Prasangka

ceritanya lagi proses move on dari fanfiction trus belajar bikin fiksi original lagi😄

 

Kukira jantungku hampir meledak ketika kata deadline terus saja terngiang di kepalaku. Catatan keuangan yang sudah rampung sejak kemarin menghilang. Ingatanku masih segar betul, tak menyangka sama sekali jika buku bersampul merah itu menghilang dari mejaku. Di saat genting begini, prasangka mulai bermain, menduga penyebab lenyapnya buku itu.

Lim, asisten tidak becus itu pastilah dalangnya. Ia pasti menaruh dendam padaku atas perintah-perintahku. Oh, tidak. Atau mungkin Husni. Lelaki itu pasti ingin menyingkirkanku dari jabatan. Aku bisa melihat ambisi yang sedemikian besarnya, sudah pasti ia bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan posisiku ini. Diyan juga bisa jadi, ia disebut-sebut sebagai kandidat terkuat penggantiku.

Ketika aku disibukkan oleh prasangka, mataku tak sengaja melirik pintu yang terbuka. Aku hampir muntab, hingga Pak Tarjo berjalan pelan ke arahku membawa sebuah buku bersampul merah. Petugas kebersihan kantor itu hampir kucerca, hingga ia menyodorkan buku itu.

“Buku Ibu ketinggalan di musalla kemarin. Saya pengen kasih, tapi Ibu keburu pulang,” katanya. Kutepuk keningku. Baru kuingat, aku memang singgah di musalla sebelum pulang.

Tubuh ringkihnya hampir hilang ditelan daun pintu. Terburu-buru kuselipkan lima puluh ribu dalam sakunya.  Tak lupa kuucapkan terima kasih. Juga tak akan kulupa, pagi nanti aku akan minta maaf pada Lim, Husni dan Diyan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s