Ikrar Sang Pembunuh

Ikrar Sang Pembunuh

@nurahboram

ikrarsangpembunuh

credit image: extension.org


Kaul sudah ia tetapkan: tidak akan ada siang yang terbuang percuma lagi. Di penghujung senja menjemput ia berjanji: wajahnya takkan lagi basah oleh air mata. Sayangnya, ikrar justru sekedar ucap saja. Terlalu banyak janji yang diingkar, hingga waktu tak lagi jadi kawan baik untuknya. Siang jadi musuh, malam pun selalu siap menjadi bumerang yang menghancurkan benteng pertahanan terakhirnya. Hingga sia-sia saja ia berusaha tegar, merapalkan mantra-mantra penguat hati yang dipikirnya bisa melalap habis luka.

Kecuali penyesalan, ia yakin tak ada yang berani menyentuh sanubarinya. Terlalu munafik untuk ditampik jika ia telah menghabiskan berpuluh tahun bersama luka. Tak surut jua pembangkangannya pada realitas betapa ia membenci keputusan yang pernah diambilnya. Sayang, pengecut sudah tersamar jadi tabiat mendarah daging. Dan hiduplah ia dalam bayang-bayang sesal.

Satu-satunya penghibur hanyalah selembar foto kecil berkualitas rendah. Garis-garis yang hadir dalam lembaran kertasnya hanyalah hitam dan putih. Tepiannya sudah terkikis oleh perjalanan waktu. Menguatkan persepsi bagi siapapun yang melihat jika foto itu sudah melalui lebih dari satu generasi.

Sudah berapa anaknya? Cucunya? Tak tahu malu ia, pikirnya. Puluhan penerusnya sudah hadir, tapi tetap saja ia abdikan diri pada pemilik wajah dalam foto itu. Kemudian ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Masih hidupkah lelaki itu? Mungkinkah lelaki itu hidup bahagia bersama keluarga barunya? Atau mungkinkah kebahagiaan semu juga merekat dalam sisa-sisa hidupnya, sama seperti wanita renta yang kini lagi-lagi terisak dalam diamnya?

Ditertawakannya diri sendiri. Menyimpulkan betapa ia, seorang wanita yang bahkan gusinya kini hanya dihiasi gigi palsu tetap dihantui oleh harapan yang jelas-jelas sudah mustahil terjadi. Setiap siang akan ada skenario yang tercipta khusus. Ia menjadi pemeran utama wanita dan lelaki itu akan menjemputnya dengan gagah berani. Memisahkannya pada keterpaksaan untuk tetap berpura-pura bahagia. Sungguh, betapa lelahnya ia menjalankan sandiwara ini selama berpuluh tahun.

Ia sedang di ujung asa, adegan-adegan yang terangkai dalam benaknya sudah selesai dengan akhir yang miris, mengembalikannya pada fakta jika ia tak akan bisa lari. Bahwa waktu tetap akan bergulir, matahari akan segera kembali ke peraduannya, dan dari cermin ia temukan pantulan sang suami menatap sendu.

Terlalu cepat untuk dicernanya, ketika lelaki itu segera menutup pintu setelah mengusap ujung mata dengan tangannya sendiri. Dalam sepersekian detik, saat dua pasang mata saling bertemu, ia segera sadar. Logika yang sempat runtuh terbangun kembali. Oh, betapa ia telah diperbudak ego.

Dan kemudian disimpulkannya sendiri. Bukan hanya ia saja yang hatinya mati. Suaminya, lelaki pendiam itu juga dibunuhnya dengan sadis. Bukan dengan pisau tajam, badik, ataupun senjata api. Tapi dengan persembahan kepalsuan yang ia reka sebagai cinta. Dan ia sang pembunuh kejam, mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Meski tak bisa menyembuhkan torehan luka yang sudah menyayat hati, ia teguhkan untuk meraih korek api di sudut meja.

Setelahnya ia berjanji. Kenangan sudah lenyap bersama sisa-sisa abu hasil pembakaran. Sesal sudah hilang dalam perbendaharaan kata. Kemudian ia keluar dari kamarnya, menghampiri lelaki yang sudah bersedia mengiringi jenjang waktu bersamanya. Membisikkan kalimat yang untuk pertama kali ia sebutkan sepanjang pernikahannya yang diijabkan dengan ketulusan hati.

Izinkan aku mencintaimu, untuk hari ini, dan untuk selamanya.

FIN


a cheesy ending😉

Semoga tulisan kali ini bisa dinikmati ♥♥

xoxo


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s