Dream

tf_ringdingdong_gif_01

Note : Sudah dipublish lebih dulu di SF3SI dalam rangka perlombaan Write For Taemin.

Seharusnya ia tahu, peristiwa ini tidak akan terjadi padanya jika saja ia tetap memilih menjadi citizen yang tak dikenal. Sayangnya, waktu tak bisa diputar kembali dan Taemin harus terjebak dalam siksaan yang tentu bukan ia saja yang mengalaminya. Ratusan anak seumurannya mungkin menderita jauh lebih buruk darinya. Tak jarang ia menemukan satu dua anak yang diberitakan memilih jalah terburuk untuk mengakhiri penderitaan mereka: Bunuh diri. Taemin berkali-kali memikirkan hal yang sama, tapi mengingat luka yang akan ia tinggalkan, akal sehat memerintahkannya untuk bertahan.

Ia harus mengelus perutnya berkali-kali hingga memutuskan tak mengikuti pelajaran selanjutnya, karena ia tak akan bisa mengontrol ekspresi saat nyerinya makin memburuk. Dan lagi, ia tak bisa menemukan alasan jika saja songsaenim menanyakan sebab sakit perutnya. Atau yang lebih penting, ia tak bisa berbohong. Sisi relijiusnya menolak untuk satu perbuatan tercela itu.

Kembali ke rumah terlebih lagi. Orang tuanya akan cepat menyadari kejanggalan pada putra bungsunya, terutama Taesun. Lelaki itu terlalu mengenal dirinya, dan ia akan mendapat siksaan selanjutnya. Bukan secara fisik sebenarnya, jauh lebih buruk dari itu. Ia akan didiamkan selama berjam-jam berikutnya hingga ia berjanji akan menceritakan segalanya pada appa eomma, meski sampai sekarang ia tidak benar-benar melakukannya.

Tapi, pilihannya tidak banyak kali ini. Ia terlanjur rindu pada penganan buatan sang ibu, terlebih pada anjing peliharaannya. Maka diputuskannya kembali ke dorm, setahunya keempat hyung sedang disibukkan oleh jadwal yang ditetapkan sang manager. Ia pun tak perlu berurusan dengan pertanyaan persoalan membolosnya.

Taemin akan melewati beberapa jam selanjutnya bermanja dengan lembutnya bantal yang sudah diabaikannya selama berminggu-minggu ini dihabiskan di ruang latihan, lalu memesan taksi dan menikmati tidur selanjutnya di balik kursi pengemudi. Ya, ia memang harus melakukannya mengingat dua minggu lagi ia harus kembali ke stage, menghadiri acara reality show untuk mendongkrak promosi lagu terbaru mereka yang berarti masa tidurnya harus dikorbankan lagi.

Untungnya, Taesun terlampau baik untuk menjadi kakak lelakinya. Setiap sabtu malam saat Taemin melakukan kunjungan ke rumah, ia akan mendapat kompres air hangat. Dalam diam, ritual itu terus berlanjut tanpa seorang pun yang tahu. Kedua lelaki itu akan larut dalam tangisan yang tidak pernah diwarnai kata, meleburkan pilu masing-masing dalam pelukan hangat persaudaraan tanpa menuntut cerita. Karena dengan kontak mata saja, Taesun sudah tahu seluruh alur ceritanya. Terlalu menyedihkan baginya ketika ia tak bisa menjalankan peran sebagai pelindung adiknya, membiarkan Taemin yang harus menanggung luka sementara ia hanya bisa diam.

“Taesun ah, Taemin ah, waktunya makan.”

Ketukan berkali-kali di pintu segera dijawabnya sebelum sang ibu akan menaruh kecurigaan. Dalam sekian detik Taesun akan menghapus air mata dengan punggung tangannya. Begitu pun Taemin. Ia akan tersenyum, ikut membantu Taesun meredakan tangisnya lalu memeluk kakaknya sekali lagi.

“Kau sudah berjanji tidak akan mengatakan ini pada siapapun kan?”

Taesun mengumbar tawa perih, kemudian meninju lengan Taemin pelan, “Bodoh,” katanya kemudian mengelap air matanya sendiri.

“Berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja, oke?”

Percakapan mereka ditutup Taemin dengan anggukan mantap. Lantas ia mengompres mata Taesun dan miliknya sebelum mereka bergabung di meja makan.

****

Satu-satunya kebanggaan Taemin di masa kanak-kanaknya adalah DVD sebagai hadiah saat ulang tahun kedelapannya. Dari sana, ia mulai mengenal Michael Jackson. Dan sudah seharusnya ia berterima kasih pada kehadiran King of Pop yang berjaya di tahun 80-an itu yang membantu menemukan jati dirinya.

Seingatnya, selalu ada suatu masa ketika Taemin mulai menyalahkan keterbatasan pengalaman hidup yang berujung pada minimnya pilihan yang tersedia. Seperti sudah ditetapkan dalam aturan massal yang haram untuk ditentang, generasi muda dipaksa menghabiskan waktu di atas lembaran putih yang dihiasi jejeran huruf membentuk kalimat rapi. Bersaing menjadi yang terbaik, berusaha mencetak nama di jajaran paling atas pada pengumuman hasil ujian dengan tujan utama diincar perguruan tinggi ternama, meraih posisi terhormat sebagai anak idaman  para ibu, menjadi salah satu dari kalangan terpelajar yang berhasil memasuki perguruan tinggi dengan SAT tertinggi, lalu akhirnya menjadi apa?

Memakai baju berkerah dengan dasi, duduk di depan komputer. Jika beruntung, promosi akan didapatkan lalu tahap selanjutnya angka di belakang koma pada rekening akan melonjak perlahan. Dalam artian lain, uang adalah penentu segalanya. Title yang tersandang di nama adalah kehormatan. Itukah yang dinamakan kesuksesan dalam hidup?

Taemin hampir gila oleh anekdot-anekdot yang ditanamkan dari sang ayah ketika dewi fortuna sedang di sisinya. Ia meraih gelar lulusan terbaik dari sekolah dasarnya saat itu.  Dan mulailah beban kebanggaan dilimpahkan padanya. Taemin mengerti itu, pun dengan Taesun. Keluarga mereka tidaklah dimewahi harta materi seperti para tetangga, suatu kewajaran ketika sang ayah menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Dibanding menuruti, Taemin lebih sigap membuat pilihan-pilihan baru yang sewajarnya belum terpikir anak seusianya yang kecanduan cara praktis: tetap mengikuti adat tradisi. Jalan teraman terpilih, kendati tak peduli pada mimpi yang pernah terajut. Masa muda tergadaikan untuk masa depan yang menjanjikan, setidaknya memiliki gaji rutinan setiap bulanan nanti bisa dijadikan penghiburan fana.

Taemin tahu benar ganjaran yang harus diraihnya demi mewujudkan mimpinya menjadi seorang entertainer. Rasio keberhasilannya bisa sampai satu banding seribu Ditambah lagi, pilihan yang ditujunya harus menuai tumbal.Sayangnya, Taesun harus menjadi korbannya.

Perjanjian sudah terucap tanpa lisan, di bawah salib kayu mahoni Taesun bersumpah melupakan mimpinya dan berusaha mati-matian memperoleh nilai terbaik setiap tahunnya di sela pekerjaan paruh waktunya di toko. Penghasilan ayahnya tak akan mampu membiayai pendidikannya sekaligus Taemin yang sudah terdaftar menjadi trainee SM kala itu. Ia tahu, bayang-bayang menjadi atlet bisa dimentahkannya. Tapi tidak dengan Taemin. Saudara kecilnya itu tidak akan bisa hidup tanpa menari, dipikirnya bakat Taemin terlalu sayang untuk dilepaskan.

            Ia berusaha mengabaikan, tapi tetap saja mimpi itu terus memaksa masuk dalam perputaran kenangannya. Iri pada rekan yang berhasil lolos ke kejuaraan basket nasional tetap ada. Tapi melihat bagaimana Taemin menguasai panggung dengan dance nya, betapa lebarnya senyum itu ketika menjadi bintang tamu di beberapa reality ataupun variety show teranyar –sebut saja Star King- itu sudah cukup, dan Taesun tidak pernah menyesal untuk keputusannya.

****

Ketika kau merasa lebih dibanding siapapun, kau tidak akan ragu membusungkan dada, unjuk diri sebagai yang terkuat dan mulailah mahkota kekuasaan menjadi milikmu. Semua orang akan kau taklukkan. Tidak seorang pun bisa mengalahkanmu. Kau rajanya.

Berulang kali mengucapkan kalimat-kalimat itu dalam hati, Jiwon mulai menganalisis targetnya. Mengendus takut yang terpancar jelas dari raut yang berjalan sambil menunduk itu, Jiwon nyengir lebar lalu menghampiri korban selanjutnya.

“Halo, Lee Taemin ssi…”

Mimpi buruk terlalu dini untuk dikatakan karena bunga tidur itu hanya akan berlaku ketika manusia sudah beristirahat dari dunia nyata. Tapi pengecualian ini berlaku bagi Taemin. Konotasi malapetaka yang diplesetkannya menjadi mimpi buruk itu akan terjadi beberapa menit lagi dan ia benci pada ketidakberdayaannya untuk melawan dua pasang tangan yang kini mengapit lengannya.

Doa terus-terusan terucap dalam hati, berharap simpati Tuhan berpaling padanya. Sayangnya, Taemin tidak memperoleh keistiwaan untuk terbebas dari hukuman yang akan diberikan padanya. Ia pun menghibur diri dengan iming-iming lonceng yang akan segera berbunyi lima menit lagi, meski itu bukan jaminan khusus perih akan ditangguhkan.

Bukk!

Taemin merasa lidahnya kelu bersamaan dengan punggung yang bertabrakan dengan pagar besi. Ia benci pada hukum momentum kelenturan kawat besi itu hingga ia harus terjerembap ke depan.  Taemin sempat memuntahkan darah. Dinginnya lantai beton itu layaknya mendukung tinju Jiwon hingga kebasnya dada yang terbentur beberapa detik tadi harus kena imbasnya juga. Tidak cukupkah dengan sakit di perutnya hingga dadanya pun harus mendapat perlakuan yang sama?

Dagunya terangkat, tapi sulit bagi Taemin untuk menerka kejadian selanjutnya karena pening di kepala menjadikan pandangannya kabur. Yang bisa ditebaknya hanyalah Jiwon menyeringai puas sembari melap darah yang tersisa di sudut bibir Taemin, sedang sebelah tangannya terselip masuk pada saku baju Taemin dan menarik selembar seribu won disana. Untungnya, Jiwon sedang berbelas demi melihat darah di ibu jarinya.

“Cih, artis tidak selamanya kaya. Besok kau harus memberiku lebih banyak dari ini, kalau tidak…” mengepalkan tinjunya tepat di depan hidung taemin, lantas Jiwon menyeringai dan segera pergi setelah memberi kode pada kedua anak buahnya yang sedari tadi hanya menonton.

Taemin tahu benar mengapa perutnya saja yang selalu menjadi incaran. Anggota tubuh bagian itu takkan menimbulkan bekas luka yang menimbulkan kecurigaan. Dan lagi, sakitnya akan segera dihilangkan oleh istirahat panjang, meski dampaknya berarti ia harus kehilangan selera makan.

Mengumpat kecil, barulah Taemin punya tambahan tenaga untuk membalikkan tubuhnya dan kembali menghibur dirinya jika ia baik-baik saja. Mantra itu terus dirapalnya dalam hati. Hingga ia sudah merasa ngilu di ulu hatinya berkurang sedikit, Taemin meraih tasnya dan memutuskan mengikuti pelajaran selanjutnya.

****

Keringat sudah memenuhi wajahnya, lantas itu bukan alasan baginya menghentikan latihan rutin yang selalu dilakukannya selepas pulang sekolah. Detik selanjutnya ia tak lagi sendiri. Di sekelilingnya sudah bergabung empat orang yang bersiap akan melatih kekompakan gerakan mereka. Yang paling tua memberi kode terlebih dulu pada Taemin yang sepertinya sulit mengatur napas, tapi si maknae mengangguk cepat menekankan untuk segera memulai latihan mereka.

Diiringi lagu Ring Ding Dong yang sudah direkam sejak beberapa hari lalu,  Onew memimpin latihan sebagaimana posisi leader yang dipercayakan padanya. Sayangnya, matanya terlalu jeli untuk melewatkan ketidakseriusan  Taemin dan ketika ia menoleh meminta pendapat, ia sadar bukan dirinya saja yang sadar jika sesuatu terjadi pada Taemin. Tanpa isyarat, Jonghyun segera mematikan speaker lalu bergabung bersama member lainnya mengelilingi Taemin.

“Apa yang terjadi padamu? Kau sakit?”

Minho memulai interogasinya pertama kali, disambut Taemin dengan gelengan. Desahan tidak puas bersamaan diajukan keempatnya, hingga Onew berinisiatif membubarkan inspeksi mendadak itu setelah mendapat persetujuan dari kawan-kawannya.

“Ayo, temani aku membeli cemilan,” ajaknya setelah meminta Key memimpin latihan. Taemin tidak menolak, lagipula sepertinya ia memang butuh bantuan pangan untuk membangkitkan moodnya kembali.

Onew mendudukkannya di sudut kafe kemudian memesan sandwich  dan dua cangkir hot chocolate. Dari sudut matanya, ia bisa melihat member SHINee yang paling pertama dikenalnya itu menundukkan kepala berkali-kali pada sunbaenim yang kebetulan juga menikmati snack midnite.

“Angkat kepalamu. Kurasa lehermu itu butuh diregangkan sesekali,” katanya setelah meniup minumannya.

“Kau tidak mau menanyaiku?”

“Kau kira sehebat apa kau ini sampai aku sangat perlu mendengar ceritamu, heh?”

Wajahnya mendadak terasa panas, matanya pun sama, hingga ia memilih membuang muka menatap asap hasil penguapan hot chocolate itu. Menggunakan alibi jika asap mengepul itulah yang menyebabkan matanya memerah, jika saja Onew menanyainya. Meski ia ragu Onew akan percaya, atau ia bahkan tidak peduli sama sekali.

“Sudah kuduga, mereka mem bully mu lagi.”

Taemin mengangkat muka, raut tanya jelas terpancar dari wajah beningnya. Untuk kondisi tertentu, Onew pasti gemas melihat membulatnya sepasang mata yang hampir dipenuhi air itu.

“Aku tahu. Dan mereka semua tahu. Kami setuju untuk berpura-pura tidak tahu, karena kami juga pernah berada di posisimu. Tapi, sepertinya kami salah duga. Kasusmu lebih parah dibanding kami, mungkin.”

“Aku tidak mengerti maksudmu, hyung,” jawabnya sambil memainkan ujung jarinya pada tepi cangkir.

“Diejek, diperlakukan berbeda, kami sudah melewati itu semua. Bedanya, kami memiliki keistimewaan yang lain dibanding denganmu. Sahabat, kami memiliki itu sedang kau tidak.”

Taemin menundukkan kepalanya lagi, mulai memahami arah pembicaraan Onew akan berakhir di mana.

“Aku tidak tahu apa kau memang tipe introvert seperti aku, tapi kau memerlukan teman, Taemin. Kau ini seumpama angin. Kau berada di dekat kami, tapi kami tidak benar-benar merasakan kehadiranmu. Kami tidak akan menuntutmu untuk bercerita. Hanya saja, jangan menutup hatimu terlalu lama. Manusia juga perlu untuk membagi luka sesekali. Lagipula, kau tidaklah sekuat Rambo yang bisa melawan ratusan penjahat bukan?”

Bahunya bergetar. Onew bahkan sulit membedakan jika si bungsu kesayangannya ini benar-benar sedang menangis. Bahkan ketika Taemin mengangkat kepalanya, disertai kedua sudut bibirnya yang melengkung ada air mata yang mengalir disana.

“Humorku jelek ya?”

****

Taemin pernah berjanji tidak akan terluka lagi di pertemuan selanjutnya. Hanya saja, ikrarnya mesti terabaikan hingga ia merasa menghabiskan waktu di stasiun kereta pilihan yang benar. Pulang ke dorm akan menimbulkan kekhawatiran bagi hyung-hyungnya. Pulang ke rumah, oh, ia tidak mau melihat kakaknya menangis lagi.

Taesun adalah media terbaik menyalurkan luka. Terlalu buruk sepertinya perumpamaan itu, tapi kenyataannya memang begitu. Ia sadar, egonya terlalu tinggi. Memutuskan bisa menanggung sendiri bebannya memang keputusan yang tidak menguntungkan, ia akan terluka lebih banyak lagi. Dan lagi, terlalu banyak yang sudah dikorbankan Taesun demi dirinya.

Mungkin benar kata Onew, yang ia perlukan adalah teman. Dari mana ia akan memulainya? Teman-teman sekolah menengah pertamanya? Dari sekolah dasarnya kah? Atau mungkin ia bisa mencoba dari Kim Jongin, salah satu trainee SM yang kerap kali dijuluki sebagai kembarnya. Tapi hey, ia menepuk kepalanya lagi. Bagaimana dengan SHINee? Onew hyung yang selalu memanggangkan daging untuk bekalnya? Mengantarnya ke sekolah sekali-kali jika ia tak sibuk. Key yang selalu siap memberinya wejangan, dan mengukuhkan diri sebagai eomma kedua untuknya. Jonghyun yang tidak pernah bosan memberikan tips teknik bernyanyi. Dan juga Minho, hyung kesukaannya, berbesar hati mengajarinya bermain PES.

Senyumnya melebar demi kilasan wajah-wajah yang muncul satu persatu dalam benaknya. Bodoh, pikirnya. Ia terlalu sibuk dengan keangkuhannya untuk obsesi menjadi seorang pria yang salah dijabarkannya. Ia dibutakan oleh hasrat untuk melindungi diri sendiri, berusaha membodohi sekelilingnya dengan senyum palsu-meski Taesun tetap menjadi pengecualian. Dan akhirnya ia merutuki diri sendiri, ia sadar, dengan caranya ini ia tak akan berhasil menjadi namja. Cangkangnya akan ia pecahkan. Mulai dari detik ini, tidak ada lagi Taemin pendiam yang menipu diri dengan senyum palsu.

Jantungnya hampir meledak karena bahagia. Tiap langkah yang dijejaknya tak lagi seberat kemarin, dan Taemin pun memutuskan untuk pulang. Bukan ke rumahnya. Ia akan berjalan ke dorm, mungkin ia akan menyerah pada keletihan kakinya nanti dan segera memesan taksi.

Ia tidak berniat memakai syal ataupun kupluk. Sudah terlalu larut untuk dikenali orang sekelilingnya. Angin dibiarkan menampar pipinya, anggap saja sebagai hukuman untuk keegoisannya hingga Taesun menjadi zombi hidup –sebagaimana ia menyebut orang-orang yang membuang mimpi. Hingga ia memutuskan memasuki phone booth lalu menekan beberapa angka pada tombolnya.

“Yebosoyo…”

            “Hyung, aku tidak akan pulang ke rumah. Jadwal kami sangat padat, jadi…”

“Arayo…” Hening tercipta. Yang membuktikan jika percakapan mereka masih berlangsung hanyalah getaran elektrik suara berupa desah hembusan napas dari keduanya.

“Hyung, apa menurutmu aku menyebalkan?”

“Kau tahu jawabannya, Taemin.”

Taemin tersenyum. Bukannya membanggakan diri, tapi telepati yang tercipta memang mengisyaratkan Taesun mengatakan tidak sama sekali.

“Lalu kenapa semua orang membenciku?”

“Hey, bukankah kita sudah selesai dengan topik ini?” Tidak ada jawaban, lantas Taesun menarik napas dalam-dalam.

“Kau tahu ego manusia sangat besar kan? Gengsi sebanding lurus dengan itu. Terkadang, manusia terlalu menghargai diri sendiri, merasa diri yang paling hebat. Lalu, seseorang yang tidak kau kenal tiba-tiba saja dipuja banyak orang, muncul di TV, mendapat banyak cinta, dan bamm! Kepalamu hampir meledak karena rutukan, mendadak orang tuamu mulai mengajukan protes halus mengapa kau tidak bisa sedang temanmu berhasil. Jika mentalmu tidak kuat, maka kau akan diperdaya iri hati. Kesimpulannya, mereka tak membencimu. Mereka cemburu karena orang yang berada di panggung dan menaklukkan hati pemujanya adalah kau, bukanlah mereka sendiri.”

Kembali tersenyum, Taemin memainkan kabel keriting telepon dengan telunjuknya. Ia bahkan bisa membayangkan kakaknya sedang berada di depannya dan memberi petuah-petuah menenangkan itu. Yang entah mengapa, meski ia sudah mendengarnya beberapa kali tak juga hilang khasiatnya membalut luka yang terkoyak berkali-kali di tempat yang sama: hati.

            “Hyung…”

            Diantarkan diaphgram telepon dari salah satu rumah di Seoul, Taesun menekankan tanda tanya di akhir gumamnya. Fisik Taemin, meski dalam bentuk ilusi, hadir di depannya. Taesun tersenyum tipis sembari mengangkat kepalanya, tidak membiarkan bulir air lolos dari matanya. Dan lagi, ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam wawancara singkat eomma jika saja matanya memerah oleh tangis. Dalam sepersekian detik saja ia harus mengakui jika Taesun sangat merindukan Taemin. Detik berikut ia hampir mati bahagia demi pengakuan Taemin selanjutnya.

“Terima kasih untuk menjadi kakakku, Taesun hyung. Aku mencintaimu.”

****

            Taemin menangguhkan niat pulang ke dorm. Ditemani segelas kopi hangat ia menuntun kakinya berkeliling di kawasan Gangnam. Pendar cahaya berkilauan yang menonjolkan manekin terbalut baju-baju desainer ternama seakan menggodanya  untuk memasuki salah satu butik itu. Tapi ia bukanlah Key. Ia tidak berusaha untuk tak peduli, hanya saja ia sedang menikmati tahap penyembuhan diri selanjutnya. Toh, Onew sudah menetapkan perjanjian waktu malam sampai 11 menjelang promosi mereka untuk single terbaru Ring Ding Dong. Masih tersisa satu jam lagi.

            Seharusnya ia menikmati waktu luang yang dijadikan refleksinya itu, hingga petualangannya terhenti di ujung gang oleh erangan sakit seseorang yang membuatnya berdebat dengan keraguan. Tidak, ia hanyalah seorang bocah lemah. Menjadi pahlawan adalah keputusan yang sangat buruk. Lagi, ia tak berani memberi citra buruk bagi grupnya yang sedang ‘bersinar’.

Jadilah ia mengintip di balik tembok. Memilah prasangka-prasangka yang benar akan dua siluet yang saling berinteraksi dalam kekerasan itu. Beberapa kalimat ditangkapnya jika lelaki yang lebih besar meminta uang, salah satunya memohon berkali-kali untuk dimaafkan, hingga beberapa menit selanjutnya ia ditinggalkan sendiri setelah lelaki itu puas merebut sesuatu dari tangan si lemah, yang bisa ditebaknya dengan mudah jika itu adalah uang.

Lututnya melemas ketika tiga siluet lainnya yang lebih kecil berlari serempak memeluk lelaki yang terbaring lemas itu. Saksi bisu yang hadir di sana bukan dirinya saja. Taemin merasa matanya memanas, tidak sadar jika ia mulai mendekati keempatnya yang menangis tersedu dalam pelukan. Tidak sadar jika Taemin sudah berdiri di samping mereka dengan tatapan nanar.

“Oppa baik-baik saja, jangan menangis…”

Suara itu sangat ia kenali. Tanpa bantuan cahaya sekali pun, ia sudah bisa menebak jika lelaki yang terbatuk sesekali itu adalah seseorang yang sama melemparnya berkali-kali ke tumpukan sampah dan mengambil uang sakunya dengan paksa. Eun Jiwon.

****

            Taburan bintang di langit menjadi fokusnya. Railing besi menjadi sandaran lengannya, sedang tangannya yang bebas saling tertangkup saling membagi kehangatan pada tapaknya masing-masing.

            “Gomawo…”

            Tak memalingkan perhatian pada lelaki yang kini bergabung memuji salah satu keindahan alam itu dalam hati, tanpa sadar, tanpa perintah, otaknya kembali memutar rekaman lama masa lalu. Dan buk!

            Jiwon terpelanting. Korpuskula meissner di bawah kulit punggungnya berdenyut, menyampaikan rangsangan sakit melalui neuron pada otaknya, ditanggapi dengan gerakan refleks tangannya mengelus punggung yang mungkin sudah memerah. Pipinya kebas, tapi sulit baginya untuk menahan senyum ketika sebuah tangan terjulur di depannya.

            “Gomawo, sekali lagi,” katanya. Masih juga kehilangan keberanian untuk mengangkat kepalanya, lantas Jiwon menarik notebook kecil dari saku celananya. Ia menyodorkannya pada Taemin yang sibuk mencari penerangan demi mendapat petunjuk atas rasa penasarannya. Bingungnya bertambah ketika ditemukannya nama ‘Lee Taemin’ di sana, berikut dengan nama lainnya yang tak dikenal diikuti angka ribuan di belakangnya.

            “Aku bersumpah akan menggantinya nanti, termasuk beberapa nama yang sudah kucatat. Ya, meski aku tidak tahu harus bagaimana membayar luka-lukamu. Aku tahu minta maaf saja tidak cukup, jadi…”

            Diterpa keremangan sinar rembulan, Taemin bisa menangkap air mata mengalir di pipi Jiwon yang segera dihapusnya dengan punggung tangannya sendiri.

            “Laki-laki itu ayahku. Dia pemabuk dan suka memukuliku sejak ibuku meninggal tahun lalu, dan adik-adikku perlu makan. Aku mungkin tidak tahu diri, tapi aku mohon, maafkan aku… Aku tidak bermaksud…”

            Kali ini, Jiwon mengalah pada air mata yang tidak bisa dibendungnya lagi. Sedang Taemin tergugu. Sementara ia menyimak kalimat Jiwon, yang lebih menarik perhatiannya adalah dada Jiwon yang tak biasa. Segera ia menelisik leher Jiwon, tak ada tonjolan yang sama seperti miliknya. Secara naluriah Taemin melakukan apa yang kini dibutuhkannya dan Jiwon. Melingkarkan kedua lengannya di bahu Jiwon, membagi hangat ketika daun-daun mulai meranggas dari rantingnya.

            “Begini lebih cantik. Besok-besok, gunakan seragam sepantasnya. Jangan celana lagi,” katanya setelah pelukannya dilepas. Jiwon tertunduk lagi, lupa pada ketidaksadarannya melepas pengerat dadanya tadi termasuk rambut sepanjang bahu yang diurai bebas.

            “Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat.”

            Taemin menggoda Jiwon dengan senyum yang selalu sukses membuat para penggemar menjerit, melihat betapa merahnya pipi Jiwon saat ini.

            “Kau harus menjadi temanku, noona.”

****

            Kendati Taemin mulai mempertanyakan kembali pada dirinya, siapa sebenarnya yang hendak dibodohi? Ketika ia pernah terjebak dalam penyesalan telah menjadi maknae SHINee, ketika kenyataan tak sebanding dengan yang dibayangkan, ketika ia merasa telah menjadi korban kemunafikan ego dan iri hati, dan ketika itu ia menyimpulkan. Ketika kau ingin mencapai sesuatu, kau harus mengorbankan yang lainnya. Ia mungkin kehilangan masa muda yang semestinya bisa ia nikmati sebagai siswa sekolah menengah atas, ia kehilangan kesempatan berbaur dengan sekelilingnya.

Dan ketika itu juga, pertanyaannya terjawab satu persatu. Ia sudah mengerti maksud ucapan Taesun kala itu. Sedikit demi sedikit, ia bisa mengerti perasaan ratusan siswa yang selalu mencegatnya di gerbang sekolah demi mengucapkan kata kasar padanya. Marahnya menguap seketika dan waktu itu ia sadar. Pengalaman, pilihan, ia tak pernah membelinya. Dan seharusnya ia bersyukur, bukan karena ia berhasil memberontak dari aturan-aturan kolot yang menuhankan kesuksesan itu. Tapi, karena ia terbebas dari jeratan lingkaran mimpi yang berhasil ia wujudkan dalam kehidupan nyata.

END

One thought on “Dream

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s