Ikrar Sang Pembunuh (2)

Mencoba menulis lagi setelah sekian lama vakum.

Semoga bisa dinikmati!❤

3a4b758fd54dad491babc9b7ca8bde6b.jpg

cp: clara lieu

Sisa darah masih melekat di tangan, menguap bau yang tak terkira busuknya ketika semilir angin sesekali menghampiri. Mual perutnya, tapi lidah pun menolak bahkan untuk melenguh. Perhatian dialihkan dari tangannya, lantas ia jadikan langit sebagai sasaran kekesalan ketika matanya menatap garang pada bentangan luas di atas sana. Tak ada bintang. Tak ada bulan. Awan hitam sedang berkuasa, simpulnya.

Hitam pekat di atas sana justru menguatkan kembali ingatannya akan tangis para wanita yang ia bekuk dengan simpul tali yang dipelajarinya semasa menjadi anggota pramuka. Sudah benarkah keputusannya? Dimana gerangan sang malaikat yang semestinya menghentikan tindak celanya? Oh, terlalu banyak hal yang dipertanyakannya hingga syaraf-syaraf halusnya mulai melakukan pergolakan hebat dan jadilah kepalanya pening untuk beberapa saat hingga ia tak sadar jika air tergenang di pelupuk matanya.


Kabutnya melebat, kepastian untuk tangisnya yang makin tak terbendung. Ingatannya kembali memainkan salah satu adegan yang berusaha ia lupakan dalam beberapa menit terakhir ini: lelaki yang sedang menangis di bawah lututnya. Ia tak pernah menyangka, betapa kalut yang menderanya selama berbulan-bulan justru dimusnahkan oleh tusukan bertubi-tubi yang dilayangkan di dada bidang lelaki itu. Oh, betapa ia menikmati momen-momen terakhir menjelang nyawa pelan-pelan terangkat dari tubuh lelaki itu.

Pikirnya, dendam terlanjur membara, tak lagi bisa dipadamkan meski dengan cara apapun. Terbujuk rayuan setan rupanya, lalu kemudian ia menggeleng pelan tanda tak setuju. Ia sudah terlanjur jadi setan sejak ia juga ikut menikmati hasil rampasan yang jelas-jelas bukan haknya.

Kemudian ia tertawa. Lalu menangis. Tertawa lagi. Tersedu. Terakhir ia meraung, hingga orang-orang yang kebetulan lewat lari ketakutan.


Dua jam sudah berlalu sejak ia merapatkan diri di bawah temaram bulan yang kini memunculkan pucat fasadnya dari balik awan. Melesat kembali dalam kenangan, potongan-potongan adegan berkelebat satu persatu.

“Kenapa harus mengurusi orang lain, lagipula selama ini kau hidup karena siapa?” ujar sang ayah tanpa beralih dari surat kabarnya.

“Sok suci!”, cerca sang kakak, “Sok baik!”, lanjut si bungsu.

Ia terenyuh mendapati dirinya dicaci sedemikian rupa setelah protes yang ia ajukan di sarapan pagi ini.

“Jangan lakukan lagi, berikan hak mereka,” pintanya sekali lagi.

Entah ini pertanda baik atau buruk, sang ayah meletakkan bacaannya di atas meja sembari menatapnya tajam.

“Aku bekerja keras untuk mereka. Aku bersusah payah mendapatkan tanda tangan ketua dewan. Apa salahnya jika kutambahkan sedikit pada tabunganku?” Tubuhnya mengejang.

“Memangnya kau tau apa, Lastri? Kau pikir donor tetap di ormas kalau bukan kami ya siapa? Ia kalah telak. Masih bergelimang kalimat protes dalam hati, sayang, harapan terakhirnya diruntuhkan oleh lirikan sinis sang ibu-wanita yang sudah mengajarkannya kebaikan hati pada sesama. Lihat saja, betapa uang telah membutakan mata mereka!

Mendadak hembusan angin menamparnya keras-keras, mencerahkan kabut yang sebelumnya menghalangi pandangan dari dunia. Kembalilah ia ke alam nyata.

Mereka memang harus mati, teriaknya dalam hati. Mereka yang diperbudak oleh buai janjian fana kebahagiaan. “Sudah pantas bagi mereka!” teriaknya keras-keras memecah kesunyian malam. Hiburan yang tak membantu. Justru, lukanya semakin terkoyak.

Janjinya sudah terpenuhi. Tugasnya sudah selesai. Keempatnya yang menduduki kursi dewan itu sudah ia lenyapkan. Seluruh darah dagingnya sudah ia antarkan menuju dunia lain yang dipercayanya akan memberi pembalasan setimpal untuk mereka. Seluruh darah daging. Ia ulang kalimat itu berkali-kali. Ya, seluruhnya. Diliriknya layar ponsel yang memunculkan berita kasus korupsi yang dilakukan beberapa anggota dewan. Email berisi catatan keuangan keluarganya yang dikirimkan ke salah satu redaksi sudah sampai ternyata. Senyum merekah di bibirnya ketika artikel lain muncul dalam hitungan detik, mengisahkan pembantaian keluarganya sendiri.

Waktunya sudah tiba, bisik sang hati. Di sampingnya, pisau yang sempat terabaikan itu ia raih. Ditatapnya langit sekali lagi. Kemudian berkali-kali ia hujamkan ujung tajam itu ke dada, menembus sela rusuk, merobek kulit jantungnya.  Sesaat ia ambruk ke tanah, memuntahkan darah dari sela mulut. Hanya dalam hitungan detik, rasa sakit akan segera hilang, hiburnya lagi. Luka-luka fana akan segera lenyap. Dalam napas-napas terakhirnya, ia melihat kaki-kaki penuh darah menghampirinya. Empat pasang. Kemudian gelap.

Selesai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s