling meremas, Minho membuang pandangannya ke lantai.

“Ibumu yang melakukannya?” tanyanya hati-hati. Minho menatap mata Jinki tak suka. Kerutan di keningnya membuat Jinki bisa menangkap perubahan ekspresi itu segera, menjadikan hipotesanya kemungkinan besar sudah pasti benar.

“Apa dia sering melakukan itu padamu?”

Tak menjawab lagi, Minho menggigit bibir bawahnya. Sebuah tindakan yang secara tidak langsung berarti ya bagi Jinki, membuat lelaki itu mengumpat.

“Dia tidak gila. Ibuku hanya menghukumku karena aku melakukan tindakan tercela. Aku mendengar pembicaraannya dengan Dr Brown.”

Giliran Jinki yang mengerutkan keningnya, melirik sekilas pada tubuh yang masih tergolek lemas di sampingnya.

            “Apa kau mau dengar ceritaku, dokter Lee?”

            “Kenapa aku harus?”

            “Karena kau dokterku. Kau adalah cheonsa ku.”

****

            Salju meleleh, bunga bermekaran, menyerbakkan wangi yang memesona bagi siapapun pengagumnya. Daun-daun bermunculan kembali dari ranting kecoklatan yang rapuh, burung-burung tak bersembunyi lagi dan kembali bercengkrama di dahan-dahan pohon. Seakan ikut merayakan kebahagian menyambut musim semi setelah berbulan-bulan dirundung pilu kehilangan sarang mereka yang terhempas angin, tenggelam dalam salju.

            Tapi tidak bagi anak lelaki yang membaringkan dirinya pada rumput hijau yang menunjukkan kejayaannya kembali, setelah menyerah akan kesombongan salju menutupi kesegaran daun-daunnya. Anak lelaki itu gemetar. Ia menutup matanya rapat-rapat. Berusaha mematikan fungsi seluruh inderanya. Berpura-pura tidak tahu ketika langkah kaki semakin mendekat padanya.

            “Pagi, Minho sayang.”

            Masih enggan membuka matanya. Ia tahu, lelaki tua itu ikut berbaring di sebelahnya. Ia bahkan bisa mencium aroma kental alkohol. Tak berselang beberapa detik, tangan lelaki tua itu mulai menyentuh wajahnya. Turun ke dadanya, perutnya, hingga celananya. Tangannya yang terselip dalam saku celananya tertarik, dituntun oleh tangan lain yang lebih besar untuk kemudian diciumi.

            “Kau tahu, appa lapar. Tapi, bukan makanan. Aku menginginkanmu. Kau mengerti kan, Minho?”

            Air matanya menetes, jatuh membasahi rumput yang menjadi pembaringannya.

            “Kau menangis? Brengsek! Hey, gadis kecil cengeng! Berhenti menangis!”

             Tidak kunjung menenangkan dirinya, justru air matanya mengalir semakin deras. Tamparan yang ia dapatkan, tubuhnya dibalik dalam satu hentakan hingga ia telentang, dan tubuh lelaki tua itu menindih tubuhnya yang lebih kecil.

****

            “Ayahmu yang melakukannya? Dia… em…”

            “Ya, dia menyetubuhiku sampai puas. Semakin aku menangis, penyiksaannya tidak akan berhenti. Dia memuaskan dirinya, tidak peduli jika aku memohon ampun. Kau tahu? Aku benci sinar matahari sejak saat itu. Aku benci padanya yang menjadi saksi mati bagaimana aku diperlakukan tidak adil. Aku benci pada kebungkamannya, seolah menikmati pertunjukkan ayah dan aku. Aku benci sinar matahari, dia mengingatkan aku bagaimana- ”

            Kalimatnya terhenti, diselingi tangisan Minho. Pedih sekali. Jika saja Jinki dalam posisi yang bebas, ia akan merengkuh tubuh Minho. Meredakan getaran di bahunya, antara marah, jijik dan juga benci, itu yang ditangkap Jinki dari wajahnya yang merah padam.

            “Aku turut menyesal. Kapan umurmu waktu itu?”

            “Aku tidak ingat dengan jelas. Tujuh atau delapan tahun, mungkin?”

            “Lalu, bagaimana dengan ibumu? Apa dia tak menghentikan ayahmu?”

            “Tidak. Aku tidak punya ibu.”

            Menautkan alisnya, Jinki meminta penjelasan dengan ekspresi kebingunannya.

            “Malaikat itu datang suatu hari. Dia membawaku pergi dari neraka itu, dan mengadopsiku sebagai  anaknya.”

            “Tapi, tidak seberuntung yang kau kira. Aku akan mati dalam hitungan jam, bukan? Entah itu di tanganmu, atau di tangan ibumu. Tidak ingin menceritakan sesuatu lagi? Menurutku, akan lebih mudah jika kau ingin berbagi.”

            Meremas kuat jari-jarinya, Minho berusaha menenangkan diri. Ia tidak suka mengais sejarah lama yang sudah terkubur dalam-dalam.

            “Dia adalah malaikatku. Dia menyelamatkanku dari mimpi burukku-”

            “Dan memberimu mimpi buruk lainnya. Biar kutebak, dia mengontrolmu dengan haloperidol? Atau amfetamin secara berlebihan untuk membangkitkan hypomaniamu?” sambung Jinki. Minho bungkam. Ia tidak tahu apa nama obat itu. Senyawa kimia yang mengontrol otaknya secara keseluruhan, menciptakan halusinasi lain yang membuatnya kehilangan kenangan masa lalunya, membiarkan dirinya menjadi mayat hidup sesekali.

            Pemukul kriket yang telentang bebas di samping tubuh Dr Brown diambilnya.

            “Tidak berusaha melawanku?”

            “Kau bercanda? Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, kepalaku sudah pening sejak…  entah beberapa jam yang lalu. Lagipula hidupku sudah hancur, sepertinya. Aku sudah kehilangan yeoja ku, pasienku menjadi tak keruan, mengancamku dengan pemukul kriket. Dan lebih parahnya, aku tidak menyadari jika malaikat yang selama ini kau ceritakan adalah ibumu sendiri. Tanda-tandanya sudah jelas, tapi aku menolak dugaanku, dan membiarkan seorang penderita skizofrenia merawat anak untuk kemudian menjadi sepertinya. Psikiater macam apa aku ini?”

            Minho mengangkat bahunya, mengatakan kemudian, “Aku ikut berduka mengenai yeoja mu.”

            “Kau orang baik, dokter Lee. Kau cheonsa ku. Karena itu, kalian harus mati segera sebelum kalian melumuri diri dengan dosa lagi.” sambung Minho lagi.

            “Aku? Kenapa aku ini cheonsa? Lalu bagaimana denganmu?”

            “Aku bisa merasakan kehangatan ketika disisimu, dokter. Aku tidak mengerti kenapa. Sedang aku… aku adalah pendosa. Aku membunuh Choi Minho dari dulu, dan menghidupkan Choi Minho lain yang sudah menjadi budak malaikat. palsu.”

“Aku tidak yakin jika hatimu menginginkan itu.”

“Aku sudah membunuh sekali, mengapa menurutmu aku tidak bisa membunuh sekali lagi?”

            Tamparan mengenai pipi Minho. Cukup keras hingga otot pipinya merasa kebas.

            “Apa yang kau lakukan pada ibumu?”

            “Mianhae, eumma, aku hanya…”

            “Aku mengerti perasaanmu sayang.”

            Jinki melengos. Ia memandang bagaimana sang ibu memeluk anaknya, memberinya ketenangan. Dan Minho tersedu-sedu di atas bahu sang ibu, betapa menyedihkan lelaki itu di mata Jinki.

            “Kau menyayangi eomma kan?”

            Dengan gumaman Minho menjawabnya.

            “Bisakah kau membunuh dokter Lee?”

            Melepas pelukannya, kemudian menatap tajam sang eumma, tak cukup untuk meruntuhkan ketetapan hatinya. Tak juga mendapat respon, tamparan menjadi ganjaran untuk Minho.

            “Aku membesarkanmu untuk menjadi tidak secengeng ini Minho! Kau berani menentangku? Kau ingin kukembalikan ke rumah kumuh itu? Hidup bersama ayahmu lagi? Kau mau itu?”

            Diserang kepanikan. Minho berjongkok segera, ia menutup kepalanya. Berusaha menghilangkan cuplikan kenangan yang tiba-tiba saja berkelebat dalam bayangannya. Minho menggeleng kuat, menangis kemudian meraung-raung. Ia memukul dirinya, menendang udara kosong di depannya berkali-kali. Bayangan lelaki tua itu, yang menyentuh tubuhnya dengan sentuhan nakal, mengotori kesucian tubuhnya. Minho meronta melepaskan diri, lagi-lagi ia terjebak dalam halusinasinya.

****

            “Baiklah, waktumu sudah habis dokter Lee.”

            Berpacu dalam kecemasannya. Jinki berusaha menampilkan ekspresi datar, mencoba mementahkan ancaman nyonya Choi yang memungut kriket yang sempat terlantar itu. Nyatanya tidak, seperti bom waktu, ia hanya menunggu detik-detik terakhir hingga kriket itu menghantamnya berkali-kali. Menghilangkan nyawanya dalam beberapa menit ke depan.

            “Kau tahu Minho, aku sungguh menyesal tidak benar-benar menjadi cheonsa mu. Aku tidak bisa melumpuhkan ingatan menyedihkanmu. Aku tidak bisa…”

            Plak! Satu kali pukulan mengenai pipi kirinya. Ia terbatuk, memuntahkan darah dari sela mulutnya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk bernapas, hingga pukulan kedua ataupun ketiga. Jinki tersenyum, lebar sekali hingga darahnya pun tak mampu menutupi lengkungan bibirnya.

            “Masih bisa tersenyum, dokter Lee?”

            “Ternyata kau benar-benar gila, nyonya Choi.”

            “Apa katamu? Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah malaikat Tuhan, aku mendengar bisikan-Nya setiap waktu. Aku mendengar perintah-Nya untuk menyelamatkan Minho.”

            “Ah ya, bisikan Tuhan. Ternyata kau seorang paranoia skizofrenia.

            Nyonya Choi tertawa, mengambil kesempatan untuk meregangkan otot lengannya yang sedikit kejang setelah mentransfer tenaga pada kriket di tangannya.

“Beberapa hal masih membingungkanku? bagaimana bisa kau berkelit dengan penyakitmu itu? Mengapa kau tetap bisa memimpin perusahaan? Dan mendapatkan pasokan obat yang cukup untuk menghidupimu dengan tanpa halusinasi?”

“Bukannya sedikit congkak, kau bisa menyebutnya anugerah Tuhan. Aku adalah orang pilihan. Kecerdasan yang luar biasa. Aku melewati masa kuliahku di jurusan bisnis dan farmatologi sekaligus. Puji aku, jika kau menginginkannya, Dokter Lee.”

Mengerutkan alisnya. Seorang skizofrenia mengalami kesulitan dalam memfokuskan diri terhadap sesuatu. termasuk belajar, ataupun bekerja.

“Uang tidak pernah berbohong, dokter. AKu berhasil mendapatkan ijazahku dengan sogokan. Aku tidak sepenuhnya belajar, tapi aku sempat tahu pengetahuan mengenai obat psikotik.” jawabnya setelah melihat raut tanya di wajah Jinki.

“Kau hebat, nyonya Choi. Ada hal lain yang mau kau sampaikan? Ceritakan padaku masa lalumu. Itu akan meredakan sedikit bebanmu, kukira.”

“Berusaha mengulur waktuku, dokter?”

Menggeleng kuat, padahal peningnya melarang Jinki untuk menggerakkan lehernya sedikit saja. toh, keras kepalanya sanggup mengempaskan rasa sakit itu.

“Aku akan mempersingkat kisahku, karena aku tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi untuk nyawamu yang akan melayang beberapa menit lagi. Aku dibesarkan oleh ayah yang luar biasa… tidak tahu diri, tidak bermoral, dan juga sakit jiwa. Aku dibesarkan tanpa ibu, dan menjadi media penyalur kebutuhan seks ayahku. Setiap kesalahan kecil yang kulakukan akan meninggalkan memar di tubuhku.”

Tatapan yang sarat akan kebencian sirna menjadi genangan air di pelupuk matanya. Nyonya Choi mengusapnya, kemudian tersenyum tipis pada Jinki yang menatapnya iba.

“Tidak perlu merasa bersalah ataupun kasihan padaku, dokter. Setelah kematian ayahku, seluruh warisan diberikan padaku. Setidaknya, pengorbananku tidak berakhir sia-sia. Setelah itu, aku mulai mendengar bisikan Tuhan yang menuntunku untuk menemukan anak malang itu. Dan aku bertekad, untuk melindunginya, untuk menyembuhkannya agar ia tak menjadi seperti ayahku. Aku ingin dia normal, dokter.”

            “Apa kau punya wahyu lain dari Tuhan, nyonya Choi? Tidak berniat membaginya denganku?” nada serak Jinki menghentikan lamunan nyonya Choi.

            “Dengan senang hati, dokter. Kau tahu apa yang dibisikkan padaku tadi? Aku harus membunuhmu, juga dokter bodoh ini.”

            Menendang lengan Dr Brown yang terkulai tak berdaya, nyonya Choi kembali mengambil ancang-ancang untuk melakukan pukulan selanjutnya.

            “Itu bukan bisikan Tuhan, nyonya Choi. Kau sakit! Oh demi Tuhan. Aku bisa membantumu, hentikan pemberontakanmu, nyonya. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu dan juga Minho, konsel-“

            “Tutup mulutmu!”

            Kekuatan terakhirnya terkuras. Jinki menggeser tubuhnya sedikit, menjatuhkan ponselnya mendekati kaki nyonya Choi.

            “Brengsek!” layarnya masih menunjukkan sepersekian menit sambungan teleponnya dengan entah siapa di seberang sana. Dalam hitungan detik, gebrakan pintu terdengar. Beberapa personil muncul dengan pistol di tangannya. Nyonya Choi segera memeluk anaknya. Minho sendiri tak berhenti meraung.

            “Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh anakku.”

            Ia menuntun Minho untuk berdiri, mundur selangkah demi selangkah menghindari pasukan polisi khusus yang terus merangsek maju mendekatinya.

            “Anda hanya perlu menyerahkan diri, nyonya. Dan juga anakmu.”

            “Dia hanya boleh dirawat olehku! Dia tidak akan masuk penjara! Dia adalah anakku! Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang dilakukan psikiater-psikiater bodoh itu? Aku juga bisa melakukannya! Aku tidak akan pernah memasukkan anakku di tempat berkumpulnya para serigala.”

            Bersikeras dan terus mencoba menarik tubuh Minho untuk ikut bersamanya. Nyonya Choi memutar otak. Menarik berbagai siasat untuk bisa melarikan diri dari situasi pelik ini. Sesaat setelah idenya untuk menembus polisi dengan bermodalkan tekadnya, dan dor! Sebutir timah panas menyusup masuk ke tendon betisnya. Nyonya Choi berlutut, mengerang. Seluruh tubuhnya mengejang, tapi ia masih menguasai dirinya. Ia menutup matanya pelan, melihat pertambahan kuantitas polisi yang terus mendekati mereka. Ia menyerah, mendekatkan bibirnya pada telinga Minho yang semakin bergetar mendengar suara letusan pistol beberapa detik tadi.

            “Aku mencintaimu, Minho. Kau adalah anakku, aku mencintaimu. Aku akan melindungimu apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu terkurung dan mengumpankanmu pada serigala-serigala psikopat. Oh tidak. Maafkan aku sayang, eumma melanggar janji kali ini. ”

            Kedua kakinya memanjat pada kusen jendela, membiarkan punggungnya terkena angin malam yang menembus baju tipisnya, mengenai kulitnya hingga menusuk tulang belakangnya. Ia memecahkan kaca dengan tangannya, membiarkan pecahannya jatuh satu persatu. Sedetik, ia ikut bergabung dengan pecahan kaca itu, melambungkan dirinya di udara, menghempaskan dirinya di atas runtuhan kaca.

****

Jika ada yang pantas untuk menggambarkan suramnya langit di atas sana, maka kelabu kehitaman merupakan jawabannya. Bulir air mulai berjatuhan, tidak deras, tidak juga gerimis. Di bawahnya, di salah satu tempatnya di muka bumi beberapa payung hitam menaungi manusia dengan pakaian serba hitamnya.

“Terima kasih telah menghubungi Eunmi waktu itu. Aku mungkin akan mati jika kau tak melakukannya.”

Minho diam. Ia tak mengalihkan pandangannya pada gundukan tanah bertabur bunga-bunga segar dengan aneka warna. Sudut mata Jinki tak sengaja teralih pada sebelah tangan Minho yang bebas, tidak lagi terkepal, terbuka bebas.

“Eummamu, dia mencintaimu.”

“Aku tahu itu.” tukas Minho, ia tidak ingin mendengar suara lain kecuali gemerisik air yang bertabrakan dengan sisi atas payung ataupun tanah. Ia mencoba menikmati harmoni suara itu, sekedar terapi ringan menenangkan gemuruh di dadanya.

Jinki mengusap air matanya, menyimpulkan betapa untuk seorang yang kehilangan kewarasannya, ia harus memuji kesungguhan itu. Cinta, ia memiliki cara tersendiri untuk merealisasikan kehadirannya. Nurani mungkin sudah terhapus dalam prinsip sekaligus nilai-nilai moralnya. Ia tidak memiliki semua itu sebenarnya, ia telah dikalahkan oleh penyakitnya. Oleh halusinasi yang tak berujung.

Ya, ia mungkin telah kalah. Tapi tidak dengan cintanya. Cinta itu menjadi pondasi harapannya untuk bertahan hidup. Cinta itu sebagai bukti kepeduliannya untuk melindungi miliknya yang berharga. Cinta itu adalah wujud nyata kasih seorang ibu dalam keterbatasannya. Cinta itu. The infinite love from a mother to her son.

Amazingly to know that there were no difference between love and madness – Boram

****

Epilog

Kedua pergelangan tangannya dilingkari dengan borgol besi, lantas ia memilih menatapi lantai, membiarkan kedua lengannya diapit oleh tangan kekar lainnya. Jinki menatap sendu lelaki tua itu. Dua polisi yang mengiringnya mundur segera setelah Jinki menghalangi langkah mereka. Tetap dengan jarak tak jauh dari satu meter, mereka menyandar di tembok. Sekedar memberikan privasi untuk Jinki dan Dr Brown yang kini saling bertukar pandang.

“Maafkan aku.” Jinki mendesah pelan. Semua kalimat yang terangkum tadi sudah menghilang, kecuali rasa iba yang tersisa melihat wajah penuh luka itu, meski sebenarnya wajahnya sendiri juga bengkak dengan memar kebiruan.

“Katakan jika tuduhan terhadapmu salah, dokter.”

Dr Brown menggeleng lemas, menyurutkan semangat Jinki untuk melakukan pembelaan terhadapnya.

“Aku senang karena kau telah menyelamatkan Minho, dan juga aku. Semuanya akan sia-sia jika aku mati. Jangan menatapku seperti itu, aku memang pantas mendapatkannya. Semua penyiksaan yang akan kulalui seumur hidupku nanti tidak sebanding dengan kejahatan yang sudah kulakukan.”

Air matanya menggenang, Jinki mengusapnya segera.

“Ya, aku tahu jika ibu Minho seorang skizofrenia. Aku juga bekerja sama menyembunyikan penyakitnya. Aku mengizinkan obat-obatan yang diminta Nyonya Choi untuk mengendalikan anaknya. Aku mengajarinya cara menyuntik, dosis obat yang diperlukan. Aku menyalahkan profesiku, mengotorinya dengan godaan untuk kenikmatan sesaat. Aku berdosa, Jinki.”

Tidak perlu waktu lama, Jinki memeluk Dr Brown. Marahnya sudah menguap sedari tadi.

“Aku mungkin akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu, dokter.” hiburnya kemudian sebelum melepaskan pelukannya. Kedua polisi itu kembali menggiring Dr Brown menuju kerumunan massa, dengan kilatan cahaya kamera para reporter yang haus akan berita kasus suap itu. Beberapa pengawal mencoba melindunginya dari serangan tanya bertubi-tubi dari para reporter.

“Istrinya sakit parah, leukimia stadium tiga. Dia butuh biaya yang banyak untuk pengobatannya.” jelas Jinki ketika Jane menatapnya tak setuju untuk dukungan moral yang diberikan Jinki pada Dr Brown. Seketika, ekspresi Jane menjadi iba.

“Hei, kau mau kemana? Pengobatanmu masih dilanjutkan!”

Jinki tidak menjawabnya. Ia hanya melambaikan sebelah tangannya dengan senyum yang dipaksakannya. Bibirnya seperti robek ketika ia memaksakan sudutnya untuk melengkung. Ia jengah dengan rumah sakit, ia benci pada bau obat-obatan. Untuk saat ini, ia ingin mengistirahatkan diri untuk mendinginkan kepalanya sebelum kembali berkutat dengan pasien-pasiennya.

Ia menunduk, meski lehernya seperti mau patah ketika ia melakukannya. Untuk mengalihkan perhatiannya, ia menghitung jumlah ubin yang dilewatinya. Dan berhenti ketika sepasang sepatu memijak ubin yang akan dihitungnya lagi. Ia bergeser ke samping, justru pemilik sepatu itu kembali menghalanginya.

“Ahjussi. Bahkan dengan wajah bonyok seperti itu, kau tetap tampan.”

Rengekan itu sangat dikenalnya. Jinki mengangkat kepalanya pelan, terpana untuk beberapa saat melihat gadisnya mengusap air matanya.

“Aku ingin mendaftar jadi pasienmu. Aku selalu dibayangi wajah ahjussi setiap saat. Bahkan, bisikan yang selalu kudengar adalah suaramu. Katakan padaku, aku sudah gila kan?”

Jinki tersenyum. Perih di bibirnya tak terasa lagi. Tangannya justru meraih bahu Eunmi, merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Menghirup aroma Eunmi yang selalu disukainya, menikmati debaran jantung gadisnya yang hampis sama kencang dengan miliknya. Ia tidak lagi memikirkan apa-apa,kecuali membisikkan kalimat di telinga gadis itu. Kalimat yang untuk pertama kali dalam seumur hidupnya yang akan dikatakan pada satu-satunya perempuan di antara jutaan di muka bumi ini.

Saranghae, Eunmi-ya.”

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s